Perang DBD: Untung Ada Bu Uut

0
731 views
Korban nyamuk DBD

BarisanBerita.com,- Nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD), masih menjadi ancaman mematikan bagi manusia. Cuaca tropis membantu pertumbuhan dan penyebaran nyamuk di Indonesia yang menewaskan banyak orang.

Beruntung, muncul Adi Utarini yang memberi jalan keluar dari masalah penyakit tahunan tersebut.

Prof. Adi Utari yang akrab disapa Bu Uut

Dikutip dari Nature, pada Agustus lalu dia dan timnya mengumumkan kemenangan besar yang bisa membuka strategi baru dalam memerangi wabah DBD.

Penyakit yang dibawa nyamuk mempengaruhi hampir 400 juta orang setiap tahun dan Demam Berdarah telah digambarkan oleh WHO sebagai salah satu dari 10 ancaman terbesar bagi kesehatan dunia.

Prof Uut, begitu panggilan akrab Utarini, dan timnya berhasil memangkas kasus DBD hingga 77 persen di sejumlah kota besar di Tanah Air dengan cara melepaskan nyamuk yang sudah dimodifikasi untuk menghentikan penyakit DBD yang menular lewat virus.

Utarini bekerja sama dengan tim peneliti internasional dari Program Nyamuk Dunia untuk mengekang ancaman ini dengan menginokulasi nyamuk dengan Wolbachia, bakteri yang tidak berbahaya bagi manusia tetapi mencegah nyamuk menularkan demam berdarah melalui gigitannya.

Tekniknya yang ia gunakan dengan membiakkan nyamuk Aedes aegypti yang menularkan virus DBD, Zika, chikungunya, tapi nyamuk itu dibuat membawa bakteri bernama Wolbachia.

Bakteri ini akan melemahkan virus dan mencegah nyamuk itu menularkannya ke manusia. Telur dari nyamuk yang sudah dimodifikasi itu kemudian ditempatkan di sekitar kota, termasuk di rumah-rumah warga. Uji coba kecil di Australia dan Vietnam memberikan hasil yang menakjubkan. Namun di Yogyakarta yang penduduknya lebih padat dan tingkat penularannya tinggi maka uji coba dilakukan lebih banyak.

Sebuah studi terobosan yang dia bantu pimpin adalah yang pertama membuktikan teknik ini berhasil menurunkan tingkat penyakit di lingkungan masyarakat.

Adi Utari merupakan seorang dokter, pengajar, sekaligus peneliti di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

(BBS/Bob)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here