Goodbye, mylove

0
206 views
Love

“Nobody has ever measured, even poets, how much a heart can hold.”

–Zelda Fitzgerald

BarisanBerita.com,- James Garish menghabiskan waktunya dengan bekerja. Umur 14 tahun dia keluar dari sekolah dan bekerja serabutan, hingga akhirnya melamar di Angkatan Darat.

Saat sendiri di tahun 2021 ketika bertugas di Irak, pikirannya terpaku pada nama seorang perempuan yang dikenalnya saat dia sekolah di taman kanak-kanak (TK). Elizabeth Stipkovits, nama perempuan tersebut. “Bagaimana kabar kamu, Elizabeth,” tanya Garish dalam hati.

“Aku sendiri heran kenapa memikirkan perempuan bernama Elizabeth itu,” kata Garish yang berusia 34 tahun. Dia kemudian berhasil menemukan keberadaan teman TK-nya itu.

Elizabeth masih tinggal di kota yang sama dengan Garish, di ­Mc­Keesport, Pennsylvania, Amerika. Wanita ini berkerja di sebuah perusahaan swasta. Garish lalu mengajak pertemanan dengan Elizabeth di Facebook.

Bagi Elizabeth, nama Garish tak ada dalam benaknya. ”Siapa pria ini?” ujar wanita yang telah bercerai dan memiliki putri bernama Maleena. Namun tanpa disangka, ibu Elizabeth kenal siapa James Garish.

“Ibuku bilang, Garish itu teman kamu waktu di TK,” kata Elizabeth menirukan ibunya. “Oh aku ingat.”

“Itu si Bandel Jimmy, yang selalu diteriaki oleh guru karena kenakalannya di kelas,” kenang Elizabeth.

Peristiwa pertemanan di facebook itu terjadi delapan tahun lalu, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Mereka jatuh cinta.

Namun pada 2014, empat tahun setelah mereka bertemu, Elizabeth (31) dinyatakan dokter terkena kanker payudara stadium satu.

Malang nasib Elizabeth, kanker di tubuhnya makin meluas. Di tahun 2017 kanker masuk ke stadium dua dan menyebar hingga ke otak. Garish menemani Elizabeth dan setia mendampingi.

“Sinar kemotrapi berdampak pada daya ingatku,” kata Elizabeth,” tapi Garish selalu mengingatkan kalau dirinya jatuh cinta padaku sejak TK.”

Tapi karena tugasnya sebagai tentara, Garish tak banyak waktu menemani Elizabeth. Dia kembali harus menjalankan tugasnya ke luar negeri.

Elizabeth paham betul apa yang dirasakan Garish, jauh dari keluarga dan orang yang dikasihinya. Ayah Elizabeth sendiri seorang pensiunan tentara di Georgia. “Kadang kau butuh seseorang untuk melepas beban yang ada,” jelas Elizabeth.

Dan Elizabeth merasa senang bisa menjadi tempat Garish mencurahkan isi hatinya. Pada Natal 2010, Garish membuat kejutan dengan datang tiba-tiba ke teras rumah Elizabeth. “Waktu itu malam hari, gelap, dan Garish mendatangiku. Senang rasanya,” ungkap Elizabeth.

Tahun berikutnya tugas Garish selesai. Dia punya banyak waktu menemani Elizabeth dan putrinya Maleena, bermain serta mewarnai gambar. Saat itu Elizabeth masih sehat dan bekerja.

Tak mudah bagi Garish yang mantan tentara untuk masuk ke kehidupan normal. Dia butuh waktu untuk beradaptasi. Pelan tapi pasti dia bisa mengatasinya.

Perhatian Garish pada anak-anak begitu besar meski dia belum pernah menikah. Suatu hari Garish mendonasikan uang gajinya sekitar 600 dolar ke Yayasan Jami’s Dream Team untuk membantu seorang bocah laki-laki yang mengalami kelumpuhan.

Di sisi lain, kondisi Elizabeth makin memburuk. Perempuan ini harus memakai alat bantu pemicu jantung untuk menopang hidupnya. Dan Garish menganggap inilah waktu yang tepat untuk memberikan hadiah terindah bagi kekasihnya. Dia melamar Elizabeth. ”Maukah menikah denganku?” bisik Garish.

Elizabeth tergelak, “ini momen yang lucu. Aku di rumah sakit dan sedang sekarat,” tutur Elizabeth, sambil memandang Garish, dia berkata, “kau mau nikah denganku karena mengincar uang asuransiku ya?” keduanya tertawa mendengar candaan itu.

Namun sebenarnya dalam hati Elizabeth merasa sangat senang. Bagi semua perempuan, adalah impian terindah ketika seorang mengajak menikah. “Seperti dalam dongeng, aku memimpikan saat indah itu. Dan aku berbisik dalam hati, jika ada pria yang mau menikahiku, aku pasti mau.”

Sementara, ada berita buruk menghampiri Elizabeth, tagihan rumah sakit makin membengkak karena dia sudah lama tak bekerja.

Namun diam-diam, tanpa diketahui Elizabeth, seorang pekerja sosial, Lori Mckown, yang bertugas di rumah sakit tersebut, menggalang bantuan untuk wanita malang tersebut. Sejumlah penduduk tempat Elizabeth dan Garish tinggal tanpa ragu ikut membantu. “Aku kenal Garish, pria baik hati yang menyumbangkan uangnya untuk membantu seorang bocah,” kata mereka. “Kami harus membantu impian Garish yang akan menikah dengan kekasihnya.”

Di bulan Februari 2017, suasana di sebuah gereja begitu meriah. Ternyata di dalamnya digelar acara pernikahan antara Elizabeth dan Garish. Mimpi mereka menjadi kenyataan.

Para donatur menyumbang acara pernikahan itu dengan kue pengantin, bunga, dan juru foto profesional. Sebanyak 200 tamu menghadiri hari bahagia Elizabeth dan Garish.

Sebenarnya, kondisi Elizabeth makin memburuk. Tubuhnya melemah dan sulit bernapas. Air mata membasahi pipi Elizabeth.

Namun, Garish membuat suasana tersebut menjadi lebih hidup ketika dia memberikan potongan kue pengantin ke istrinya, Elizabeth. Sang istri berusaha berdiri, menerima pemberian Garish.

Ayah Elizabeth melihat dengan tersenyum dan haru. ”Baru kali ini aku melihat putriku begitu semangat,” katanya.

Namun, pasangan ini tak bisa menikmati kebahagian seutuhnya karena kondisi kesehatan Elizabeth. Kepada sang suami, Elizabeth berkata,”saat mengucap sumpah, yang ada di dalam diriku hanyalah doa jangan sampai aku dan Garish berpisah, kecuali kematian yang memisahkan.”

Catatan editor: Satu hari sebelum mereka merayakan dua bulan pernikahan, Elizabeth menghembuskan napas terakhirnya. Elizabeth wafat di rumah dengan dikelilingi anggota keluarga, dan Garish yang memegang erat tangan alm istrinya.

(The WP/Febri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here