Secret Files: Kennedy Killed Marilyn Monroe

0
2,390 views

Marah besar

Namun ancaman, kekerasan seksual dan pemerasan tak membuat wanita ini tutup mulut. Hal itu malah membuatnya marah besar.

Monroe mengatakan pada sejumlah orang bahwa dia akan menceritakan tentang siapa sebenarnya Kennedy. Di majalah Time, satu hari sebelum tewas, Monroe mengatakan dirinya tak takut jika karirnya berakhir. “Kemansyuran akan berlalu. Lagi pula aku sudah memilikinya.”

Masih menurut Lawford, Bobby Kennedy memutuskan untuk bertemu Monroe pada 4 Agustus 1962. Bobby juga bertemu Lawford. Keduanya kemudian menuju rumah Monroe.

Ketika bobby meminta Monroe untuk menyerahkan buku hariannya, wanita itu naik pitam dan mengambil pisau di dapur sambil mengacungkannya ke arah Bobby. Dia mengusir Bobby.

Tapi besok paginya, Bobby dan Lawford kembali ke rumah Monroe. Mereka menemukan wanita itu tak sadarkan diri karena pengaruh obat dan alkohol. Namun Monroe masih bisa mengenali Bobby. “Apa yang aku inginkan?” teriak Monroe ke Bobby. “Aku tak mau diperlakukan seperti pelacur dan tak diperdulikan!”

Bobby terpancing, dia naik darah dan menampar Monroe. Belum puas, tangan Monroe kemudian dipelintir, namun wanita itu melawan dan balik menampar Bobby.

Giancana “Sam” Bos Mafia Chicago

Masih dengan marah, Bobby lalu mencari-cari buku harian Monroe. Sementara Lawford mengajak Monroe duduk di sofa dan berusaha menenangkannya. Tapi Monroe belum mau diam, dia berteriak lagi pada Bobby. Dengan emosi Bobby lalu mengancam Monroe. “tutup mulutmu!”

Lawford melihat Bobby menuju dapur. Dia mengikuti pria tersebut dan melihat Bobby sedang menuangkan sesuatu ke gelas berisi air putih. “Apa yang kau lakukan, Bob?” tanya Lawford.

“Tidak ada,” jawab Bobby.

Dua pria itu lalu menghampiri Monroe. Bobby menyuruh Monroe minum air dari gelas itu. “Minumlah, kau akan merasa baikan,” kata Bobby. Merasa bahwa minuman itu hanya berisi obat penenang, Lawford meyakinkan Monroe untuk meminumnya lagi. Wanita cantik itu meminumnya, namun terlihat tak suka dengan rasanya.

Bobby memaksa Monroe untuk menghabisi minuman itu. Monroe kemudian terdiam. Kedua pria itu lalu mencari buku harian Monroe, tapi tetap tak menemukannya.

Saat Bobby dan Lawford kembali menuju Monroe, terlihat wanita itu terlungkup dengan kepala menghadap kasur dan nampak seperti tidur lelap. Bobby berusaha membangunkan Monroe, tapi tak ada respon.

Sempat terdengar suara Monroe, tapi tak jelas. Bobby kembali memanggil nama Monroe, namun tetap tak ada respon.

“Apa yang sudah kau berikan pada Monroe?” tanya Lawford. Bobby tak menjawab. Dia hanya memandang ke arah Monroe.

Lawford lalu berusaha membangunkan Monroe. “Dia tak bernapas,” katanya. “Apa yang harus kita lakukan?”

“Tinggalkan dia,” kata Bobby. Saat mereka keluar rumah, ternyata ada dua pria yang berusaha masuk. Lawford mengira mereka adalah tetangga Monroe, tapi ternyata anggota secret service (pengawal presiden-red).

Salah jalan

Mengetahui Monroe tewas, Lawford panik. Kepalanya langsung merasa pening dan tubuhnya gemetar karena ketakutan. Namun dia harus segera mengantar Bobby pergi menuju bandara. Karena masih terkejut, Lawford salah mengambil jalan.

Peristiwa lalu lintas yang ganjil tersebut nantinya akan menjelaskan runtutan peristiwa di depannya.

Saat Lawford membawa mobilnya dengan kecepatan 70 kilomoter pada pukul 12.10 malam, tanggal 5 Agustus 1962, kecepatan itu dianggap melanggar peraturan, dan membuat detektif Lynn Fraklin yang bertugas melihat mobil tersebut, lalu berusaha menghentikannya.

Mobil Lawford menepi ketika diperintahkan Lynn. Saat mendekati pengendaranya, detektif Lynn kenal si sopir. “Hei Pete, apa yang kau lakukan,” katanya.

“Aku sedang mengantar Jaksa Agung ke bandara,” jawab Lawford.

Detektif Lynn lalu menyorotkan lampu senternya ke arah penumpang di kursi belakang.

Dia melihat Kennedy. “Dia terlihat tak gembira,” ingat Lynn. Polisi itu lalu mengatakan bahwa Lawford salah mengambil jalan. “Dasar bodoh,” teriak pria di kursi belakang.

Detektif Lynn menulis peristiwa itu dalam bukunya The Beverly Hills Murder File. Namun Rothmiller tak membutuhkan bukti yang dimiliki detektif Lynn karena dia sudah punya semuanya.

Peristiwa yang menarik perhatian Rothmiller setelah itu adalah dua kasus kecelakaan yang hampir menewaskan Lynn. Peristiwa itu terjadi satu tahun setelah kasus salah jalan yang melibatkan Lawford.

Di sisi lain, Bobby Kennedy tetap menyangkal dirinya berada di Los Angeles pada malam tragis itu. Dia mengaku sedang di gereja di San Francisco bersama istri dan anak-anaknya. Penyangkalan itu bertahan hingga kematian Bobby. Dia tewas ditembak.

Obat dari CIA

Di saat Bobby sedang menuju bandara, polisi LAPD melakukan pemeriksaan di rumah Monroe. Mereka menemukan buku harian aktris terkenal itu. Mereka juga membawa gelas yang diberikan Bobby ke Monroe. Mayat Monroe lalu difoto.

Dari hasil pemeriksaan forensik, ditemukan obat penenang seperti Nembutal, dan chloral hydrate dalam tubuh Monroe. Namun Rothmiller yakin obat yang diberikan Bobby mengandung bahan kimia mematikan. Kemungkinan obat itu diberikan ke Bobby oleh CIA. Obat yang pada saat itu masih sulit dilacak.

Sejak peristiwa itu, hidup Lawford penuh depresi. Dia meninggal karena alkohol pada tahun 1984. Namun, Rothmiller tak pernah ragu pada pengakuan Lawford.

“Selama bertahun-tahun dalam mengintrogasi korban maupun pelaku,” kata Rothmiller, ”Saya sudah banyak melihat bagaimana mereka merespon pertanyaan. Sangat jelas saat mengintrogasi Lawford, dia terlihat begitu stress karena menanggung beban dan rasa bersalah selama bertahun-tahun. Rasa bersalah itu yang kemudian merusak karir dan dirinya sebagai manusia.”

“Tapi setelah pengakuan itu, dia merasa nyaman dan tenang. Dia telah melepas beban yang selama ini terpaksa ditanggungnya.”

(Daily Mail/Prabowo, Bobby)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here