Ternyata Whitney Houston Seorang Lesbian

0
1368
Whitney Houston

Robyn Crawford adalah sahabat Whitney Houston. Orang kepercayaan Whitney sedari kecil hingga akhirnya menjadi asisten dan mitra kreatifnya. Mereka juga, dalam waktu singkat, sepasang sekasih.

Selama bertahun-tahun, romansa di antara keduanya menjadi bahan rumor dan spekulasi. Dua film baru-baru ini yang mengangkat kisah hidup sang diva, Whitney: Can I Be Me dan film yang disetujui keluarganya, Whitney, mengguncang bara hubungan mereka – menunjukkan bahwa Crawford adalah cinta sejati dalam hidup Whitney.

Whitney Houston (kiri) dan Robyn Crawford bersantai di atas kapal pesiar saat rehat di tengah tur Australia tahun 1987

Crawford selalu menolak untuk mengomentari hidupnya bersama Whitney -ia muncul dalam kedua film tersebut dalam bentuk rekaman arsip, tapi tidak pernah bersedia untuk diwawancara.

Tetapi sekarang, setelah semua orang berbicara, Crawford memutuskan untuk menceritakan kisahnya. “Kenapa sekarang?” tanyanya dalam pengantar memoar barunya, A Song For You.

Robyn Crawford

“Percayalah, saya mencoba sebaik mungkin untuk menghindari sorotan (tetapi) saya yakin merupakan tugas saya untuk menghormati teman saya dan untuk mengklarifikasi banyak ketidakakuratan tentang diri saya dan siapa Whitney itu.”

Ia mengonfirmasi, untuk pertama kalinya, kisah romantisnya bersama Houston, yang dimulai sejak mereka masih remaja dan bertahan selama dua tahun.

“(Hubungan) itu bukan tentang kami tidur bersama,” ia menekankan dalam buku tersebut. “Kami dapat memercayakan rahasia, perasaan dan siapa kami kepada satu sama lain. Kami adalah teman, kami adalah kekasih. Kami segalanya bagi satu sama lain. Kami tidak jatuh cinta. Kami sudah saling mencintai. Kami memiliki satu sama lain. Kami adalah satu: seperti itulah rasanya.”

Whitney memutuskan hubungan mereka setelah ia menandatangani kesepakatan rekaman, lalu memberikan Crawford kitab Injil dan mengatakan padanya bahwa ia takut akan diketahui publik.

Crawford tetap menjadi teman setia dan benteng emosionalnya, menambatkan Whitney ke masa lalunya, dan menenangkan bahtera kehidupan pribadinya yang kerap bergejolak.

Secara terang-terangan ia menggambarkan penggunaan narkoba yang mereka lakukan dan bagaimana dirinya menyaksikan, dengan tanpa daya, ketika kebiasaan temannya lepas kendali.

“Tidak peduli apa aturan yang kami buat tentang penggunaan narkoba yang bertanggung jawab, ia terus melanggarnya dan menggunakannya kapan pun ia mau,” tulisnya.

Pada saat Crawford keluar dari tim Whitney pada tahun 2000, sang bintang membatalkan banyak pertunjukan dan melewatkan banyak sesi rekaman. Ia menduga Whitney dilecehkan secara fisik oleh suaminya, Bobby Brown, dan menemukan sendok-sendok yang terbakar di dapurnya.

Kisah Crawford sendiri tidak lebih membahagiakan – ia adalah putri dari seorang ibu tunggal, yang meninggalkan suaminya setelah disiksa bertahun-tahun, dan kehilangan dua anggota keluarga terdekatnya akibat AIDS.

Tetapi buku itu sendiri tidak terlalu suram: Setelah lepas dari dunia Whitney, Crawford perlahan membangun kembali hidupnya, dan kini telah menikah dan bahagia dengan dua anak adopsinya. Ia pernah bekerja sebagai seorang wartawan, mewawancarai orang-orang seperti Jessica Biel dan Kristen Bell, dan saat ini menjadi seorang pelatih kebugaran.

Tujuannya menulis buku itu adalah untuk menghapus kenangan akan kematian tragis Whitney, yang tenggelam di dalam bak mandi menjelang malam penghargaan Grammy 2012, dan untuk mengingatkan dunia bahwa Whitney adalah seorang yang “berhati besar, tidak mementingkan diri sendiri, jenaka” dan amat sangat berbakat – baik ketika ia menyanyi di panggung Super Bowl, belajar berakting dalam The Bodyguard, atau bernyanyi di gereja (di mana beberapa umat paroki kewalahan oleh vokalnya sampai-sampai mereka pingsan).

“Saya ingin meninggikannya. Saya ingin mengangkatnya sehingga ia dapat mengangkat warisannya jauh ke atas,” kata Crawford kepada BBC, ketika ia menceritakan pembuatan memoarnya.

(BBC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here