Jokowi Pecah Kongsi

0
232
Jokowi

BarisanBerita.com,- Meski menepis semua rumor miring tentang pecahnya ikatan Jokowi dan Ketum PDIP Megawati, namun banyak pihak berkesimpulan dua sosok itu memang sedang dalam masalah.

Bergabungnya putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) seakan menguatkan dugaan sejumlah pengamat ada “perlawanan” dari klan presiden asal Solo itu atas Ketua Umum PDIP, Megawati.

Ketidakakuran antara Jokowi dan PDIP pun mulai tercium dalam beberapa kasus, seperti eratnya hubungan Jokowi dan Bacapres Prabowo, yang dilihat sebagai dukungan orang nomor satu itu ke Ketum Gerindra.

Lalu, rumor tentang tak nyamannya Jokowi saat pencalonan Bacapres Ganjar, yang disinyalir tak mengikutsertakan dirinya.

Dan yang terbaru adalah bergabungnya Kaesang ke PSI, yang direstui Jokowi, namun disikapi dengan hati-hati oleh sejumlah petinggi PDIP.

Menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno hal itu menjadi tanda jika Kaesang tidak nyaman dengan sikap PDIP ke Jokowi dan kakaknya, Gibran Rakabuming Raka.
“Kaesang ke PSI ini dibaca sebagai sikap politik Pak Jokowi yang dinilai memang dalam beberapa tahun ke belakang ini hubungannya dinilai kurang oke dengan PDIP,” kata Adi usai diskusi Total Politik di Warung WOW, Jakarta Selatan, Sabtu (23/9/2023).

“Mungkin Kaesang merasa sedikit trauma atau nggak nyaman dengan sikap PDIP yang terjadi pada Jokowi dan mungkin juga pada Gibran, makanya Kaesang dipersilakan pindah ke PSI,” sambungnya.

Sebab itu, dia menyebut jika Kaesang memilih PSI lantaran dinilai kurang nyaman dengan PDIP. Hal itu, kata dia, dilihat dari sikap PDIP kepada Jokowi dan Gibran.

“Artinya dalam konteks ini, di partai yang lama, Kaesang pun akan nggak nyaman, karena bapaknya dan kakaknya nggak nyaman di situ,” ujarnya.

Meski begitu, Adi tak menampik jika gabungnya Kaesang ke PSI akan dikaitkan dengan Jokowi dan Gibran sebagai kader PDIP. Dia menyebut publik akan menilai bergabungnya Kaesang ke PSI sebagai bagian dari sikap politik Jokowi.

“Seakan-akan Kaesang ke PSI bagian dari sikap politik Jokowi ya kan itu, seakan-akan itu tidak bisa dibantah bahwa Kaesang pastinya berkomunikasi, berkonsultasi dengan bapaknya yang notabenenya adalah presiden,” tuturnya.

Lebih lanjut, menurut dia, bergabungnya Kaesang ke PSI, membawa angin segar untuk PSI. Terlebih, kata dia, membawa energi positif untuk menghadapi Pemilu 2024.

“Ini jelas memperkuat PSI, ini akan menjadi stimulus bagi PSI, ini akan menjadi angin segar, untuk menghadapi Pemilu minimal Pileg mereka itu akan semakin konfiden, mereka punya figur penting yang saya kira akan memang energi bagi PSI untuk Pemilu 2024,” pungkasnya.

Sikap Jokowi yang dianggap tak sejalan dengan PDIP juga terlihat dari dukungan sang Presiden pada partai anak muda tersebut.

Jokowi berpesan kepada kader-kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk mencari diferensiasi yang membedakan dari partai lain.

Dalam sambutannya pada puncak perayaan HUT ke-8 PSI, di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Selasa, Presiden Jokowi menyatakan PSI harus memiliki diferensiasi kalau dibandingkan dengan partai-partai yang lain.

“Jangan mengikuti mereka. Isunya jangan ngikuti mereka. Jangan menjadi ‘follower’, tapi harus menjadi trensetternya,” kata Presiden Jokowi pula.

Menurut Presiden, PSI harus memanfaatkan peluang masyarakat muda yang akan menjadi pemilih dalam Pemilu 2024. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, hampir 60 persen dari total penduduk Indonesia berusia 17-39 tahun.

Artinya, kesempatan untuk mengambil suara dari anak muda sangat besar. Oleh karenanya, Presiden berpesan peluang itu harus disasar oleh PSI.

“Dan pasar segmen sebesar itu, itulah yang memang harus disasar dan didapatkan oleh PSI. Dan menurut saya, sangat cocok sekali dengan PSI,” kata Presiden lagi.

Presiden pun memberikan strategi kepada Ketua Umum PSI Giring Ganesha untuk menyasar pemilih usia muda dengan mengangkat isu-isu yang disukai mereka.

Kepala Negara juga bercerita pengalamannya saat mendulang suara anak muda saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 2012 silam.

“Saat itu, saya ingat menyiapkan dengan Pak Ahok itu baju kotak-kotak. Enggak ada yang berani membuat tren seperti itu. Itu ada risikonya. Risikonya bisa kalah kalau keliru, tapi ternyata disambut oleh masyarakat, utamanya masyarakat muda,” kata Jokowi pula.

(BBS/Bowo, Bobby)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here