Demokrat Bukan Lagi “Victim Player”

0
272
Anies dan AHY dalam kenangan

Jakarta, BarisanBerita.com,- Beruntung Demokrat masih menyimpan foto berisi surat tulisan tangan Anies, sehingga kesan “terzolimi” pun bakalan makin kencang dinikmati partai Mercy tersebut.

Untuk permainan “victim player” nampaknya Demokrat terbilai piawai. Itu bisa terlihat dalam beberapa kali peristiwa yang membuat partai besutan SBY itu dituduh suka memanfaatkan suasana.

Namun, kali ini Demokrat memang benar-benar jadi korban, dari teman sejalan alias teman koalisi. Itu terjadi kala Anies dengan mimik tenang meninggalkan AHY. Padahal sebelumnya dalam surat pribadinya Anies memohon agar Putra SBY itu mau menjadi wakilnya di Pilpres 2024 mendatang.

Kasus ini jelas saja mengajutkan publik serta membuat simpati mengalir deras ke AHY dan Demokrat. Limpahan rasa kasihan ini diperkirakan akan ikut mendongkrak popularitas putra SBY tersebut.

Menurut AHY banyak kader Partai Demokrat yang kecewa dan sakit hati atas keputusan sepihak itu. AHY mengatakan hal ini pantas karena Partai Demokrat sudah berjuang sejak awal membela Anies. AHY pun menyebut perjuangan Partai Demokrat telah dilukai.

“(para kader Demokrat) marah dan kecewa bukan karena Ketumnya tidak menjadi cawapres tetapi karena perjuangan Partai Demokrat telah dilukai oleh mereka yang tidak jujur serta telah melanggar komitmen dan persahabatan. Bagi kami (di) Demokrat ini sesuatu yang fundamental,” ungkap AHY saat memberikan keterangan pers, Senin (4/9/2024).

AHY menjelaskan sejak awal koalisi dibangun, ketiga partai pengusung Anies yaitu Partai Demokrat, Nasdem, dan PKS sudah sepakat untuk meneken kerja sama politik. Namun hal itu nyatanya tidak dipatuhi yang membuat Demokrat kecewa.

“Menuju Pemilu 2024 seolah integritas dan komitmen politik tidak jadi penting dan relevan dalam mencapai tujuan. Kita mendambakan praktik-praktik yang baik, kita juga tidak ingin seolah semuanya bisa asal tidak boleh kalah,” sebutnya.

AHY pun menegaskan Partai Demokrat tidak mau menerima pasangan Anies-Cak Imin karena keputusan yang dibuat secara sepihak. Bagi dia, penunjukan bakal calon presiden dan wakil presiden tidak bisa praktis karena harus ada musyawarah hingga diskusi di kalangan elite partai pendukung.

“Sejak awal pula Parai Demokrat untuk mengingatkan untuk tidak sekali-kali melakukan fait accompli atau dalam tanda kutip memaksa Partai Demokrat untuk menerima keputusan sepihak tanpa melibatkan pengambilan keputusan. Bagi kami lebih baik bersepakat untuk tidak sepakat daripada dipaksa menerima keptuusan dimana kami tidak terlibat dalam prosesnya,” tegas AHY.

Sementara, Anies kini sepertinya mulai repot dengan klarifikasi soal surat pribadinya. Kepada Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa, mantan Gubernur Jakarta itu mengatakan heran tulisan tangannya yang meminta agar Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi bakal calon wakil presidennya beredar ke publik.

(BBS, Bobby)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here