Sungai Cisadane Tangerang Penuh Sampah Covid-19

0
825
Sungai Cisadane penuh sampah

Limbah medis diduga bekas penanganan Covid-19 ditemukan di sungai Cisadane yang menjadi sumber hidup warga di Kota Tangerang. Di tengah pandemi saat ini, temuan limbah medis tentu sangat mengkhawatirkan.

Komunitas pecinta lingkungan Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) baru-baru ini melaporkan temuan limbah medis yang terjebak di antara aliran-aliran sampah di Sungai Cisadene, Tangerang.

Di tengah pandemi COVID-19 saat ini, temuan semacam ini sangat mengkhawatirkan banyak pihak. Limbah medis tersebut tidak hanya mencemari lingkungan, tapi juga membuat masyarakat yang tinggal di sekitar sungai menjadi lebih ketakutan akan bahaya COVID-19.

Dari jarum suntik hingga APD rusak

Ketua Banksasuci Foundation Ade Yunus melaporkan, para relawan awalnya banyak menemukan sampah yang tidak biasa, dua hari setelah longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang di Tangerang Selatan pada Mei lalu. “Salah satunya adalah alat infus, selang infus, dsb”, ujar Ade saat diwawancara DW baru-baru ini.

Berhari-hari setelahnya, limbah medis yang ditemukan semakin banyak dan semakin beragam. “Ada alat suntikan, bahkan ada jarum suntik yang masih ada darahnya juga, juga ada sarung tangan lateks, terus juga ada beberapa APD yang sudah rusak, yang rusak parah begitu,” ujar Ade.

Menyusul adanya temuan limbah medis yang sejatinya masuk kategori limbah berbahaya (B3), para relawan yang biasanya mengumpulkan sampah dengan tangan tanpa pelindung, akhirnya diwajibkan menggunakan sarung tangan pelindung, tambah Ade.

Beruntung Banksasuci Foundation yang Ade pimpin telah memiliki sebuah insinerator yang dapat digunakan untuk pembakaran temuan limbah medis tersebut. Insinerator milik komunitas ini kata Ade memiliki kapasitas 1 ton per hari.

“Kebetulan di Banksasuci kita punya insinerator, dan memang standar temperatur untuk pembakaran limbah medis ini 800 derajat celcius,” ujarnya lebih lanjut.

Warga manfaatkan Sungai Cisadane untuk keseharian

Ade mengatakan aliran Sungai Cisadane masih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang tepian sungai, meski di saat pandemi seperti sekarang aktivitas tersebut sudah mulai berkurang. Seperti misalnya, mencuci pakaian di pinggir sungai dan tempat berenang untuk anak-anak.

“Juga masih banyak masyarakat yang mengambil air sungai untuk sekadar misalkan menyiram tanaman yang mereka tanam di pinggir sungai. Lalu juga para nelayan itu biasa mengambil cacing sutra itu rutin, terus juga ada nelayan yang ‘ngegogoh’ ikan, itu masih banyak masyarakat yang melakukan aktivitas itu,” kata Ade melanjutkan.

Namun, lebih daripada itu, Sungai Cisadane juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Tangerang Raya. Pasalnya, air baku untuk PDAM Tirta Banteng Kota Tangerang bersumber dari Sungai Cisadane. “Jadi memang sangat urgen sekali kalau Sungai Cisadane ini harus betul-betul dijaga dan seluruh pihak harus terlibat di dalamnya,” kata Ade menegaskan.

(DW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here