Caesarea Operation: The Hunt for Salameh

0
801 views
Agen wanita pun dikerahkan untuk melenyapkan Salameh

BarisanBerita.com,- Intelijen Israel, Mossad, tak berhenti mengejar pria berjuluk The Red Prince alias Ali Hassan Salameh (baca: Salamah), tokoh penting PLO.

Pria plamboyan ini dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan sebelas atlet Israel di Olimpiade Munich, Jerman, tahun 1972.

Salameh menjadi salah satu pentolan Palestina yang paling ditakuti. Di sisi lain, dia juga menikmati kehidupan mewah dengan pesta dan wanita.

Dan Salameh paham betul cara menghindari agen Mossad yang akan menghabisi nyawanya. Pengawalan berlapis dan berpindah-pindah tempat, jadi siasatnya menghindari kematian.

Hanya Salameh lupa, yang dihadapinya adalah Mossad, Badan Intelijen Israel yang “sabar” menunggu mangsanya.

Salameh (kanan) bersama Arafat

Dipermalukan

Tekad Mossad untuk menghabisi Salameh makin kental setelah operasi di Norwegia yang memalukan. Mereka salah menembak mati seorang pria bernama Bouchiki, yang disangka sebagai Salameh. Pria malang itu ternyata pria asal Maroko, pekerja di sebuah kolam renang dan memiliki istri yang sedang hamil.

Badan intelijen Israel makin geram setelah Salameh dengan santai kepada media yang mewawancarainya mengatakan, pria yang ditembak Mossad sama sekali tak mirip dengan dirinya. “Aku selamat bukan karena kemampuanku menghindar, tapi karena kelemahan intelijen Israel,” ujarnya mengejek.

Badan Intelijen Militer Israel, Amman, kemudian membagikan hasil wawancara Salameh tersebut ke jajarannya. Kepala Amman, Mike Hariri meminta anak buahnya segera mengumpulkan semua data tentang Salameh. “Tenang saja, harinya (untuk Salameh-red) akan tiba,” tegasnya.

Aset CIA

Namun Hariri dihadapkan pada fakta tentang Salameh. Pria yang bapaknya juga dikenal sebagai salah satu tokoh pejuang Palestina tersebut, selama ini ternyata dilindungi CIA. “Dia aset CIA. Ada perjanjian rahasia antara badan intelijen Amerika itu dengan Salameh,” kata Hariri.

“Salameh tak akan menganggu kepentingan Amerika di Timur Tengah, jika mereka tidak ikut campur urusan  PLO. CIA tidak secara langsung menyebut mereka melindungi Salemeh, tapi kami harus meminta izin (CIA) dulu terkait Salemeh,” tambah Hariri.

Namun itu tak berlaku untuk Shimshon Yitzhaki, Kepala antiteror di Mossad, yang dengan sinis menanggapi fakta tersebut. “Lalu apa? Pria ini ada hubungan dengan CIA, tapi di tangannya berlumur darah sebelas orang kita yang dibantai olehnya. Dan dia masih menjalankan aksinya sampai sekarang. Saya tak peduli jika dia agen Amerika,” katanya.

Ceroboh

Fakta makin bertambah tentang Salameh, CIA menjadikan pria tersebut penghubung paling penting antara Amerika dan PLO.

Salameh dengan “perlindungan” CIA merasa percaya dirinya tak bakal disentuh Mossad, apalagi dia juga tahu badan intelijen Israel itu sangat tergantung pada bantuan Amerika.

Bahkan dengan sombongnya, Salameh sering melakukan perjalanan secara terbuka dari markasnya di Libanon, dengan pengawalan ketat serta membawa senjata berat di kendaraan pengawalnya.

Ini mencemaskan CIA. Sam Wymen agen CIA di Libanon memperingatkan Salameh bahwa cara tersebut malah berakibat Israel mengetahui keberadaannya. “Oh bagus itu,” jawabnya ringan.

Salameh makin ceroboh padahal CIA lebih dari lusinan kali memperingatkan agar dirinya tetap hati-hati.

“Saya sudah peringatkan dia,” kata Wyman. “Kau bodoh, mereka akan mendapatkanmu. Ini cuma masalah waktu saja karena kau melanggar prinsip intelijen. Israel tahu siapa kau, dan apa saja yang kau lakukan. Harusnya kau waspada.”

Rummenigge

Israel bersiap menghabisi Salameh. Mereka mulai mengumpulkan informasi, dan agen terbaik mereka, Amin Al-Hajj, dengan nama sandi Rummenigge (pemain sepak bola terkenal Jerman), diminta untuk mensuplai informasi tentang Salameh.

Amin Al-Hajj, seorang tokoh terkenal di Libanon, juga seorang makelar senjata, bergabung dengan Mossad karena kepentingan bisnis. Dirinya begitu benci dengan PLO yang datang ke negaranya dan menghambat bisnis miliknya, termasuk perdagangan narkoba.

Jaringan Amin Al-Hajj langsung beroperasi. Hasilnya, Salameh diketahui setiap hari ke tempat kebugaran (Gym) dan spa di Hotel Continental, Beirut.

Hariri terlihat senang. “Salameh itu playboy dan sosok populer di kalangan atas Beirut. Mudah buat kami untuk mendekatinya,” ungkapnya.

“Aku akan kirim “pahlawanku” menjalankan operasi ini,” kata Hariri.

Loker

Seorang agen dikirim menuju Beirut, dilengkapi identitas WNA Eropa palsu. Dia mendaftar di tempat gym Salameh sering datang. Agen ini juga mengetahui bahwa Salameh suka memakai jam mewah dan baju mahal. Dan Salameh menaruh barangnya itu di loker milik gym.

Mossad mulai merencanakan skenario menghabisi Salameh. Peracunan, dengan memasukannya di pasta gigi, atau sabun mandi menjadi alternatif pilihan. Namun Hariri menolak pilihan tersebut. “Terlalu beresiko dan juga terlalu ketatnya pengawalan akan berbahaya buat agen kami,”ujarnya.

Pilihan menaruh bom di loker milik Salameh, juga disingkirkan Hariri. Menurutnya, ledakan bom juga akan melukai atau menewaskan orang di sekitar lokasi.

Rinah

Dan Hariri memutuskan menggunakan bom yang ditaruh di area umum. Bom itu akan meledak dengan menekan tombol jarak jauh (remote). Cara ini juga aman untuk agen Mossad yang melakukan peledakan karena jauh dari lokasi peledakan. Metode Hariri ini menjadi teknologi baru bagi Mossad kala itu.

Untuk membuat bom semacam itu, direkrutlah Yaakov Rehavi, seorang mantan ilmuwan NASA.

Saat alat sudah jadi, Hariri kemudian meminta agar agen dilatih melakukan peledakan. Rehavi dan dua orang pria serta seorang wanita menjadi peserta pelatihan. Mereka diminta untuk menekan tombol remote persis ketika mobil sasaran melewati mobil jebakan (mobil diisi bom-red) yang berada di sisi jalan.

Rehavi dan dua pria tersebut ternyata gagal menekan bom tepat waktu.

“Sini saya coba,” kata agen wanita usai melihat kegagalan tersebut. Dengan senang hati Rehavi menyerahkan remote tersebut.

“Buumm”, bom meledak tepat waktu. Wanita ini berhasil melakukannya dengan sempurna.

“Saya sempat putus asa ketika para agen laki-laki gagal melakukannya,” ungkap Hariri, ”tapi ketika agen wanita ini berhasil, saya yakin wanita tersebut pantas melakukannya.”

Agen wanita dengan nama Erica Chambers itu bersama dua agen pria akhirnya dipilih untuk melakukan misi pembantaian tersebut.

Rinah tiba di Beirut pada 1978, dan mengaku dari sebuah LSM luar negeri yang fokus membantu anak yatim piatu di kawasan Tel Al-Zaatar, tempat pengungsian warga Palestina.

Untuk menghilangkan kecurigaan, Rinah ini tinggal di sana selama dua bulan, sekaligus menjejak pergerakan Salameh.

Setelah itu, Rinah menyewa apartemen yang berseberangan dari apartemen Salameh. Dia mengisi lantai delapan, dua lantai lebih tinggi dari flat yang didiami Salameh. Rinah pun dengan leluasa menatap apartemen targetnya itu.

Beberapa hari kemudian, Tim Sayaret Matkal (pasukan elit Angkatan Darat Israel) datang ke lokasi sasaran. Mereka membawa ratusan kilogram bahan peledak dan alat pemicunya. Bahan tersebut kemudian diletakan di dalam mobil yang akan ditaruh di lokasi rutin Salameh dan pengawalnya keluar gedung.

Tak ingin gagal kedua kalinya, Hariri turun langsung ke lapangan. Dia ingin memastikan rencana berjalan mulus. Dia meninggalkan mobil berisi bom itu terparkir di sisi jalan tempat rute Salameh menaiki kendaraannya. Agar pihak berwenang Libanon tak curiga, mobil diganti dengan mobil lain ketika kendaraan Salameh tak lewat. “Kami pastikan tempat parkir itu hanya diisi mobil kami,” kata Hariri.

Hariri lalu meninggalkan lokasi pada 21 Januari 1979.

Hari berikutnya, pukul tiga siang, Salameh meninggalkan flatnya setelah makan siang dan mencium istrinya sambil mengucapkan goodbye seperti biasa.

Salameh menaiki mobil Chevroletnya. Dua mobil pengawal berada di depan dan belakang Salameh.

Saat mobil Salameh berada sejajar dengan mobil berisi bom, Rinah dengan tenang menekan remotenya, “buummm”, ledakan besar ikut menghantam mobil Salameh.

“Dia mati, sialan. Dia mati,” teriak anak buah Salameh yang berlari dari jauh dengan panik, saat mendapati bosnya tergeletak di dalam mobil dengan darah menciprati pakaian pria tangan kanan Arafat tersebut.

Tubuh Salameh ditarik dari mobil dan segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Namun Salameh tewas tepat saat tubuhnya ditaruh ke atas meja operasi.

Mossad will hunt

Kematian Salameh mengejutkan dan membawa dampak berat bagi PLO. “Saya sudah ingatkan dia,” kata Arafat saat diwawancara tv. “Saya ingatkan dia, ”Hati-hati! Mossad akan memburu kita. Mereka akan menghabisi kita satu per satu.”

Pemakaman Salameh dilakukan secara besar-besaran. Arafat terlihat sedih sambil memegang anak laki-laki orang kepercayaannya itu.

Usai melenyapkan Salameh, Mossad tak berencana memutuskan hubungan antara PLO dan CIA.

(Sumber: Rise and Kill First by Ronen Bergman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here