Manuver Gatot Jelang Peringatan G30S PKI

0
487 views
Ilustrasi

Politics hates a vacuum. If it isn’t filled with hope, someone will fill it with fear

— Naomi Klein

Jakarta, BarisanBerita.com,- Menjual “ketakutan” banyak dilakukan politisi guna meraih simpati, atau menggerus rasa percaya pada penguasa.

Modus seperti itu sepertinya dipakai mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, yang rajin mewanti-wanti publik tentang bahaya gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kali ini, kembali Gatot membuat ramai dengan ucapannya tentang penyusupan gerakan PKI di tubuh TNI.

Tak main-main, sang Jenderal mengatakan dia punya bukti “gerakan” tersebut. Gatot mengatakan, hilangnya diorama G30S PKi dan patung Pahlawan Revolusi di Markas Kostrad.

Hilangnya diorama G30S PKI dan patung Pahlawan Revolusi di Markas Kostrad disampaikan Gatot Nurmantyo di acara webinar Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita Korps Alumni HMI pada Minggu (26/9/2021) malam.

Menurut Gatot Nurmantyo diorama G30S PKI yang hilang dari Markas Kostrad adalah diorama saat Pangkostrad saat itu Mayjen Soeharto memerintahkan Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo untuk menumpas PKI.

Pada diorama itu terlihat Mayjen Soeharto berdiri di hadapan Sarwo Edhie lalu di sebelahnya ada Jenderal AH Nasution yang duduk sambil memegang tongkat.

Dikutip dari YouTube Hersubeno Point, Gatot Nurmantyo mengatakan mendapat informasi hilangnya diorama G30S PKI dan patung Pahlawan Revolusi di Markas Kostrad.

“Khusus untuk di ruangan Pak Harto ini kan mencerminkan penumpasan G30S PKI. Dikendalikan Pak Harto di markasnya dan setelah selamat di Pangkostrad. Pak Sarwo Edhie yang di lapangan,” kata Gatot.

Pihak TNI yang kemudian membantah hilangnya patung tokoh pemberantas PKI itu sebagai kesengajaan.

Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) membantah pernyataan Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengenai hilangnya diorama penumpasan G30S PKI di Museum Darma Bhakti Kostrad.

Dalam sebuah webinar, Gatot Nurmantyo mengabarkan hilangnya diorama penumpasan G30S PKI dari Museum Darma Bhakti Kostrad.

Diorama penumpasan G30S PKI yang hilang di Museum Kostrad menurut Gatot Nurmantyo adalah patung Mayjen Soeharto saat memberi perintah penumpasan G30S PKI terhadap Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo dan patung Jenderal AH Nasution.

Kepala Penerangan Kostrad Kolonel Inf Haryantana menyatakan Kostrad tidak pernah membongkar atau menghilangkan patung sejarah (penumpasan G30S/PKI) Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad.

“Tapi, pembongkaran patung-patung tersebut murni permintaan Letnan Jenderal TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution sebagai pembuat ide dan untuk ketenangan lahir dan batin,” kata Haryantana dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin (27/9/2021) dikuti9p dari ANTARA.

Haryantana mengatakan hal itu untuk mengklarifikasi adanya pemberitaan dalam diskusi bertajuk “TNI Vs PKI” yang digelar Minggu (26/9/2021) malam.

Dalam diskusi itu, mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo menduga adanya penyusupan kembali pendukung PKI ke tubuh TNI.

Indikasi itu dibuktikan dengan diputarkannya video pendek yang menggambarkan hilangnya sejumlah bukti-bukti penumpasan G30S/PKI di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad.

Menurut Kol Haryantana, Kostrad tidak mempunyai ide untuk membongkar patung Presiden Kedua RI Soeharto, Letjen TNI Sarwo Edhie, dan Jenderal AH Nasution yang ada dalam ruang kerja Soeharto di Museum Dharma Bhakti, di Markas Kostrad.

Ia menyebut ada permintaan sebelumnya dari Letnan Jenderal TNI Azmyn Yusri Nasution selaku pembuat patung-patung itu.

Azmyn, menurut Haryantana, meminta langsung kepada Pangkostrad Letjen TNI Dudung untuk dapat menyerahkan patung-patung tersebut kepadanya.

“Patung itu yang membuat Letjen TNI (Purn) AY (Azmyn Yusri) Nasution saat beliau menjabat Pangkostrad, kemudian pada tanggal 30 Agustus 2021 Pak AY (Azmyn Yusri) Nasution meminta kepada Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurrahman untuk diserahkan kembali pada Letjen TNI Purn AY (Azmyn Yusri) Nasution,” ujarnya pula.

(Ant/wo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here