Melihat Kehebatan Pendidikan di Finlandia

0
114 views
Pendidikan di Finlandia

Finlandia memiliki sistem pendidikan yang terkenal maju di dunia. Reputasi tersebut sudah terkenal hingga Indonesia.

Bila melihat hasil skor PISA yang rilis akhir tahun lalu, murid Finlandia masuk 10 besar di bidang sains dan membaca. Ini tentunya mengejutkan jika menimbang bahwa Finlandia tidak punya ujian nasional untuk kelulusan.

Finlandia memiliki sistem pendidikan yang terkenal maju di dunia. Reputasi tersebut sudah terkenal hingga Indonesia.

Bila melihat hasil skor PISA yang rilis akhir tahun lalu, murid Finlandia masuk 10 besar di bidang sains dan membaca. Ini tentunya mengejutkan jika menimbang bahwa Finlandia tidak punya ujian nasional untuk kelulusan.

Finlandia pun sebetulnya mendukung Indonesia untuk meniadakan ujian nasional, sebab ujian seperti itu membuat murid fokus lulus saja ketimbang fokus belajar.

Namun, ada juga kabar yang beredar di media sosial bahwa Finlandia tidak memberikan pekerjaan rumah (PR). Bagaimana faktanya?

Duta Besar Finlandia Jari Sinkari berkata kabar itu tidak benar. Finlandia masih memberikan PR bagi para anak didik.

“Itu tidak benar. Kami masih punya PR,” ujar Dubes Sinkari.

PR masih dianggap penting dalam proses belajar. Meski demikian, Finlandia tetap fokus pada kegiatan di sekolah.

“Tapi idenya adalah kamu harus melakukan sebanyak mungkin ketika belajar di sekolah,” ujar Dubes Finlandia.

Tidak Mendukung UN

Dubes Sinkari juga mendukung langkah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk menghapus ujian nasional. Menurutnya, metode seperti ujian nasional malah mencekik sistem pendidikan.

Pasalnya, sekolah merupakan tempat untuk belajar, sementara ujian nasional malah mendistraksi para murid dan guru supaya murid bisa lolos ujian itu.

“Jadi dalam satu sisi ide baik dari ujian nasional menjadi gampang sesat. Malah jadi beban. Kamu malah belajar untuk ujian. Ujian yang harusnya membantu sistem, malam mencekik sistem karena murid malah hanya belajar hanya untuk ujian,” kata Dubes Sinkari.

Tak hanya soal UN, di Finlandia juga tidak ada ulangan harian atau ujian nasional. Negara Finlandia justru percaya kalau ulangan dan ujian ini akan menghancurkan tujuan belajar siswa. Siswa nantinya malah semata-mata hanya ingin lolos ujian dan menghafal, bukan mengerti arti sesungguhnya dari pelajaran yang diberikan.

Satu-satunya ujian dilakukan oleh para siswa di Finlandia ketika mereka berumur 16 tahun. Ujian ini dilakukan untuk mengetahui kualifikasi para siswa nantinya di perguruan tinggi. Sangat berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia yang malah mengadakan ulangan hampir setiap hari.

Menurut orang-orang Finlandia, ulangan dan ujian yang berlebihan ini justru membuat siswa jadi kehilangan minat dan bakat. Anak-anak di sana tidak hanya diasah otaknya saja, tetapi juga kemampuan bertahan untuk menjadi pribadi yang independen dan selalu ingin tahu.

Sekolah-sekolah di Finlandia tidak main-main dalam memilih guru. Di sana, profesi guru jauh lebih dihargai dan dihormati ketimbang profesi lainnya seperti dokter atau insinyur. Soalnya, orang yang bisa masuk dan mengajar dalam sekolah itu harus termasuk dalam kelompok 10 besar lulusan terbaik di perguruan tingginya. Kalau engga, jangan harap bisa jadi guru, ya.

Para guru ini bertanggung jawab penuh atas kurikulum dan program yang berjalan di setiap sekolah. Mereka hanya menghabiskan empat jam sehari di kelas untuk mengajar. Selain dipilih lulusan terbaik, guru-guru ini juga diberi waktu dua jam per minggu untuk pengembangan profesional. Keren banget, kan?

Karena guru dianggap sebagai profesi mulia, pemerintah Finlandia pun nggak nanggung-nanggung untuk memberikan subsidi pendidikan master bagi mereka. Tesisnya pun sudah pasti dipublikasikan. Pemerintah berinvestasi gila-gilaan untuk tenaga para pengajar karena mereka sadar para guru inilah yang akan menjadi penentu generasi masa depan negara mereka.

Sistem pendidikan di Finlandia juga membagi satu guru saja untuk tiap 12 siswa. Supaya, guru bisa memerhatikan siswa secara khusus. Untuk kelas sainsnya, tiap kelas hanya dibatasi sekitar 14-16 orang agar praktek laboratoriumnya berjalan lebih intens.

Di Finlandia, para guru ingin setiap anak menganggap bahwa dirinya pintar. Mereka berasumsi bahwa semua murid bisa meraih rangking 1. Tidak perlu ada perbedaan jenjang karena perbedaan itu justru malah akan membuat para siswa jadi merasa terdiskriminasi.

Para guru di Finlandia juga menghindari untuk bilang ‘kamu salah’ sama murid-muridnya. Mereka merasa kalimat menyalahkan itu malah akan membuat mental para siswa jadi ‘ciut’ dan takut untuk mencoba.

Para siswa juga tidak akan diminta membandingkan nilainya dengan teman-temannya. Nggak ada tuh yang namanya ‘tukeran soal’ untuk diperiksa bersama-sama. Guru di sana akan mengajak siswa membandingkan hasil kerjanya yang baru dengan hasil kerjanya yang lama. Proses ini dilakukan untuk memperlihatkan pada siswa seberapa besar progres belajarnya.

Dan di Finlandia menerapkan sistem belajar 45 menit belajar, 15 menit istirahat? Mereka juga hanya menghabiskan sekitar 4-5 jam saja setiap harinya di sekolah. Orang-orang di Finlandia percaya kalau setelah belajar, otak harus diberi waktu istirahat. Sebab, pada waktu istirahat inilah siswa akan menyerap kemampuan yang baru saja diajarkan dan bisa membangun fokus baru lagi untuk pelajaran lainnya.

Jam belajar pun jadi produktif karena para siswa bersemangat dengan waktu istirahat yang akan disambutnya setiap akhir pelajaran. Pada jam bermain, siswa juga aktif bergerak dan bermain. Tidak cuma tubuh jadi sehat karena aktif bergerak, siswa pun bisa mengembangkan minat dan bakatnya yang ada di luar mata pelajaran.

Perbandingan penduduk di Finlandia dan Indonesia juga patut menjadi pertimbangan.

Jumlah penduduk Finlandia yang tidak terlalu besar bisa membuat mereka dengan mudah mengatur sistem pendidikan jadi rapi. Berbeda dengan Indonesia yang punya jutaan penduduk dan banyak pulau. Belum lagi daerah-daerah terpencil yang sulit terjamah.

(BBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here