FBI: Pembunuhnya, Orang Negro

0
68
Meja untuk eksekusi mati

BarisanBerita.com,- Forensic profiler (perinci forensic) di FBI menjadi salah satu unsur dalam memecahkan masalah kejahatan. Profesi ini meski tak masuk dalam nomenklatur jabatan resmi di FBI, tapi memiliki fungsi sangat penting di lembaga pembasmi kriminal tersebut.

Seorang wanita tewas terbunuh. Tubuhnya bersimbah darah dan dia diperkosa. Korban ternyata seorang pegawai FBI.

Roy Hazelwood sedang menikmati makan siang bersama rekan kerjanya. Namun usai menghabiskan makanan, atasan mereka datang dan meminta agar bersiap menuju satu tempat. Sebuah helikopter tiba menjemput Hazelwood dan rekannya.

Mereka menuju ke San Antonio, lalu diantar ke apartemen korban pembunuhan bernama Donna Lyn Vetter. Mereka sampai di lokasi pada pukul lima sore, waktu Texas.

Sebagai seorang forensic profiler, Hazelwood dan rekannya diperintahkan untuk melengkapi ciri-ciri pelaku, yang kemudian akan dipresentasikan pada pukul sembilan esok hari. Sekitar seratus agen penyidik FBI dikerahkan untuk mengejar si pelaku.

Sebagai ahli forensic profiler (penciri forensic), Hazelwood berkewajiban untuk mengetahui seluruh tempat kejadian perkara (TPK), termasuk kondisi korban.

Di TKP, tubuh Donna tergeletak di dekat ruang keluarga, berlumuran darah. Pemandangan yang mengerikan.

Dari semua yang dilihat dan diamatinya, Hazelwood lalu mengeluarkan analisanya. “Pelakunya, orang negro (kulit hitam),” kata Hazelwood kepada rekannya Jim Wright.

Karl Hammond pelaku pembunuhan dan pemerkosaan

“Hazelwood, kau tidak bisa bilang seperti itu,” ujar rekan lainnya. “Kau kan baru sampai di sini (TPK).”

Apa yang dikatakan Hazelwood tentang ras si pelaku, bisa disebut sebagai firasat. Hal ini sulit dijelaskan, namun setidaknya berdasarkan pengalaman dan jam terbang, Hazelwood mampu menyimpulkan hal tersebut tanpa penjelasan lebih lanjut—seperti angin yang mengalir begitu saja.

Di lokasi kejadian, pembunuh Donna meninggalkan banyak jejak. Hal ini memudahkan polisi mengambil strategi untuk menginvestigasinya.

Kasus Donna kemudian menjadi salah satu contoh kasus pembunuhan dan pemerkosaan, yang diutarakan Hazelwood ketika memberi kuliah di FBI.

Keadaan yang dilihat di TKP sungguh mengerikan. Korban, Donna Lyn Vetter, bersimbah darah. Tubuhnya tergeletak di ruang keluarga usai diseret dari dapur.

Saat tewas, Donna berusia dua puluh empat tahun. Dia lulus SMA tahun 1982.

Tahun 1986, Donna pindah ke San Antonio, Texas, agar bisa dekat dengan kantornya di FBI.

Di mata teman-temannya, sosok Donna dikenal sebagai perempuan irit, naif, dekat dengan kegiatan keagamaan, tapi kurang bersosialisasi. Donna juga diketahui tak punya hubungan khusus dengan pria.

Dua hal yang digemarinya, menjahit dan mengunyah permen karet.

Donna tinggal sendiri di lantai satu apartemen. Lingkungan di apartemen tersebut dikenal sebagai daerah rawan kejahatan. Populasinya terdiri dari 70 persen keturunan Amerika Latin, 20 persen negro, dan 10 persen kulit putih.

Donna punya segalanya, namun dia ceroboh dalam memandang lingkungan sekitar. Itu mungkin karena dirinya yang naif sehingga tak hati-hati pada potensi ancaman yang mengintai.

Steve Harris seorang penjaga keamanan di apartemen mengatakan, Donna selalu sendiri saat pulang kantor. Dia membiarkan jendelanya terbuka saat sedang menjahit, sehingga orang di luar dapat melihat apa yang dilakukannya.

Donna pernah mengatakan sengaja membuka jendela karena dia tak suka pendingin ruangan.

Untuk menambah analisanya, Hazelwood juga mendapat informasi bagaimana sikap korban dalam menjalani kehidupannya. Ayah Donna Vetter disebut mengajarkan sang putri untuk melawan jika ada yang mengganggunya, termasuk dalam mempertahankan keperawanannya.

Steve Harris yang juga menjadi saksi pertama di TKP mengatakan, saat ditemukan, mata korban terlihat terpejam dan bengkak. Tangan dan tubuhnya terluka oleh benda tajam.

Tubuh Donna benar-benar terluka serius. Darah masuk membanjiri paru-parunya. Pelaku berhenti ketika korban sekarat dan kemudian merudupaksa. Kabel telepon juga diputus.

Pelaku kemudian kabur lewat jendela dengan menaiki kursi. Dia juga meninggalkan jejak tangan di pot yang dipegangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here