Kisah Tragis TKI Sri Pulang Hanya dengan Satu Ginjal

0
470

BarisanBerita.com,- Kisah mengerikan terjadi pada puluhan TKI asal NTT yang ginjalnya tersisa hanya satu. Mafia jual beli organ di luar negeri diduga terlibat dalam kasus tersebut. Kemiskinan menjadi faktor penyebab para TKI tersebut tak punya pilihan.

Badan Perlindung Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mengungkap kejangggalan yang kerap ditemukan menyangkut kondisi fisik para pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur ketika mereka kembali ke Indonesia.

Sekretaris Utama BP2MI Rinaldi mengatakan para pekerja migran asal NTT saat pulang kembali ke Indonesia dilaporkan rata rata tidak memiliki organ dalam yang utuh.

“Yang sangat miris, ada keanehan untuk pekerja migran kita yang berasal dari NTT mereka itu pada saat pulang dalam keadaan kondissi sehat maupun meninggal, itu rata rata ginjalnya tinggal satu.” Kata Rinaldi di Yogyakarta Kamis, (01/06/2023)

Rinaldi mengatakan BP2MI belum bisa memastikan apakah para PMI tersebut menjadi korban perdaganganorgan tubuh atau malah secara sengaja menjual ginhal mereka saat kelluar negeri.

“kita gak tahu, umumnya adalah para pekerja migran asal NTT, yang lainya tidak sampai begitu,” katanya

BP2MI, menurut Rinaldi, telah menyampaikan temuan ganjil ini kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk salah satunya Menko Polhukam segera untuk mengambil sikap.

Kisah Tki Sri Rabita Saat Ginjalnya Sisa Satu

Fenomena hilangnya ginjal TKI asal NTT, bukan kali ini terjadi. Di tahun 2017 TKI bernama Sri Rabitah menceritakan kisah pilunya saat ginjalnya hilang.
Sri Rabitah adalah tenaga kerja wanita asal yang beberapa tahun lalu bekerja di Qatar. Sekarang dia sadar bahwa ginjalnya tinggal satu. Sri kemudian mengingat bahwa dia pernah dibawa ke meja operasi oleh majikannya di Qatar.

Wanita dari dusun Lokok Ara, Desa sesait, Kayangan, lombpk Utara, NTB, ini bercerita.
“waktu itu saya dijanjkan oleh orang bernama Ibu Ulfa untuk diberangkatkan di Abu Dhabi (Uni Emirat Arab),” kata Sri di ujung telepon.

Dari desanya, dia diberangkatkan ke Jakarta Timur dan ditampung di sebuah perusahaan. Sri ingat, Namanya, yakni PT Falah Rima Hidaity Bersaudara. Dia tinggal selama empat bulan di sebuah perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia itu.

Ternya dia tidak dikirim ke Abu Dhabi, melainkan ke Doha, Qatar, pada 27 Juni 2014, sesampai di Doha, Sri dimasukan ke kantoe perusahaan bernama PT Aljazira. Keesokan harinya, dia dijemput oleh majikan yang akan memperkerjakannya.

“Majikan saya orang Palestina, Madam Gada Namanya, yang laki laki bernama Ahmad,” kata Sri.

Sepekan setelah bekerja di rumam Madam Gada, Sri dititpkan ke rumah ibu Madam Ghada. Suatu waktu di rumah itu, salah seorang kolega majikan mengabarkan bahwa Sri akan pergi untuk memeriksa keseharan di rumah sakit.

“Kata dia, Sri besok kamu pergi untuk ke medical,” kata Sri, yang mengaku bisa berbahasa Arab lantaran pernah empat tahun lebih bekerja di Arab Saudi.

Tibalah hari bagi Sri untuk ke rumah sakit. Sejam perjalanan menggunakan mobil, dia samapai dilokasi. Entah rumah sakit apa, Sri tidak tahu. Yag jelas, dia ingat betul pemasangan infus di lengannya.

Tanpa permisi, saya tiba tiba diinfus. Ini tumben pergi medical, kok diinfus? Kata Dokter, kondisi saya sedang lemah. Dia meminta saya untuk rileks dan slow saja,” kata Sri.

Dari kejauhan, Sri mendengar ibu Madam Gada bercakap cakap dengan dokter bahwa kondisinya normal. Namun anaeh, tiba tiba Sri dibawa ke suatu ruangan . Kata Doker, organ tubuh Sri harus diperiksa.

“Disitu ada pisau, gunting, dan jarum yang sudah disiapkan. Saya dibaringkan ke suatu tempat, dibawa lampu yang menyala terang, terang sekali kata perempuan kelahiran 31 Desember 1992 ini.
Infus ditancapkan lagi, Sri terlelap karena dia sudah tidak ingat kejadian dan perlakuan apa lagi yang dikenakan ke tubuhnya.

“Setelah sadar, saya di ranjang. Ada bekas goresan pisau di perut kanan. Masih terasa sakit di pinggang sebelah kanan, seperti ada benang juga di pinggang kanan saya,” kata Sri.

Sri meminta kepada Dokter untuk izin buang air kecil. Namun dokter tak membolehkannya karena kantong kecil sudah disediakan. Patuhlah Sri kepada dokter. Namun dia melihat urinenya seperti gumpalan darah. Tak lama kemudian, Sri dibawa ke ruang lainnya lagi. Ada tabung besar di ruangan itu.

“Saya dimasukan ke tabung besar itu. Keluar dari ruangan itu, bekas jahitan disebelah kanan saya hilang, bekas itu menjadi bersih seperti kulit semula,” ujar Sri

Dia mengingat ingat, kira kira total hanya sebulan dia di Qatar/ Singkat cerita, Sri dipulangkan ke Indonesia. Sudah tiga tahun dia merasakan sakit yang tak kunjung reda. Sakit itu terpusat di pinggang sebelah kanannya. Gara gara itu, dia tidak bisa melakukan pekerjaan maksimal. Bahkan menggendong bayi juga dia kesulitan. Pergi ke dukun dia lakoni, sempat sembuh ternyata kumat lagi.

Dia lantas pergi ke Puskesmas Kayangan, dekat rumahnya, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung, Lombok Utara, Untuk dirontgen.

“Dari rontgen itu baru saya tahu, ternyata ada siang di dalam tubuh saya,” kata Sri.

Sri kemudian dirujuk ke RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat. Rontgen dijalaninya lagi. Kondisi badannya sehat, namun lagi lagi hasilnya sama dengan sebelumnya, bahwa ada siang di dalam tubuhnya. Siang dimaksud adalah alat untuk mengganti ginjal kanannyasudah tidak ada. Sri ternyata hanya punya satu ginjal.

“Ternya ginjal saya cuma satu, Dokter menjelaskan ke saya. Dia tunjukan yang mana yang ada ginjalnya dan yang mana tidak ada. Ginjal saya diganti oleh alat untuk bertahan, saya tidak tahu Namanya, tapi seperti siang yang melilit,” tutupnya

Kini dai menunggu tanggal 2 Maret 2017. Soalnya pada tanggal itu, dia akan dioperasi untuk mengeluarkan siang dari dalam tubunya. Opersai akan dilakukan di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat.

(BBS/Bobby)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here