Tak Mampu Meredam Jokowi

0
243
Presiden Joko Widodo

BarisanBerita.com,- Aksi mahasiswa memprotes kebijakan Presiden Joko Widodo, disebut-sebut tak berjalan sukses alias layu sebelum berkembang. Popularitas Jokowi menjadi salah satu faktor gerakan perlawanan tak mendapat simpati.

Ketua BEM UGM, Gielbran Muhammad Noor kepada salah satu tv nasional mengungkapkan bahwa tingkat kepuasan publik pada Jokowi yang tinggi, menjadi salah satu penyebab sulitnya mengajak gerakan ini menyentuh kesadaran luas di masyarakat tentang isu panas yang mereka serukan.

Tak cuma “cuek” terhadap ajakan mahasiswa, publik saat ini sepertinya tak mau tahu tentang berita miring seputar soal dinasti keluarga yang dianggap sedang dibangun Jokowi.

Di sisi lain, media asing menilai sosok presiden bertubuh tak gemuk ini memang disukai rakyatnya karena dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Tutur perilaku Jokowi disebut membuat ia banyak disukai.

The Economist menilai, gaya Jokowi yang lembut dan sederhana menjadikan Jokowi, begitu ia disapa, menjadi salah satu pemimpin yang paling disukai di dunia.

“Peringkat persetujuannya berkisar sekitar 80%,” jelas The Economist lagi.

“Hanya Narendra Modi, Perdana Menteri India, yang mampu mendekati pencapaian tersebut,” muatnya.

Namun meski Jokowi tengah menikmati popularitasnya, spekulasi bermunculan mengenai warisan. Apalagi, kalau bukan siapa yang akan menggantikannya setelah ia mengundurkan diri tahun depan.

“Ketika Jokowi menjadi presiden pada tahun 2014, ia tak seperti pemimpin yang persah ditemui di negara ini: seorang pembuat furnitur yang dibesarkan di gubuk tepi sungai … tidak memiliki hubungan dengan tentara atau keluarga terkemuka mana pun,” tulis media itu.

“Dia paling betah bertanya tentang harga bawang di pasar atau membagikan kaos kepada orang banyak agar bisa melihatnya sekilas ke mana pun dia pergi. Ia telah merevolusi politik Indonesia dengan memanfaatkan operasi media sosial yang cerdas dan fokus tanpa henti pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

“Namun ada tiga ketidakpastian besar yang menghantui warisannya: apakah perekonomian Indonesia akan terus tumbuh, apakah penggantinya akan mempertahankan kebijakannya, dan apakah negara tersebut dapat mempertahankan tindakan penyeimbangan di dunia yang terpecah,” terang laman itu.

Rekor Ekonomi

Rekor pertumbuhan ekonomi Jokowi dinilai cukup baik. Indonesia, dimuat The Economist lagi, telah menjadi negara dengan pertumbuhan tercepat kelima di antara 30 negara dengan perekonomian terbesar di dunia sejak ia menjabat pada tahun 2014.

PDB dilaporkan meningkat secara kumulatif sebesar 43% sejak saat itu. Bahkan proyeksi IMF menunjukkan laju ini dapat terus berlanjut.

“Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pembangunan infrastruktur yang sangat besar. Negara terpadat keempat di dunia ini terdiri dari lebih dari 13.000 pulau, banyak di antaranya tidak memiliki fasilitas dasar,” muat media itu.

“Sering digambarkan dalam topi keras, Jokowi telah membangun bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, bendungan dan telah membangun ribuan kilometer jalan raya dan jalur kereta api. Dia telah menggunakan popularitasnya untuk membujuk partai-partai politik, badan usaha milik negara, dan para taipan berpengaruh di negaranya,” jelasnya.

(BBS/wo, Bobby)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here