Ketika Maut Membidik Soekarno

0
471
Presiden Soekarno dan Presiden John F. Kennedy di Amerika Serikat 1961

BarisanBerita.com,- Teman dan lawan mengitari Soekarno. Mereka yang membencinya ingin dia lenyap dari muka bumi ini. Bapak bangsa ini bukan cuma sekali hampir dihabisi, baik oleh bangsanya sendiri maupun orang luar. Alasannya karena Soekarno dianggap tak seiman dan menganggu kepentingan sejumlah negara raksasa.

Soekarno dan rakyat yang dicintainya

Anak sulung Soekarno, Guntur Soekarnoputra punya cerita bagaimana ayahnya berkali-kali akan dihabisi karena sikapnya yang tegas tentang kebangsaan.

Dalam tulisannya yang dimuat di Media Indonesia, Guruh mengungkap sejumlah kisah “pelenyapan” sang bapak bangsa oleh bangsanya sendiri dan Negara Adidaya.

SEBAGAI seorang penganut ideologi Marhaenisme ajaran Bung Karno, membaca artikel Marhaenisme di Tengah Desoekarnoisasi karya Retor AW Kaligis di harian Kompas, 19 Agustus 2023, secara kejiwaan hati penulis bergetar. Rupanya era reformasi saat ini, di kala UUD asli Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh sementara kalangan diamendemen bahkan hingga 4 kali, menjadi celah masuknya ideologi liberal kapitalistik, di samping merembes masuknya golongan Islam ortodoks beraliran khilafah yang isi keduanya bertentangan dengan semangat dan jiwa Pancasila 1 Juni 1945 dan UUD revolusi 1945.

Dalam artikelnya, AW Kaligis mengingatkan, di era saat ini proses desoekarnoisasi masih ada dan tetap berjalan. Pernyataan tersebut penulis benarkan seratus persen karena dalam realitas kehidupan sosial politik, proses itu masih terus berlangsung dengan berbagai wajah. Sebagai contoh adanya Tap MPRS 33/1967 yang jelas-jelas menyatakan Soekarno patut diduga terlibat G-30-S PKI.

Kalimat tersebut jelas-jelas suatu proses desoekarnoisasi yang sangat tidak manusiawi. Contoh lain dari proses desoekarnoisasi yang dilakukan di era Orde Baru ialah dihembus-hembuskannya bahwa Soekarno adalah budak penjajah Jepang yang mengorbankan ribuan pekerja Romusha.

Adapun bila kita menganalisis secara jernih, Soekarno ‘terpaksa’ melakukan hal itu untuk menyelamatkan seluruh bangsa agar tidak menjadi korban yang sia-sia dari kekejaman sistem sasisme Jepang sang penjajah. Menurut mereka, dari ‘dosanya’ tersebut wajar bila kalangan berideologi ‘kanan’ menginginkan nama Soekarno dihapuskan saja dari Kitab Tambo sejarah Indonesia.

Contoh lain proses desoekarnoisasi jilid II

Bila kita menghayati sebuah artikel di kitab Di bawah Bendera Revolusi jilid I, yakni artikel ‘Tabir Adalah Lambang Perbudakan,’ secara gamblang yang bersangkutan mengatakan sebagai seorang muslim anggota Muhammadiyah menyatakan bahwa tabir yang memisahkan saf lelaki dengan perempuan adalah lambang perbudakan kaum hawa.

Menurut yang bersangkutan, pemisahan saf ketika salat berjemaah cukup diberi jarak pemisah dan bukan tabir. Pendirian ini membuat kalangan Islam ortodoks, ulama-ulama sempit pikiran, kiai kolot pikiran, dan sebagainya menghujat Soekarno sebagai seorang muslim bejat yang perlu dihilangkan keberadaannya di kaum muslim.

Lebih kompleks lagi, setelah Soekarno secara aklamasi diangkat sebagai presiden pertama Republik Indonesia merdeka, cara-cara desoekarnoisasi yang digunakan lebih tidak manusiawi lagi, yakni dengan jalan membunuh Soekarno sebagai jalan pintas desoekarnoisasi. Maka, terjadilah apa yang dikenal sebagai Peristiwa Cikini 1957 yang dilakukan oleh oknum-oknum GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) yang secara langsung ataupun tidak langsung mendapat dukungan dari agen andalan CIA di Indonesia, Bill Palmer.

Belum hilang dari ingatan kita peristiwa tragis tersebut yang membuat korban anak-anak kecil dan remaja murid-murid dari Yayasan Perguruan Cikini. Lebih-lebih lagi ketika agen CIA Bill Palmer dibantu oleh Ketua Biro CIA Indonesia Hugh Tovar dan agen-agen yang lain, maka terjadilah beberapa proses desoekarnoisasi (melenyapkan Soekarno) dengan jalan terjadinya peristiwa Idul Adha. Yakni, ketika Presiden Soekarno sedang melakukan salat Idul Adha, seorang teroris anggota DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) dari posisi empat baris di belakang Soekarno melakukan penembakan ke arah Soekarno. Namun, atas lindungan Allah SWT, tembakan itu meleset dan mengenai seorang petugas dari DKP (Detasemen Kawal Pribadi), Sudarjat. Ia tertembus timah panas dari punggung tembus ke dada depan sebelah kiri. Syukur alhamdulillah nyawa Sudarjat dapat diselamatkan sebagaimana juga Presiden Sukarno.

Kejadian lain proses desoekarnoisasi ialah pencegatan rombongan Presiden Soekarno yang akan menuju Bandung di Jembatan Rajamandala. Rombongan dicegat sepasukan anggota DI/TII Kartosuwiryo untuk dibunuh, tapi gagal karena tim khusus DKP berhasil menaklukkan mereka lebih dahulu sehingga sekali lagi Presiden Soekarno selamat dari desoekarnoisasi.

Usaha mereka selanjutnya ialah saat seorang penerbang MIG-17 AURI binaan Permesta melakukan penembakan ke Istana Merdeka dengan maksud melenyapkan Presiden Soekarno. Peluru yang dimuntahkan oleh Daniel Alexander Maukar tepat mengenai kursi makan Presiden Soekarno, tetapi gagal melakukan desoekarnoisasi karena kebetulan Presiden tidak duduk makan siang di kursi tersebut karena sedang memimpin rapat di Dewan Nasional di sebelah Istana Merdeka.

Kejadian desoekarnoisasi yang hampir-hampir saja berhasil ialah ketika seorang agen perempuan CIA berhasil menyusup ke kalangan keluarga dan pengawal Presiden Soekarno. Adapun tugas yang diemban agen tersebut ialah membunuh Presiden Soekarno dengan jalan meracuni makanannya. Sangat beruntung Presiden Pakistan Ayub Khan mengetahui rencana jahat tersebut dan segera memberi informasi lengkap kepada Presiden Soekarno tentang yang bersangkutan. Agen tersebut segera diusir dari Indonesia dan dikenai persona non grata. Nama agen perempuan tersebut, yang penampilannya sangat cantik aduhai, ialah Pat (Patricia) Price.

Penutup

Demikianlah sepintas proses-proses desoekarnoisasi atau dalam pengertian penulis ialah proses melenyapkan Soekarno dari muka bumi dan sejarah bangsa, yang ternyata gagal total, sehingga sekaligus menggagalkan pula adanya deideologi perjuangan Marhaenisme ajaran Bung Karno yang hingga saat ini masih tetap tegak mengawal derap langkah NKRI untuk mencapai suatu negara yang modern sosialistis dan religius Berketuhanan Yang Maha Esa!

(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here