You are the one

0
339
You are the one

Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it’s the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It is the only thing makes us feel alivePhotograph

BarisanBerita.com,- Ini untuk kedua kalinya dia datang dan menyentuh bahuku,”Rosie, cepat makan siang, ini sudah waktunya,” katanya sambil menatapku yang begitu sibuk menekan papan ketik di depanku.

Aku tak ingat, waktu makan siang memang sudah lewat tujuh menit, namun seperti biasa aku tak lega meninggalkan pekerjaan yang belum tuntas. Dan kebiasaan ini yang sering membuat lambungku bergejolak karena asam lambung meninggi.

Baru dua bulan aku bergabung di perusahaan ini. Mereka, rekanku, asyik dan juga kadang menyebalkan. Namun, kami begitu sibuk untuk terlalu lama bermain dengan rasa hati. Semua serius menghabiskan waktu menatap layar komputer, mengemas semua tugas hari-hari.

Dan Stan yang tadi menegurku untuk beristirahat dan makan siang, adalah pria dengan tampilan santai dengan rambut sebahu, yang aku kira cukup menarik—sebenarnya sangat menarik.

Stan, pria baik yang tak sembarang memberi perhatian pada lawan jenisnya (Itu pengamatanku selama dua bulan ini). Aku seprtinya merasa beruntung menjadi salah teman wanita yang dia beri perhatian.

“Orangnya super cuek soal asmara, namun soal berderma perhatian, kau jangan ragukan dia. Stan punya ruang cukup luas di hatinya untuk berbagi kebaikan,…mirip Santa-lah,” bisik si bawel Marry berbicara padaku setelah menangkap basah tatapanku pada Stan.

Perhatian Stan bukan hanya sesaat. Kala Rosie tak masuk kerja, Marry memberitahu bahwa Stan tampak cemas dan sempat bertanya kemana Rosie. “Rosie sakit?” kata Marry menirukan kata-kata Stan, dengan suara berbisik hampir tak terdengar. Rosie tertegun. “Saat terbaring sakit di tempat tidur, aku pun memikirkanmu, Stan,” kata Rossie hampir terdengar suaranya oleh si bawel Marry.

Memang terlalu cepat Rosie merasa suka pada Stan, namun baru kali ini dia tersentuh oleh perhatian tulus dari seorang pria. Mereka laki-laki yang pernah dekat dengan Rosie kala dulu, tak begitu perhatian padanya. “Aku cuma kekasih yang menutup lubang di hati mereka,” ingat Rosie yang kerap disebut wanita cantik bermata indah oleh dua mantan kekasihnya.

Rosie segera melupakan rasa sukanya pada Stan. “Cukup Rosie, kau terlalu suka padanya. Kau belum sembuh dari lukamu,” ingatnya. Rosie segera menatap layar komputer di hadapannya.

Dia tak lagi ingin menjejalkan pikirannya tentang Stan. Cukup.

Namun, Stan tak pernah memalingkan perhatian pada Rosie, wanita manis dengan kelopak mata indah. “Rosie…ada hal yang ingin kusampaikan. Kau mirip Natalie, kekasihku yang meninggalkanku. Ya…Natalie pergi dan tak akan kembali,” kata Stan dalam hati, dan tak akan dia ungkap pada siapapun.

Untuk melepas kenangan yang muram itu, Stan berusaha melepas rasa rindu pada wanita itu. “Andai kau di sini,” senyap dalam hatinya.

Namun, mata Stan tak bisa lepas memandang Rosie, sambil menahan rasa pedih di hatinya. Dia berusaha mendekati wanita manis dengan kelopak mata indah itu, namun semakin dia berusaha, semakin rasa pedih itu mendera. “Ah…Natalie andai kau di sini. Akan ku pandang matamu pekat, tak akan ku lepas. Aku rindu…Nat.”

Ini Jumat, dan semua orang terlihat tak sabar menghabiskan sisa-sisa tenaga di ruang kerja. Termasuk aku, kata Rosie tersenyum sendiri. Dia taruh tas kerjanya, dan mulai menyalakan komputernya. Rutinitas yang makin memabukan bagi Rosie. Dia tak lagi berusaha memandang Stan. Pria itu tak lagi bersikap seperti lalu. Dia tak memberi perhatian padanya. “Dan aku pun memang tak lagi peduli,”kata Rosie.

Dan waktu berlalu cepat.

Senin: Rosie tak memandang Stan karena pria itu tak berada di tempatnya.

“Ross, kau tak merasakan ada yang kosong di ruangan ini,” tanya Marry.

“Aku tak paham,” jawabnya.

“Stan pergi. Dia mengundurkan diri,” jawab Marry.

Senyap…

“Dia memberimu surat ini,” tutur si cerewet Marry, sambil menyorongkan surat dalam amplop biru.

Rossie membukanya:

Rossie,

Aku berharap kau sehat dan tetap cantik dengan kelopak mata indahmu.

Aku tahu tak pantas memberimu surat ini karena kita tak lama kenal. Namun, entah kenapa aku ingin sekali memberitahu ini.

“Kau mengingatkanku pada kekasihku. Tapi aku tak ingin mengenalmu lebih dalam karena akan banyak sakit hati untuk itu.”

Tetap cantik, Ross, tetap cantik dan aku tak bisa melupakan mata indahmu.

Stan

Rossie terdiam, dan menutup surat dengan kata-kata indah dari Stan.

Rossie menggenggam erat surat dari Stan, sambil mengusap air mata di pipinya.

(DM/Diazz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here