Arab Saudi Disebut Ada di Balik Perjanjian Damai Bahrain-Israel

0
26 views
Warga Palestina memprotes perjanjian damai antara Bahrain dan Israel, sambil memegang foto Raja Bahrain yang dicoret

Setelah berdamai dengan UEA, kini Israel kembali mengejutkan dunia lewat perjanjian damai dengan Bahrain pada 12 September 2020. Hal ini tentu saja sangat mengagetkan, dan menjadi pertanyaan, siapa di balik upaya damai tersebut.

Seorang penasehat Kerajaan Bahrain, Rabi Marc Schneier kepada AFP mengatakan, dirinya sangat percaya Kerajaan Bahrain sebelumnya sudah berkonsultasi dengan Kerajaan Arab Saudi. Bahrain sangat hormat pada Arab Saudi,” katanya, seperti dilansir Time of Israel, Minggu, (13/9/2020).

Bahrain seperti diberitakan menjadi Negara Teluk kedua yang mengadakan perjanjian damai dengan Israel. Bahrain selama ini diketahui menjadi sekutu utama Arab Saudi.

Sebelumnya, Presiden Amerika, Donald Trump, juga sempat mendesak agar Arab Saudi mengikuti negara lain yang telah berdamai dengan Israel.

“Pertolongan” Arab Saudi untuk Bahrain memang cukup besar, yaitu berupa bantuan keuangan senilai 10 juta dolar pada tahun 2018, dan bantuan pasukan pada 2011 saat gerakan “Musim Semi Arab” melanda Bahrain.

Pihak Arab Saudi sejauh ini “menutup rapat” atas dugaan sebagai pihak yang ada di belakang perjanjian damai tersebut. Namun, sumber yang dekat dengan aksi damai itu mengatakan, bahwa itu adalah konsesi atas desakan Amerika terhadap hubungan diplomatik dengan Israel.

“Anda sabar saja, beberapa negara lain akan juga berdamai, salah satu adalah negara besar,” kata Trump kepada wartawan, usai dirinya melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Raja Salman.

Arab Saudi disebut juga akan segera melakukan perjanjian yang sama dengan Israel, sebagai upaya menandingi kekuatan Iran yang terus mencari pengaruh di Timur Tengah, sambil juga mengusahakan kemerdekaan untuk Palestina.

Sebelumnya, Arab Saudi setuju dan mengijinkan maskapai UAE melewati wilayah udaranya untuk penerbangan menuju Israel. Hal tersebut dianggap banyak pihak sebagai “tanda” dibukanya pembicaraan damai Arab Saudi dan Israel.

Ryan Bohl dari US Geopolitical Think Tank Stratford kepada AFP, mengatakan meskipun Arab Saudi terkesan lamban membuka pembicaraan dengan Israel, namin terlihat jelas pihak kerajaan sedang mengembangakan upaya tersebut sekaligus melihat reaksi publik. Ada kemungkinan upaya damai nanti akan dibentuk dengan format yang berbeda, berupa perjanjian tidak langsung.

(AFP/Bowo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here