Rock Hudson, Aktor Gay Pertama Mati Karena AIDS

0
419 views
Wajah tampan Rock Hudson yang membuat banyak wanita terpesona

BarisanBerita.com,- Dunia di tahun 80-an digemparkan dengan kematian seorang legenda Hollywood, Rock Hudson. Pria tampan ini mengejutkan dunia karena setelah dirinya tiada, dan baru terungkap dia ternyata seorang gay alias penyuka sesama jenis.

Para pemujanya yang rata-rata kaum perempuan kecewa berat setelah tahu orientasi seks sang aktor. Bertahun-tahun mereka disihir oleh tampilan Rock Hudson, yang tampan dan macho. Penyakit mematikan Aids menerpa sang aktor dan menjadi pertama yang tewas karena penyakit mengerikan itu.

Rock Hudson dan Elizabeth Taylor dalam film Giant

Kamatian sang aktor saat itu mengejutkan semua pihak, termasuk maskapai penerbangan yang menolak menerbangkan Hudson. “Maskapai penerbangan tak mau membawa Rock Hudson setelah publik tahu dia terdianogsis Aids,” kata Wallace Sheft, mantan manajer sang bintang.

Rock Hudson meninggal pada tahun 1985 dalam usia 69 tahun. Masyarakat kala itu belum bisa menerima fakta tentang penyakit mematikan yang banyak menimpa kelompok homoseksual tersebut.

Kecurigaan tentang orientasi seks sang aktor pun merebak di tengah publik Amerika.
Kondisi Hudson yang makin melemah membuat publik dan media terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Satu tahun Hudson berobat di Paris dengan sembunyi-sembunyi, dia mengikuti perawatan untuk antiviral drug HPA-23. Namun setelah pengobatan tersedia di Amerika, sang aktor lebih banyak melakukan perawatan di negara asalnya tersebut.

Namun Sheft mengingat betapa mengerikannya membawa pulang Hudson ke Amerika. “Peristiwa itu menjadi mimpi buruk,” kenang Sheft.

“Maskapai tak mau membawa Hudson terbang karena dia terjangkit penyakit menular yang mematikan,” ujar Sheft.

“Perusahan penerbangan itu minta ongkos $250.000 untuk menyewa pesawat 747 agar bisa membawa pulang Hudson. Uang yang luar biasa besar kala itu. Perusahaan itu mengontak saya dan minta kepastian dana sudah ditransfer sebelum pesawat terbang,” ungkap Sheft.

Di Amerika, Hudson mendapat perawatan dari dr.Michael Gottlieb ahli HIV. Kepada sang pasien Gottlieb bertanya apakah penyakit yang diidap Hudson boleh diberitahu ke publik.

Sang legenda setuju. Hudson merasa publik berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi sekaligus memberi kesadaran tentang berbahayanya penyakit Aids.

“Press ingin tahu kondisimu. Apakah saya harus memberitahu mereka tentang Aids yang kau derita?” dan dia berkata,”Ya, jika kau pikir itu akan baik dampaknya.” Hudson tak pernah mengira kejujurannya bercerita tentang Aids akan membantu publik sadar ada penyakit yang sangat mematikan ini.

Pengungkapan atas penyakit yang diderita Hudson sekaligus menjadi akhir dari bayangan manis semua pemujanya. Mereka baru menyadari sosok yang begitu lekat dalam mimpi-mimpi mereka ternyata tak sesuai kenyataan. Mereka baru tahu, Hudson ternyata seorang gay.

Seminggu sebelum kematiannya, Hudson mengatakan pada Sheft bahwa dia ingin agar didirikan Yayasan untuk membantu penelitian bagi penderita Aids, dengan nama “Rock Hudson Memorial Fund for AIDS Research”.

Untuk yayasan itu, Hudson menyumbang dana $250.000, sama dengan uang yang harus dia keluarkan saat mencarter pesawat terbang dari Paris ke Amerika.

Saat kematiannya, rekan dan handai taulan datang memberi penghormatan terakhir, termasuk seroang pria Lee Garlington, 77 tahun, pensiunan pialang saham, yang kemudian kegambarkan sebagai “cinta sejati Hudson.”.

Garlington mengatakan selama bertahun-tahun dia merahasiakan hubungan sesama jenisnya dengan Hudson karena itu akan menjadi “bunuh diri” bagi karir sang aktor.

Untuk merahasiakan hubungannya, Garlington selalu datang diam-diam pada malam hari ke rumah sang kekasih, Hudson, dan keluar dari kediaman itu pukul 6 pagi.

Seorang pasien Aids menahan sakit sebelum akhirnya meninggal

Aids dan HIV yang Mengerikan

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit.

HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.
Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. Perlu diketahui, HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik.

HIV adalah penyakit seumur hidup. Dengan kata lain, virus HIV akan menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya. Meski belum ada metode pengobatan untuk mengatasi HIV, tetapi ada obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita.

HIV dan AIDS di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2019, terdapat lebih dari 50.000 kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, kasus HIV paling sering terjadi pada heteroseksual, diikuti lelaki seks lelaki (LSL) atau homoseksual, pengguna NAPZA suntik (penasun), dan pekerja seks.

Sementara itu, jumlah penderita AIDS di Indonesia cenderung meningkat. Di tahun 2019, tercatat ada lebih dari 7.000 penderita AIDS dengan angka kematian mencapai lebih dari 600 orang.

Akan tetapi, dari tahun 2005 hingga 2019, angka kematian akibat AIDS di Indonesia terus mengalami penurunan. Hal ini menandakan pengobatan di Indonesia berhasil menurunkan angka kematian akibat AIDS.
Gejala HIV dan AIDS

Kebanyakan penderita mengalami flu ringan pada 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV. Flu bisa disertai dengan gejala lain dan dapat bertahan selama 1–2 minggu. Setelah flu membaik, gejala lain mungkin tidak akan terlihat selama bertahun-tahun meski virus HIV terus merusak kekebalan tubuh penderitanya, sampai HIV berkembang ke stadium lanjut menjadi AIDS.

Pada kebanyakan kasus, seseorang baru mengetahui bahwa dirinya terserang HIV setelah memeriksakan diri ke dokter akibat terkena penyakit parah yang disebabkan oleh melemahnya daya tahan tubuh. Penyakit parah yang dimaksud antara lain diare kronis, pneumonia, atau toksoplasmosis otak.
Penyebab dan Faktor Risiko HIV dan AIDS

Penyakit HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus atau HIV, sesuai dengan nama penyakitnya. Bila tidak diobati, HIV dapat makin memburuk dan berkembang menjadi AIDS.

Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seks vaginal atau anal, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah. Meskipun jarang, HIV juga dapat menular dari ibu ke anak selama masa kehamilan, melahirkan, dan menyusui.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan adalah sebagai berikut:

Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan pengaman
Menggunakan jarum suntik bersama-sama
Melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup

Lakukan konsultasi ke dokter bila Anda menduga telah terpapar HIV melalui cara-cara di atas, terutama jika mengalami gejala flu dalam kurun waktu 2–6 minggu setelahnya.
Pengobatan HIV dan AIDS

Penderita yang telah terdiagnosis HIV harus segera mendapatkan pengobatan berupa terapi antiretroviral (ARV). ARV bekerja mencegah virus HIV bertambah banyak sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh.
Pencegahan HIV dan AIDS

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari dan meminimalkan penularan HIV:

Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah
Tidak berganti-ganti pasangan seksual
Menggunakan kondom saat berhubungan seksual
Menghindari penggunaan narkoba, terutama jenis suntik
Mendapatkan informasi yang benar terkait HIV, cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya, terutama bagi anak remaja.

(DM, Diazz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here