Virus Polio Mengancam, Bagaimana Cara Menghindarinya?

0
188
Imbauan waspada Polio

Sebanyak tiga anak di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah dilaporkan menderita lumpuh layu akut (acute flaccid paralysis/AFP) yang disebabkan oleh Virus Polio Tipe 2. Selain itu, dari hasil lab di wilayah sekitar mereka, terdapat sembilan anak lain yang dinyatakan positif walau tidak menunjukkan gejala.

Untuk menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) polio itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio secara serentak di seluruh wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mulai 15 Januari 2024.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu, mengatakan kemunculan KLB polio ini disebabkan oleh rendahnya cakupan imunisasi, lingkungan yang tidak bersih, dan perilaku masyarakat yang tidak sehat.

Rendahnya cakupan imunisasi vaksin polio itu, menurut epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Riris Andono Ahmad, juga tidak lepas dari pengaruh dinamika sosial dan politik yang menyebabkan terjadi penolakan di beberapa kelompok masyarakat, lalu diikuti pandemi Covid-19, serta menurunnya kampanye vaksin polio ke masyarakat.

Apa itu penyakit polio dan bagaimana penyebarannya?

Maxi menjelaskan polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan menyebabkan gangguan syaraf seperti terjadinya kelumpuhan permanen terutama pada bagian tubuh tungkai bawah, disebut sebagai lumpuh layu.

Penyakit ini terutama menyerang anak-anak, khususnya mereka yang belum mendapat imunisasi lengkap.

Virus Polio terdiri dari 3 strain (tipe) yaitu strain-1 (Brunhilde), strain-2 (Lansig), dan strain-3 (Leon), termasuk family Picornaviridae.

Virus polio yang ditemukan dapat berupa virus polio vaksin/sabin, virus polio liar/WPV (Wild Poliovirus) dan VDPV (Vaccine Derived Poliovirus) yaitu virus vaksin yang bermutasi.

Maxi menambahkan virus ini bereplikasi di usus (saluran pencernaan) dan dapat keluar melalui tinja yang kemudian bertahan hidup selama beberapa waktu di air dan tanah.

“Jika tinja itu menyebar di lingkungan secara sembarangan dan anak-anak bermain di situ atau menggunakan air [tertular] sebagai sumber minum, maka bisa menginfeksi anak yang tidak memiliki kekebalan tubuh [belum mendapatkan imunisasi polio atau imunisasinya tidak lengkap],” kata Maxi.

Ketua Komnas Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas PP KIPI) Hinky Hindra Irawan Satari mengatakan jika feses itu tidak dikelola dengan baik maka akan menciptakan lingkungan yang membuat virus berkembang dan bahkan bermutasi.

“Jika terkena anak-anak yang tidak kebal maka akan jadi sumber persemaian virus lagi,” ujar Hinky.

Masa inkubasi virus polio biasanya memakan waktu tiga hingga enam hari, dan kelumpuhan terjadi dalam waktu tujuh hingga 21 hari, di mana kebanyakan orang yang terinfeksi (90%) tidak menunjukkan gejala.

Bagaimana cara terhindar dari penyakit polio?

Epidemiolog Riris menegaskan bahwa imunisasi adalah alat yang paling utama untuk terhindar dari polio.

Setiap anak harus mendapatkan empat kali vaksin oral dan dua kali vaksin suntik, sebelum usia satu tahun, sehingga kekebalan tubuh melawan polio terbentuk.

Untuk itu, Dirjen P2P Kemenkes Maxi berharap agar setiap orang tua di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kabupaten Sleman, Yogyakarta membawa anaknya menerima imunisasi dalam sub-PIN yang digelar dalam dua putaran, yaitu pada 15 Januari 2024 dan 19 Januari 2024..

“Sasaran adalah anak usia 0-7 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, sekalipun sudah lengkap harus diberikan lagi imunisasi. Tempat pelayanan di puskesmas, posyandu, PAUD, TK, SD, dan pos imunisasi lainnya di bawah koordinasi puskesmas,” kata Maxi.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk buang air besar di jamban, cuci tangan dengan sabun sebelum makan serta setelah buang air.

(BBC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here