Melawan Narkoba di Kampung Kubur

0
1640
Ilustrasi narkoba

Di saat terpuruk dalam hidupnya, Aminurasyid yang mantan bandar narkoba di Medan bertekad untuk mengubah citra kampungnya. Ia kerap disepelekan tapi upayanya mulai berbuah.

Suara anak-anak terdengar riuh rendah mencoba latihan panjat dinding di sebuah perkampungan di pinggir sungai yang dulu terkenal sebagai sarangnya bandar narkoba. Mereka begitu antusias mencoba beragam permainan yang tersedia di sana walau matahari begitu terik.

Panjat dinding tengah jadi primadona karena baru dibuat sejak Kampung Kubur bertransformasi menjadi Kampung Sejahtera. Lokasinya di Kelurahan Petisah Tengah, Medan, Sumatra Utara, yang puluhan tahun punya citra buruk dan sering dianggap sebagai wilayah tidak layak huni.

Salah satu anak yang sedang bermain mengaku senang bahwa, kini, di tempatnya bermukim ada permainan panjat dinding. Sebelum itu, sehari-hari ia habiskan dengan bermain gawai atau membantu orang tuanya menjaga warung.

Beberapa dinding kampung dihias mural berisi pesan positif tentang bahaya narkoba. Pelatihan-pelatihan sering diadakan, melibatkan anak-anak dan orang tua. Di perkampungan ini juga tersedia wahana susur sungai, yang bisa dinikmati secara oleh siapa pun.

Perubahan positif di kampung ini dipelopori Aminurasyid, mantan bandar narkoba yang kini telah tobat. Sebelumnya ia adalah penguasa jaringan penjualan ganja dan sabu di wilayah ini. Jual beli barang terlarang ini ia lakoni selama 13 tahun.

DW Indonesia berkesempatan mengobrol dengannya. Secara terbuka, pria berusia 39 tahun ini mengaku berhenti terlibat narkoba saat hidupnya di titik nadir.

Uang berlimpah dari cara yang salah

Rasyid mengaku butuh waktu belasan tahun untuk bisa berhenti berdagang narkoba, ketergantungan akan uang yang berlimpah menjadi faktor utamanya. Dulu, tindakan kriminal itu dia tutupi dengan kedok sebagai dermawan.

“Walaupun seperti itu, saya tetap berbagi, setiap Selasa memberi ke anak yatim dan Jumat ke orang jompo. Saya maling (jual narkoba, red.) di sana tapi tetap buang kebaikan ke sana. Uangnya ya dari narkoba,” kenangnya.

Usai mengatakan itu, Rasyid menghentikan kalimatnya selama beberapa detik. Intonasinya berubah, begitu pun gestik tubuhnya.

“Saya bolak-balik digerebek tapi lepas, sampai pernah dipenjara delapan bulan, tapi tidak jera. Saat anak tiba-tiba jauh, kehidupan rumah tangga hancur, dimusuhi orang-orang di lingkungan ini karena seorang provokator, itu menjadi titik jenuh dan benar-benar gelisah, akhirnya saya pergi,” ungkapnya.

“Sempat menyesal meninggalkan dunia (narkoba) itu, tapi saya tidak akan pernah kembali…. Jalannya mulus, tapi ini jalan yang salah,” kata laki-laki yang sehari-hari dipanggil Rasyid ini.

Kampung Kubur jadi Kampung Sejahtera

Nama kampung tempat Rasyid tinggal tadinya disebut Kampung Kubur karena kawasan yang terletak di inti Kota Medan ini pernah jaya sebagai lokasi peredaran narkoba yang sangat bebas pada 2000-an. Lokasi ini juga pernah jadi tempat judi sampai akhirnya dicap kawasan angker.

“Tapi itu dahulu, sekarang Kampung Kubur sudah berubah nama menjadi Kampung Sejahtera, yang diinisiasi masyarakat setempat,” imbuhnya.

Pada tahun 2014 Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) hilir mudik melakukan penggerebekan dan penangkapan di kawasan ini. Lalu tahun 2019 Kampung Sejehtara bertransformasi dengan membuka area bermain anak, pemberdayaan keterampilan masyarakat lewat beragam pelatihan. Namun narkoba belum sepenuhnya hilang dari peredaran.

Rasyid bersama warga setempat masih berusaha merubah stigma kampungnya. Namun kenyataan seringnya tidak semulus impian. Ragam penolakan terus terjadi, utamanya dari bandar narkoba yang dulu jadi pesaingnya.

“Saya akui, peredaran narkoba di sini belum 100 persen hilang, tapi saya yakin bisa hilang, karena sekarang sudah menurun 80 persen,” ucapnya kembali.

Kini ia punya mimpi besar menjadikan Kampung Sejahtera sebagai kawasan bebas narkoba yang masyarakatnya mandiri secara finansial dari kegiatan legal. “Targetnya dua tahun Kampung Sejahtera jadi percontohan kampung lain yang masih menjadi tempat peredaran narkoba,” imbuhnya.

Warga tidak lagi hidup dalam ketakutan

Kepada DW Indonesia, salah seorang penduduk kampung tersebut yakni Marlija mengaku sudah 45 tahun tinggal di kawasan ini. Dulu pada masa peredaran narkoba sedang jaya-jayanya, Marlija sering ketakutan akan nasib keluarganya.

“Tetangga kanan, kiri, depan dan belakang rumah jual narkoba, tidak mungkin tidak takut, sempat kepikiran untuk keluar. Tapi sebagai penduduk setempat, yakin saja semuanya akan baik-baik saja,” tuturnya.

Ia berharap Kampung Sejahtera keluar dari stiga buruk. Baginya apa yang dilakukan saat ini sudah baik. “Jauh perubahannya sudah,” ucap ibu empat anak ini.

Marlija sehari-hari berdagang, sedangkan suaminya bekerja sebagai petugas keamanan gedung. Kebanyakan mata percarian masyarakat di Kampung Sejahtera memang pedagang, karyawan swasta, dan buruh lepas.

Berdayakan ekonomi warga kampung

Memang ada harapan besar yang sedang dibangun di Kampung Sejahtera, yakni menjadi tempat layak huni, aman dan bebas dari peredaran narkoba. Untuk bisa mewujudkan itu, Rasyid tidak muluk-muluk. Hal utama dilakukan adalah mendorong peningkatan perekenomian masyarakat.

“Saya mendorong masyarakat di sini meninggalkan narkoba, tapi menyuruh tanpa memberikan solusi itu ‘kan konyol,” ujar Rasyid.

Salah satu upaya masyarakat setempat untuk memberdayakan ekonomi yakni dengan membuat bank sampah. Nantinya masyarakat yang menyerahkan sampah rumah tangga akan diberi voucher yang bisa dipakai untuk berbelanja.

Voucher itu pun hanya bisa dipakai berbelanja di kampung ini, jadi perputaran uangnya akan di sini-sini aja, semuanya akan saling keterikatan,” kata Rasyid.

Pembentukan bank sampah adalah usaha yang realistis mengingat di kawasan ini ada 400 kepala keluarga yang per harinya menghasilkan rata-rata satu kilogram sampah rumah tangga per keluarga. Pengolahan sampah juga jadi upaya untuk mengurangi kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai yang sering menjadi penyebab banjir.

Terletak di antara masjid dan jembatan bersejarah

Kampung Sejahtera lokasinya memang strategis. Kawasan ini juga terbentang di tiga kecamatan yaitu Medan Petisah, Medan Baru dan Medan Polonia. Selain berada di pusat Kota Medan, kampung ini juga terletak di dekat beberapa situs sejarah. Sebut saja Jembatan Kebajikan, Masjid Ghaudiyah dan Kuil Shri Mariamman.

Jembatan Kebajikan di kawasan Zainul Arifin dibangun pada 1916 untuk mengenang jasa Tjong Yong Hian, seorang mayor yang pada masanya dianggap sebagai pemimpin tertinggi masyarakat Tionghoa di Medan.

Situs sejarah lain adalah Masjid Ghaudiyah, yang dibangun sekitar tahun 1800-an dan dianggap sebagai simbol peradaban masyarakat India muslim di kota itu. Sementara Kuil Shri Mariamman diakui sebagai kuil Hindu pertama di Medan.

Camat Medan Petisah, M Agha Novian, menyadari adanya transformasi yang terjadi di Kampung Sejahtera saat ini.

“Perubahan positif yang terjadi saat ini diinisiasi oleh kemauan masyarakat, jika tidak tentu sulit. Saya pikir ini cara yang tepat, tinggal bagaimana mencurahkan dukungan,” ujarnya saat DW Indonesia berkunjung ke kantornya.

Melihat potensinya yang begitu besar, Agha setuju jika kawasan ini didorong menjadi daerah tujuan wisata kota, tempat kuliner, dan edukasi terpadu. Warga juga tampaknya setuju.

Dinding perkampungan sudah dilukisi mural, ditumbuhi tumbuhan rambat, lampu hias. Warga berusaha agar kampung mereka terlihat indah saat orang-orang melintas. Mereka pun berharap, masyarakat di sekitar kampung akan datang berkunjung dan meramaikan kampung mereka dengan beragam kegiatan positif.

(DW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here