Aisha, Kisah Wanita yang Dipotong Hidungnya oleh Taliban

0
1,965 views
Wajah-Aisha-dengan-hidung-terpotong

Majalah Time mengangkat foto wajah Aisha dengan kondisi hidung terpotong sebagai cover, pada pertengahan 2010. Wanita asal Afganistan itu menjadi korban kekerasan kelompok Taliban.

 Ada perdebatan antara para redaktur majalah terkenal tersebut, apakah setuju, atau tidak untuk menjadikan wajah wanita malang yang dihukum Taliban itu sebagai cover.

 Perdebatan soal estetika dan kewajiban mengangkat kisah mengerikan itu, akhirnya berujung pada niat majalah Time memberitahukan pada dunia, betapa kejamnya perang, yang selalu paling banyak mengorbankan kaum perempuan dan anak-anak.

Kelompok Taliban (kelompok bersenjata yang menegakkan ajaran agama dengan cara keras dan puritan-red) menggedor pintu itu sebelum tengah malam, dan bermaksud menghukum Aisha, 18 tahun, karena lari dari rumah suaminya. Aisha kabur karena iparnya memperlakukan dia bak seorang budak. Aisha memohon, namun Taliban malah memukul tubuhnya.

Kepada wartawan Time, Aisha mengaku terpaksa kabur karena dia akan kehilangan nyawa jika tetap di rumah sang suami.

Seorang pria, yang ditunjuk sebagai “hakim” dalam memutuskan kasus Aisha, adalah seorang komandan Taliban, dia berdiri kaku. Saat sang hakim datang, tak disangka, kakak ipar Aisha sudah memegang tubuh Aisha, sementara suaminya mengeluarkan pisau dan mulai mengiris kuping wanita malang itu. Belum selesai perih luar biasa yang dialami Aisha, mata pisau lalu mengarah pada hidungnya…

Kejadian mengerikan itu dilakukan saat Taliban berkuasa. Dan bagi Aisha dirinya tak akan menerima keputusan pemerintah Afganistan, yang akan  melakukan perdamaian dengan kelompok Taliban itu. “Mereka orang-orang yang melakukan ini! pada diriku,” katanya sambal memegang wajahnya yang rusak.

Reza Gulf korban lain yang mengalami kekerasan., dengan hidungnya juga dipotong.

Juni 2010, Presiden Afganistan, Hamid Karzai berencana melakukan pembicaraan damai dengan kelompok Taliban. Kepada aktivis HAM, Tom Malinowski, presiden bertanya berapa harga yang harus dibayar bangsanya, jika terus berkonflik dengan kelompok bersenjata itu. “Apa yang lebih penting, melindungi hak kaum perempuan, agar mereka bisa bersekolah, atau menyelamatkan hidup mereka?” ujarnya.

Dan perang di Afganistan pun memasuki masa sembilan tahun, hingga akhirnya Amerika dan sekutu meninggalkan negeri yang tak lekang dari konflik berkepanjangan itu.

Kaum perempuan di Afganistan, negeri yang diperebutkan banyak negara itu, meringis ketakutan ketika tahu Amerika pergi dari tanah mereka selamanya.

Seorang wanita pengungsi asal Afganistan Mozhdah Jamalzadah, yang sekarang bermukim di Kanada, di acara tv Oprah Show, mengatakan dirinya pulang ke Afganistan untuk melakukan survei tentang hak-hak kaum perempuan di negaranya itu.

Yang dia dapati, sebuah candaan satir tentang kaum perempuan di Afganistan. Seorang pria dengan santai bercerita pada Mozhdah Jamalzadah, bahwa kaum perempuan di negeri ini, hanya boleh berjalan mengikuti sang suami dari belakang.

“Namun di lokasi yang dikuasai Taliban, kini perempuan bebas berjalan duluan di depan suaminya…,tapi itu lantaran jalan yang dilalui sang istri adalah tanah penuh ranjau mematikan,” kata pria itu sambil tertawa seolah hal itu lucu.

Untuk Mozhdah Jamalzadah, lelucon itu menjadi “tamparan” untuk perlindungan atas hak kaum perempuan. “Ketika kita berbicara tentang hak kaum perempuan, sebenarnya kita juga berbicara tentang kepentingan kaum laki-laki.”

“Di Afganistan, ketika kaum perempuan dikorbankan demi sebuah perdamaian, maka sebenarnya kepentingan kaum laki-laki juga dikorbankan, dan berujung pada pembiaran kaum fundamentalis (fanatik) berkuasa di negeri ini,” ucap Mozhdah Jamalzadah dengan sedih.

Aisha setelah mengalami operasi pada hidungnya.

*Kondisi Aisha telah membaik lewat operasi pada hidungnya. Kini dia hidup di Amerika. Namun, praktik mutilasi atau kekejaman pada kaum wanita, masih sering terjadi, khususnya di daerah terpencil di Afganistan, yang masih dikuasai kelompok Taliban.

(Time)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here