Indonesia Lampu Merah, Ajaran Terorisme Makin Merasuk ke Mahasiswa

0
191 views
Tersangka oknum mahasiswa UB terindikasi terpapar ajaran terorisme

BarisanBerita.com,- Bahaya terorisme terus diwaspadai. Tak makin surut, ajaran radikal berselimut agama ini masuk ke kalangan calon intelektual, mahasiswa. Pemerintah pun tak tinggal diam, jaringan intelijen dimaksimalkan untuk mencegah potensi berbahaya tersebut.

Seorang mahasiswa di Malang ditangkap Densus 88 Antiteror pekan lalu. Pendidikan antiradikalisme yang digelar untuk mahasiswa baru dianggap ‘tidak mengena’ dan ‘tidak efektif’.

Senin (23/05), telepon seluler Makky Kriswanto, Ketua RW 6 Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang berdering.

Di ujung telepon, seseorang yang mengaku dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror memintanya datang ke sebuah rumah kontrakan di wilayahnya.

Sesampainya di rumah yang dimaksud, Makky mengatakan, sejumlah polisi bersenjata laras panjang telah berjaga. Polisi juga menutup pintu masuk ke kawasan perumahan.

“Saat itu jam satu siang. Saya diminta polisi menyaksikan penyitaan barang bukti di kamar IA,” katanya kepada jurnalis.

IA, 22 tahun, yang menghuni kamar kos tersebut, adalah mahasiswa semester enam jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB).

Dia diringkus oleh Densus 88 Antiteror sebagai terduga pelaku terorisme.

“Terduga sudah tidak ada, sudah ditangkap polisi. Saya diminta menyaksikan penggeledahan,” kata Makky.

Kamar kos itu berukuran sekitar 2,5 meter kali 2,5 meter. Di dinding kamar, menempel sebuah bendera berwarna dasar hitam di tengah berwarna putih dengan beraksara arab bertuliskan kalimat tauhid.

Dua helai bendera serupa ditemukan di dalam lemari, beserta pakaian taktikal bermotif loreng. Polisi juga menemukan sebuah senapan laras panjang, busur serta beberapa anak panah.

“Tempat peluru rusak. Peluru tidak ada. Senapan plastik atau senapan beneran, saya tidak tahu,” ujar Makky.

Dari dalam kamar kos, polisi menyita sejumlah buku propaganda, kitab, flash disk, paspor, dan komputer jinjing. Penangkapan dan penggeledahan berlangsung cepat, sekitar satu jam.

“Saya kaget, ini pelajaran bagi saya, paling tidak punya data anak kos di RW sini,” tukas Makky kepada wartawan Eko Widianto yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Ahmad Ramadhan dalam konferensi pers menyampaikan IA diduga berperan mengumpulkan dana untuk membantu Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia.

Dia juga diduga mengelola media sosial untuk menyebarkan materi propaganda ISIS dan tindak pidana terorisme.

“Ia berkomunikasi intens dengan tersangka MR, anggota JAD [Jamaah Ansharut Daulah]. Mereka merencanakan amaliah [aksi terorisme] di fasilitas umum dan kantor polisi,” katanya Selasa (24/05).

IA ditangkap berdasarkan bukti dan keterangan dari MR, tersangka terorisme yang sudah terlebih dahulu ditangkap. Penyidik Densus 88 Antiteror, kata Ahmad, kini tengah menyelidiki dan mengembangkan kasus tersebut.

Ekstrem di media sosial

Dia juga diduga mengelola media sosial untuk menyebarkan materi propaganda ISIS dan tindak pidana terorisme.

“Ia berkomunikasi intens dengan tersangka MR, anggota JAD [Jamaah Ansharut Daulah]. Mereka merencanakan amaliah [aksi terorisme] di fasilitas umum dan kantor polisi,” katanya Selasa (24/05).

IA ditangkap berdasarkan bukti dan keterangan dari MR, tersangka terorisme yang sudah terlebih dahulu ditangkap. Penyidik Densus 88 Antiteror, kata Ahmad, kini tengah menyelidiki dan mengembangkan kasus tersebut.

Ekstrem di media sosial

Di kampus, IA disebut tak aktif dalam organisasi intra maupun ekstrakurikuler.

Hanifah Rahmati, aktivis mahasiswa yang bergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), mengaku terkejut dengan penangkapan IA.

“Kaget, mahasiswa HI terlibat terorisme. Selama ini tak ada paham radikalisme di dalam kampus,” katanya, menambahkan bahwa selama ini ia juga tak menemukan kelompok diskusi ekstrem di UB.

Meski begitu, dalam wawancara dengan sebuah media lokal, seorang teman IA menyebutnya kritis dan ‘tertarik dengan tema Timur Tengah’.

Yusli Effendi, dosen Universitas Brawijaya beranggapan, IA telah memiliki pandangan radikal sejak SMA.

“Belum tentu terpapar di kampus, banyak kelompok radikal yang menyasar siswa sejak SMP dan SMA. Tak bisa hanya menyalahkan UB,” katanya.

Pada 2018, BNPT merinci sejumlah kampus yang dicurigai menjadi tempat persemaian bibit radikalisme, yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

“PTN itu menurut saya sudah hampir kena semua [paham radikalisme], dari Jakarta ke Jawa Timur itu sudah hampir kena semua, tapi tebal-tipisnya bervariasi,” kata Direktur Penanggulangan BNPT kala itu, Brigjen Pol Hamli.

Survei terbaru yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2020 menemukan adanya potensi radikalisme pada generasi muda, yakni generasi Z sebanyak 12,7%; millennial sebesar 12,4%; dan generasi X sebesar 11,7%.

“Yang disasar ini anak muda, jadi bukan lagi yang tua-tua. Bagi [kelompok teroris] yang tua itu masa lalu, tapi masa depan mereka adalah generasi muda,” kata Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Polisi Boy Rafli Amar, seperti dikutip dari Antara.

BBC Indonesia juga pernah menuliskan kesaksian mahasiswa yang pernah mengikuti proses perekrutan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) dan mahasiswi yang nyaris terjerumus dalam kegiatan kelompok NII, cikal bakal kelompok teroris lain seperti Jamaah Islamiyah (JI) dan JAD.

Sumber: BBC Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here