Indonesia Butuh Al Quran 5 Juta Eksemplar Per Tahun

0
312 views
Salah satu tempat pencetakan Al Quran

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, kebutuhan Al Quran di Indonesia saat ini adalah 5 juta eksemplar per tahun.

Hal tersebut tidak sebanding dengan kemampuan Unit Percetakan Al Quran (UPQ) Kementerian Agama.

Hal tersebut tidak sebanding dengan kemampuan Unit Percetakan Al Quran (UPQ) Kementerian Agama.

“Saat ini kebutuhan Al Quran di Indonesia mencapai 5 juta eksemplar per tahun. Sementara kemampuan UPQ Kemenag baru 1 juta per tahun,” ujar Yaqut dikutip dari situs resmi Kemenag, Selasa (16/3/2021).

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, kebutuhan Al Quran di Indonesia saat ini adalah 5 juta eksemplar per tahun.

Hal tersebut tidak sebanding dengan kemampuan Unit Percetakan Al Quran (UPQ) Kementerian Agama. “Saat ini kebutuhan Al Quran di Indonesia mencapai 5 juta eksemplar per tahun. Sementara kemampuan UPQ Kemenag baru 1 juta per tahun,” ujar Yaqut dikutip dari situs resmi Kemenag, Selasa (16/3/2021).

Bersamaan dengan kebutuhan itu, Kemenag menerima wakaf 5.000 Al Quran yang diberikan China-Indonesia Management Association (CIMA).

Wakaf Al Quran tersebut disampaikan secara simbolis oleh Chairman CIMA Arif Harsono di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.

Oleh karena itu, Kemenag pun menyambut baik adanya wakaf Al Quran tersebut untuk digunakan umat. “Jadi keterlibatan dan peran serta masyarakat untuk berupaya menyediakan Al Quran tentu saja amat bermanfaat,” kata Yaqut.

Di samping itu, Yaqut pun berharap wakaf Al Quran yang dilakukan CIMA dapat menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan antaragama di Indonesia.

Sementara itu Chairman CIMA Arif Harsono mengatakan, wakaf yang dilakukan pihaknya merupakan wujud kepedulian pengusaha China dan Indonesia terhadap kehidupan keberagamaan di Indonesia. “Kami ingin memberitahukan kepada para pengusaha, atau investor dari China bahwa Indonesia adalah negara yang amat menghargai keberagamaan dan kebudayaan. Mereka harus paham budaya kita,” kata dia.

Dengan demikian, kata dia, apabila mereka ingin berinvestasi di Indonesia, maka harus menghargai agama dan budaya yang ada di Tanah Air.

Ia pun berharap, langkahnya ini bisa diikuti oleh para pengusaha lainnya.

(Kom)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here