Espionage: Ketika Soekarno Pecundangi Amerika

0
603 views
Presiden Soekarno

BarisanBerita.com,- Bayangan Soekarno tentang Amerika yang gagah melawan kolonialisme, dan akan membela negara-negara kecil dari jeratan penjajahan, ternyata tak sesuai harapan.

Kedatangannya ke Amerika untuk bertemu Presiden Eisenhower, hanya berbalas senyum  muram karena tak sekalipun negeri pemenang Perang Dunia ke-II itu berpihak pada pemimpin Indonesia tersebut.

Presiden Soekarno saat akan shalat di salah satu masjid di Amerika

Dalam buku karangan Stephen Kinzer “The Brothers John Foster Dulles, Allen Dulles, and Their Secret World War”, terkuak bagaimana Kementerian Luar Negeri dan badan intelijen Amerika, CIA, menggali informasi mengenai sosok Soekarno begitu detil, hingga penilaian mereka tentang tokoh yang disebut flamboyan dan kerap berpenampilan eksentrik tersebut.

Kedatangan Soekarno ke negara Uncle Sam tak seperti biasanya membuat pemerintah Amerika cukup kerepotan. Sosok pemimpin Asia yang sangat terkenal itu, ternyata begitu mengagumi Amerika.

Dalam catatan menteri Luar Negeri Amerika, John Foster Dulles, Soekarno disebut begitu terpesona pada kemampuan Amerika dalam melawan kolonialisme Inggris. Dia memuja Washington, Jefferson, serta Lincoln.

Pada pidato pembukaan di Konferensi Asia-Afrika, 18 April 1955, Soekarno mengajak negara Asia dan Afrika untuk perang melawan penjajahan, seperti yang dilakukan Amerika.

John Foster Dulles, melanjutkan laporannya bahwa Soekarno kerap menghabiskan waktunya sebagai pemimpin Indonesia dengan mengunjungi daerah-daerah, dan hanya sedikit waktu menyempatkan diri ke luar negeri.

Pada tahun 1956, Soekarno yang sudah menduduki kursi kepresidenan selama tujuh tahun, tertarik untuk datang ke Amerika.

Soekarno muda

Sebagai Menteri Luar Negeri, John Foster Dulles harus mencari informasi tentang gaya hidup dan sikap netral politik Soekarno, sosok yang menjadi magnet dunia itu.

Soekarno, dalam catatan Foster, disebut sebagai sosok yang suka kemewahan dan kerap memajang para istri dan pacarnya di depan umum.

Namun di luar penilaian itu, Foster melihat Soekarno sebagai pribadi terkenal, yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan Amerika.

Foster menghilangkan keraguannya tentang Soekarno, dan meminta agar Presiden Eisenhower menerima kedatangan tokoh populer tersebut.

“Sebagai seorang pemimpin, Dia dilambangkan sebagai seorang pejuang kemerdekaan bagi rakyatnya. Presiden Soekarno menempati posisi yang unik dan berpengaruh di Indonesia, wilayah yang luas dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara,” tulis Foster dalam memo yang ditujukan pada Presiden Amerika, Eisenhower.

“Hidupnya diisi dengan perjuangan untuk memerdekakan rakyatnya dari penjajahan Belanda”

Pengaruh politik dan ekonomi, imbuh Foster, membuat Soekarno bias dalam memandang ekonomi barat dan perkembangan politik…saya yakin kita bisa meluaskan cara pandang dan pengertiannya dalam kunjungannya ke Amerika.

Buku karya Stephen Kinzer yang juga bercerita tentang sosok Soekarno

Pada kunjugannya itu, Soekarno disambut Wakil Presiden Richard Nixon dan Foster.

Soekarno tiba pada 16 Mei 1956. Pemimpin Indonesia itu terlihat elegan dengan selalu memakai jas berbahan tunik, peci hitam, kacamata dan tongkat komando.

Sekitar dua puluh lima ribu orang menyambut Soekarno, menyalaminya dan Dia menerobos pengawalan dengan menghampiri massa, dan berjabat tangan, hingga bercengkrama dengan seorang bocah laki-laki.

Akhirrnya Soekarno kembali ke aturan protokol dan segera menuju ke kediaman Eisenhower.

Dia disambut hangat oleh Presiden Amerika, walaupun kedua pemimpin itu tetap tak bisa menyatukan perbedaannya. Di pertemuan itu, Soekarno keberatan dengan dukungan Amerika pada Belanda dalam kasus Papua New Guini (Papua-red), dan Eisenhower seperti dianjurkan Foster, tak memberikan janji dan bantuan apapun untuk hal tersebut.

Pembicaraan keduanya lalu menjadi terasa hambar, meski Eisenhower berusaha bercerita tentang pemain film favoritnya.

Pagi harinya, saat makan pagi, Soekarno mengatakan dengan hangat,” Saya laki-laki berkulit coklat, orang Indonesia, orang Asia,” Dan anda menjadikan saya teman. Apakah ini demokrasi sebenarnya?

Soekarno membuat terpana Amerika. Dia mengatakan “jatuh cinta pada negara ini” dan sangat menghargainya. Wartawan lalu mengelilingi Soekarno.

Pidato Soekarno lalu menjadi berita utama di koran-koran di Amerika, dengan judul “Soekarno memesona Washington” dan New York Time menulis “Sosok Asia yang Sensitif”.

Pada akhir pidatonya, Soekarno berdoa semoga Tuhan memberikan Amerika dan Indonesia, persahabatan terbaik yang pernah ada.

Besoknya, didampingi anak sulungnya, Guntur, mereka berkunjung ke Gunung Vernon, Monticello, Gedung Kemerdekaan. Lalu ke air terjun Niagara dan Disneyland.

Namun, soal politik, Soekarno merasa heran dengan sikap Amerika yang begitu ketakutan pada komunis.

“Saya melihat satu kesalahan Amerika”, katanya dengan sindirian, “Mereka terlalu takut bernapas, mereka merasa dihantui oleh ketakutan yang mereka ciptakan sendiri.”

Dalam suratnya ke Kepala CIA, Soekarno menulis tentang “warna” politik Indonesia. “Tak netral bisa disalah artikan oleh Amerika. Amerika suka jika kamu di sisinya, jika tidak, maka kau dianggap berpihak pada Soviet,” tulis Soekarno.

Namun sanggahan dilontarkan Foster, yang mengatakan politik Amerika bersifat global, anda harus memilih berpihak pada siapa. Sikap netral dianggap immoral.

Presiden Soekarno dan Pemimpin uni Soviet Nikita Khrushev

Suksesnya kedatangan Soekarno ke Amerika, dianggap Gedung Putih sebagai kemenangan mereka mengusai Soekarno. Namun hal itu ternyata kebalikannya.

Beberapa bulan kemudian, Soekarno berkunjung ke China dan Uni Soviet, sambil memuji dua negara tersebut.

Soekarno pun makin senang karena Uni Soviet memberi bantuan untuk Indonesia 100 juta dollar Amerika.

Langkah politik Soekarno tersebut, di mata Amerika dianggap sebagai pengkhianatan.

Pihak Amerika melihat “pengkhianatan” itu dengan pahit. Mereka seolah ditusuk dari belakang.

Sejak itu Amerika menganggap Soekarno sebagai musuh sang negara Adidaya.

(BBS/wo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here