Sejarah Perjuangan Palestina: Kehebatan Yasser Arafat Lolos dari Upaya Pembunuhan

0
1324
Yasser Arafat di majalah Time

BarisanBerita.com,- Nasib Palestina makin tak menentu setelah Israel berhasil berdamai dengan sejumlah negara Timur Tengah.

Negara-negara Arab sebelumnya gigih membantu perjuangan Palestina. Namun sejarah berubah, Palestina kini seolah berjuang sendiri.

Selain itu, kehilangan sosok Pemimpin Palestina, Yasser Arafat, membuat gerakan perjuangan negara ini tak sehebat dulu.

Seorang Yasser Arafat, Pemimpin PLO, dulu pernah membuat Israel kehilangan akal untuk menaklukannya, bahkan kehebatan sang tokoh ini membuat geram petinggi Yahudi karena Dia selalu bisa lolos dari upaya pembunuhan yang direncanakan negara Zionis itu.

Yasser Arafat di sebuah masjid

Invasi ke Libanon

Bagi Bassam Abu Sharif, orang kepercayaan Yasser Arafat, kemampuan sang Bos menghindar dari upaya pembunuhan oleh Israel, membuatnya bertanya-tanya.

Bassam menjadi saksi langsung kehebatan Arafat lolos dari sejumlah serangan mematikan Israel.

Salah satunya terjadi ketika pasukan Israel di bawah Ariel Sharon, menginvasi Libanon di tahun 1982. (Arafat dan pasukannya saat itu mengungsi ke Libanon).

Ariel Sharon begitu bernafsu untuk menghabisi Arafat karena gerakan perlawanan yang dipimpin tokoh ini selalu membuat Israel babak belur.

Harus cepat

Untuk menghabisi PLO dan Arafat, yang berdiam di Beirut, Israel melakukan pengepungan, dengan mengirim ribuan bom ke wilayah itu.

Pengepungan dilakukan Israel dengan menjatuhkan bom lewat darat, laut dan udara. Akibatnya banyak gedung hancur dan jalan-jalan menjadi berlobang.

Komando penyerangan dilakukan Ariel Sharon di gedung yang dikuasainya di dekat Hotel Alexander, Beirut.

Kondisi berbahaya tersebut membuat Arafat kesulitan untuk mengadakan rapat membahas strategi melawan Israel.

Namun, kata Bassam, Arafat masih bisa melakukan komunikasi lewat peralatan elektronik, meskipun resikonya terendus oleh kaki tangan Israel yang dapat mengetahui lokasi mereka.

Untuk mencegah serangan Israel, Arafat memerintahkan setiap komandannya  menggunakan dua kendaraan mercy berwarna hitam.

Dua kendaraan tersebut harus berlari cepat agar tidak dikenali dan terhindar dari bom-bom Israel.

Foto yang diambil agen Mossad saat berencana untuk menghabisi Arafat

Pada 10 Agustus 1982, Arafat memanggil para komandannya untuk rapat darurat membahas perkembangan politik terbaru dan serangan militer Israel.

Arafat, kata Bassam, perlu bertemu langsung dengan anak buahnya agar operasi serangan balasan berjalan sesuai kordinasi.

Kali ini panggilan rapat tidak menggunakan alat elektronik melainkan kurir. Semua dilarang menggunakan telepon karena Arafat tahu Israel telah melakukan penyadapan.

Mereka diminta untuk bertemu di daerah Al-Ramla Al-Baida, wilayah Beirut.

Buku tentang Yasser Arafat

Kami berkumpul di lokasi itu, ujar Bassam, namun tiba-tiba diminta untuk segera berpindah menjauh dari lokasi tersebut.

Kebiasaan Arafat yang berpindah secara spontan ini menjadi bagian dari nalurinya agar aman dari Israel. Dan nalurinya ini tidak pernah gagal menyelamatkan nyawanya.

Ketika saya tiba di lokasi, ungkap Bassam, kemudian datanglah Arafat.

“Arafat memberi salam kepada kami, namun dia terlihat gugup,” kata Bassam. “Sebelum rapat digelar, tiba-tiba Arafat berteriak, kalian semua segera keluar!”

Pimpinan PLO itu meminta semua yang hadir segera menjauh dari gedung pertemuan.

Dengan segera peserta rapat keluar dari gedung bertingkat enam tersebut.

“Saya bertanya pada Arafat, apa yang membuatnya tahu bakal ada pemboman ,” tanya Bassam.

“Analisa dan firasat,” jawab Arafat. “Saat saya tiba, banyak orang melihat kita. Mereka penasaran dan tertarik mengetahui mengapa kita berkumpul, dan saya tahu salah dari mereka pasti kaki tangan Israel,” kata Arafat.

Di samping itu, tambah Arafat, lokasi kita terpantau dari lokasi arteleri Israel di Bukit Brumana.

Sebelum serangan Israel, Arafat keluar dari mobilnya, diam sesaat dan seperti menunggu sesuatu. Dan dalam hitungan menit, terdengar arteleri Israel menghujani udara di atas gedung pertemuan.

Beberapa waktu setelah peristiwa mengerikan tersebut, kami menerima laporan bahwa gedung pertemuan dibombardir Israel.

Berkat kecepatannya berpikir, sekali lagi Arafat berhasil lolos dari maut, dan tetap memimpin Palestina.

(Sumber: Arafat and the Dream of Palestine)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here