KPK “Mayday Mayday”

0
425
Ilustrasi

BarisanBerita.com,- Kondisi KPK di bawah Firli Bahuri makin hari makin “mengerikan” karena sejumlah skandal yang merusak reputasi lembaga antirasuah tersebut.

Setelah kasus Johanis Tanak yang diduga melanggar kode etik, meski akhirnya dinyatakan tak bersalah, namun dianggap sudah merusak reputasi lembaga tersebut.

Dan yang terbaru adalah dugaan pemerasan yang diduga dilakukan pimpinan KPK Firli Bahuri terhadap mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Mengutip Koran Tempo edisi 10 Oktober 2023, disebut oknum pimpinan KPK menerima aliran dana sebanyak tiga kali lewat perantara seorang perwira polisi.

Mantan Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, mengaku kaget mendengar kabar dugaan Pimpinan KPK melakukan pemerasan dalam pengusutan perkara tindak pidana korupsi di Kementerian Pertanian (Kementan). Jika kabar itu benar, menurut dia, hal itu harus diusut tuntas.

Novel menyatakan kerap mendengar informasi soal perbuatan miring para pimpinan KPK saat ini. Hanya saja, menurut dia, kasus terbaru ini jika benar benar-benar kelewat batas.

“Kalau hal ini benar tentu saya sangat terkejut, walaupun saya sering mendapat informasi tentang Pimpinan KPK yang berbuat korupsi, tapi kali ini benar-benar parah,” katanya kepada Tempo, Kamis, 5 Oktober 2023.

Novel mengaku belum pernah menemukan situasi seperti itu di KPK. Menurutnya, perbuatan itu terlampau nekat dilakukan di lingkungan KPK. Dia pun mendesak pimpinan KPK saat ini harus segera diberhentikan untuk melancarkan proses penyelidikan dan penyidikan.

“Baru kali ini di KPK ada yang berani berbuat jahat senekat ini. Pimpinan KPK yang terlibat harus segera diberhentikan agar tidak merusak atau menghilangkan bukti-bukti,” ujar pria yang menjadi bagian dari Satuan Tugas Khusus (Satgassus) Pencegahan Antikorupsi

“Ini harus dipastikan, diusut tuntas. Ini pengkhianatan terhadap pemberantasan korupsi dan KPK,” kata Novel.

Sementara, Ketua KPK Firli Bahuri membantah dirinya dan jajaran pimpinan KPK lain melakukan pemerasan kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terkait pengusutan dugaan korupsi di Kementerian Pertanian.

“Kita memahami tentang informasi yang beredar, apa yang jadi isu sekarang, tentu harus kita pahami. Kita sampaikan bahwa hal tersebut tidak benar dan tidak pernah dilakukan pimpinan KPK,” kata Firli di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (5/10).

Firli mengatakan ajudannya hanya satu orang bernama Kevin. Ia mengklaim tak pernah ada orang yang menemui dirinya untuk memberikan sejumlah uang.

“Saya kira enggak ada orang-orang menemui saya apalagi ada isu sejumlah 1 miliar dolar, saya pastikan enggak ada. Bawanya berat itu, kedua siapa yang mau kasih itu,” ujarnya.

Firli mengakui mengenal Syahrul. Pensiunan Polri bintang tiga itu menyebut tak pernah melakukan komunikasi dengan pihak-pihak yang berperkara.

“Saya pastikan kami tidak pernah melakukan hubungan dengan para pihak, meminta sesuatu apalagi disebut pemerasan, saya kira tidak ada tuduhan itu,” katanya.

“Termasuk juga ekspose, ini tidak ada yang memaksakan. Forum ekspose dilaksanakan terbuka. Penyelidik, penyidik, pejabat di penuntutan, dirlidik, dirdik, dirtut, hadir. Semua memiliki hak yang sama. Tidak ada intervensi memaksakan seseorang menjadi tersangka,” ujar Firli menambahkan.

Sebelumnya beredar surat panggilan dari penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya terhadap Heri selaku sopir Syahrul. Surat yang beredar di kalangan wartawan itu bernomor B/10339/VIII/RES.3.3./2023/Ditreskrimsus.

Surat itu tertanggal 25 Agustus dan ditandatangani oleh Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombes Ade Safri Simanjuntak. Dalam surat tersebut, pemanggilan terhadap sopir Syahrul merujuk pada laporan informasi nomor LI-235/VII/RES.3.3./2023/Ditreskrimsus tertanggal 21 Agustus 2023.

Tertulis bahwa Subdit V Tipidkor Ditreskrimsus Polda Metro Jaya sedang melakukan penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi berupa pemerasan yang dilakukan oleh pimpinan KPK dalam penanganan perkara di Kementerian Pertanian tahun 2021.

Syahrul juga telah menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Politikus NasDem itu mengaku diperiksa sekitar tiga jam. Ia sudah menjelaskan semua kepada penyidik terkait kasus ini.

“Semua yang saya tahu sudah saya sampaikan. Dan secara terbuka saya sampaikan apa yang dibutuhkan oleh penyidik,” kata Syahrul di NasDem Tower, Kamis.

“Oleh karena itu semua yang ditanyakan terhadap dumas 12 Agustus 2023 itu saya sudah sampaikan seterang-terangnya sepahaman saya dan apa yang saya ketahui tentang itu,” ujarnya menambahkan.

(BBS/wo, Bobby)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here