Taliban: Tak Ada Sekolah untuk Perempuan

0
425
Murid SMA di Afganistasn saat masih diperbolehkan bersekolah

BarisanBerita.com,- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan sangat kecewa dengan keputusan Taliban yang tetap menutup sekolah menengah bagi perempuan di Afghanistan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, menggambarkan, langkah Taliban itu sebagai tindakan yang sangat merusak bagi anak perempuan dan masa depan Afghanistan.

“Sekjen PBB sangat menyesalkan pengumuman otoritas Taliban di Afghanistan bahwa pendidikan anak perempuan dari kelas enam ke atas telah ditangguhkan sampai pemberitahuan lebih lanjut.

“Kegagalan otoritas membuka kembali sekolah bagi anak perempuan, meskipun ada komitmen berulang, merupakan kekecewaan yang mendalam dan sangat merusak bagi Afghanistan,” kata Dujarric.

Untuk itu, kata Dujarric, Guterres menyerukan agar Taliban membuka kembali lembaga pendidikan tanpa penundaan lebih lanjut.

Seorang juru bicara Kementerian Pendidikan Taliban mengatakan kepada wartawan bahwa sekolah-sekolah menengah akan tetap ditutup sampai rencana “komprehensif” dan “Islami” disusun.

Sebelumnya, pada Rabu (23/03), Taliban mengurungkan keputusan untuk membolehkan anak perempuan kembali ke bangku sekolah menengah, dengan alasan masih memikirkan soal seragam yang harus mereka pakai.

Mestinya sekolah di seluruh Afghanistan akan dibuka hari Rabu (23/03), menyusul penerapaan pembatasan yang dikeluarkan Taliban sejak kelompok ini mengambil alih kekuasaan tujuh bulan lalu, pada Agustus 2021.

Namun, tiba-tiba saja Kementerian Pendidikan mengumumkan sekolah menengah untuk anak-anak perempuan belum akan dibuka, keputusan yang memicu kebingungan.

Pengumuman di menit-menit membuat anak-anak menangis karena kecewa.

Keputusan dikeluarkan sepekan setelah Kementerian Pendidikan Afghanistan mengatakan semua murid, termasuk siswa perempuan, akan kembali bersekolah mulai Rabu (23/03).

Aktivis Mahouba Seraj, pendiri Jaringan Perempuan Afghanistan, mengatakan dirinya tak habis mengerti mengapa Taliban berubah pikiran.

Ia mempertanyakan mengapa tiba-tiba saja keputusan pembukaan sekolah dibatalkan karena urusan seragam.

Ia mengatakan seragam murid-murid perempuan selama ini tak menjadi masalah karena para siswi semua mengenakan hijab. Ia juga mengatakan di sekolah menengah ada pemisahan kelas antara siswa laki-laki dan perempuan.

Masyarakat internasional menuntut anak-anak perempuan dibolehkan bersekolah sebagai sayarat pencairan dana bantuan.

Seraj mengatakan, masyarakat internasional harus tegas dan menyatakan, “Jika tak ada pengakuan [atas hak-hak perempuan], maka tidak akan ada uang bantuan. Titik.”

Misi PBB di Afghanistan mengatakan “mereka sangat kecewa dengan pengumuman Taliban”.

Sejumlah diplomat mengatakan penutupan sekolah menggerus kepercayaan terhadap Taliban.

Utusan khusus AS, Rina Amiri, mengatakan langkah Taliban “memupus harapan para orang tua yang menginginkan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak perempuan mereka”.

(BBC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here