Si Kepala Batu Israel dan Alasan Trauma Masa Lalu

1
274
Tentara Israel

Barisanberita.com,- Arogansi Israel terhadap Palestina menjadi tontonan mengerikan abad 21 ini. Paska perang Dunia Kedua, tak ada pertumpahan darah yang begitu barbar dibanding apa yang dipertunjukan negara Israel ini. Darah dari anak bayi dan anak-anak yang tak berdosa pun tak menggemingkan hati nurani mereka.

Kekerasan yang dilakukan, kata para petinggi Israel, salah satunya bekas Direktur Mossad Meir Dagan, adalah untuk menunjukan mereka tak akan lagi diam seperti apa yang dialami leluhur mereka yang dibantai oleh Hitler dan tentara Nazi-nya. Meir Dagan berbicara pahit seperti itu sambil memperlihatkan foto kakeknya yang ditembak mati tentara Nazi.

Ada alasan lain mengapa negara zionis ini sangat tega saat berperang melawan bangsa Arab, semisal Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin yang tewas dibunuh bangsanya sendiri usai menandatangani perjanjian damai dengan palestina.

Di mata Barat, Rabbin dianggap juru damai, namun di ingatan warga Arab, pria tua itu dikenal dengan julukan “penghancur tulang”.

Rabbin saat muda sempat menjadi tentara dan memerintahkan pasukannya untuk mematahkan tulang orang Arab yang berhasil ditangkap.

Daya tega orang Israel juga dianggap akibat perlakuan diskriminatif ratusan tahun oleh bangsa Eropa. Dalam banyak literatur disebut orang Yahudi sebagai pemakan anak dan pembunuh Yesus.

Stigma ini melekat abadi hingga tahun 30-an dan membuat posisi mereka termarjinalkan.

Hal itu ditambah lagi dengan ajaran keras dari kitab suci mereka. Di dalam kitab Talmud menyebut sikap agresif sebelum dibunuh oleh lawan.

Sejumlah alasan ini dianggap pembenaran bagi Israel untuk membantai lawan mereka, khususnya bangsa Palestina. Dan sejak tahun 1948 aksi kekerasan pun mewarnai wajah dua kubu ini.

Dan hal paling spesial yang membuat bangsa Israel jadi kejam setajam pecahan batu ini adalah sokongan Amerika dan sekutunya.

Bangsa Barat masih terlilit trauma masa lalu saat perang dingin dengan Uni Soviet, dan hingga kini dianggap hal tersebut belum selesai, sekaligus mereka tak ingin kehilangan dominasi di jazirah arab.

Faktor yang paling inti adalah kemampuan Israel “menjual dan memeras via holocoust (pemusnahan)” kepada bangsa Eropa, agar terus membantu apapun kebutuhan negara zionis ini. Hasilnya, triliunan dollar Amerika mengalir ke Israel sehingga menjadikan negara kecil ini begitu perkasa dan menakutkan bangsa Arab.

Ini juga sekaligus sebuah ironi akibat ketidakmampuan bangsa Arab bersatu, dan begitu tergantungnya pada Amerika serta sekutunya, membuat bangsa Palestina berperang sendiri hingga hari ini.

Redaksi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here