Di Jepang Penggunaan HP Sambil Berjalan Makin Membahayakan

0
215 views
Penggunaan ponsel di Jepang
BarisanBerita.com,- Sebuah kecelakaan fatal yang dialami seorang pejalan kaki yang tengah melihat telepon pintarnya telah mempertegas betapa kecanduan ponsel dapat memberikan konsekuensi yang mematikan. Saat ini, otoritas berupaya mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada satu malam di bulan Juli, seorang wanita berusia 31 tahun tampak berjalan di sebuah perlintasan kereta di Tokyo dan berhenti sambil terus melihat ponselnya.

Tayangan kamera keamanan menunjukkan wanita itu tetap melihat layar ponselnya meski palang pintu perlintasan telah diturunkan dan sirene tanda kereta akan lewat telah dibunyikan.

Ia tewas di tempat.

Polisi yang mengkaji tayangan kamera keamanan memperkirakan wanita itu mengetahui kereta akan melintas, tetapi menganggap dirinya telah berada di tempat yang aman.

Profesor Emeritus Kozuka Kazuhiro dari Universitas Teknologi Aichi mengatakan insiden semacam itu sangat mungkin terjadi. Selama lebih dari satu dekade ia meneliti dampak penggunaan ponsel bagi penglihatan manusia.

Kozuka menggunakan alat pelacak mata untuk mengetahui dampak penggunaan ponsel sambil berjalan terhadap pergerakan mata. Penelitiannya mengindikasikan bahwa fokus penglihatan seseorang menyusut hingga 95 persen saat melihat ke sebuah gawai.

Kozuka mengatakan bahkan jika sebuah objek berada dalam jangkauan pandangan, otak kita tidak serta-merta melihatnya kecuali mata kita fokus tertuju pada objek tersebut. Ia mengatakan hal itu mungkin membuat orang-orang secara keliru meyakini bahwa mereka melihat lingkungan sekitarnya.

Otak memblokir informasi lain

Bukan hanya penglihatan yang terdampak. Wanita itu diyakini tidak mendengar dengan baik suara yang memperingatkan bahwa ia berada dalam bahaya.

Profesor Edagawa Yoshikuni dari Universitas Waseda adalah seorang pakar fungsi otak. Ia mengatakan telepon pintar dirancang untuk menangkap perhatian kita dan wanita itu mungkin keasyikan dengan layar ponselnya sehingga otaknya memblokir informasi lain.

Edagawa mengatakan otak manusia tidak bisa menangani beragam informasi yang masuk secara simultan. Sebaliknya, hanya fokus pada satu informasi.

Mata dan telinga kita mungkin menerima sinyal lain, tetapi otak kita tidak serta-merta memahami maksudnya.

Penyelidikan terhadap kecelakaan ini menemukan bahwa wanita tersebut berjalan melalui pintu perlintasan kereta pada jalur yang sama setiap hari. Edagawa mengatakan keakrabannya dengan lingkungan di sekitar pintu perlintasan itu mungkin telah memberikannya rasa aman yang keliru.

Kasus kecelakaan ponsel meningkat

Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo mengatakan panggilan ambulans di ibu kota ini terjadi sebanyak 196 kali antara 2016 hingga 2020 untuk menangani kecelakaan yang melibatkan orang-orang yang tengah berjalan atau bersepeda sambil melihat ponsel mereka. Korbannya mencakup semua kelompok usia.

Insiden-insiden tersebut memicu seruan untuk melarang penggunaan telepon pintar saat berjalan kaki.

Kota Yamato di Provinsi Kanagawa memberlakukan larangan semacam itu pada 2020. Walaupun peraturan ini diterapkan tanpa ada hukuman bagi pelanggarnya, tetapi tampaknya berhasil.

Sebuah survei yang dilakukan pemerintah kota ini menunjukkan bahwa sekitar 12% orang menggunakan ponselnya saat berjalan di sekitar stasiun pada Januari 2020. Persentasenya turun 7% setelah peraturan ini diberlakukan.

Distrik Adachi dan Distrik Arakawa di Tokyo, serta Kota Ikeda di Osaka, juga memberlakukan peraturan serupa. Namun, semua kota itu tidak memberikan hukuman bagi pelanggarnya.

Kota Honolulu di Hawaii pada 2017 memberlakukan larangan melihat telepon pintar saat menyeberang jalan. Denda bagi pelanggarnya berkisar antara 15 hingga 99 dolar.

Otoritas di Korea Selatan mengambil pendekatan yang lebih inovatif dengan memasang lampu LED di trotoar pada area penyeberangan pejalan kaki yang warnanya akan berubah mengikuti warna lampu lalu lintas.

Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan memasang lampu tersebut untuk keperluan uji coba pada 2018. Sejak saat itu, lampu LED tersebut telah dipasang di lebih dari 1.000 lokasi, terutama di tempat penyeberangan jalan yang ramai dan sepanjang rute sekolah.

Kota Chongqing di Cina membuat jalur khusus bagi pejalan kaki yang ingin menggunakan telepon pintarnya sambil berjalan.

“Setidaknya di Jepang, mungkin cukup dengan memberi tahu risikonya dan meminta tanggung jawab moral warga,” kata Kozuka. Ia mencontohkan kampanye larangan merokok.

Beberapa dekade lalu, hal yang lumrah untuk melihat orang merokok sambil berjalan di tempat umum. Perilaku itu mulai berubah saat bahaya bagi perokok pasif makin jelas.

“Tekanan publik serupa juga dapat berguna bagi para pecandu ponsel,” kata Kozuka.

Dengan makin bertambahnya pemerintah daerah yang menerapkan larangan dan kampanye untuk meningkatkan kepedulian atas masalah ini, Jepang mungkin akan segera menemukan bahwa tekanan semacam itu mencapai titik kritis, memicu perubahan nyata dan berkelanjutan.

(NHK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here