Algojo Pembunuh Massal Khmer Merah Meninggal

0
44 views
Bocah perempuan di depan tulang belulang korban kekejaman rezim Khmer Merah

Komandan Khmer Merah yang dikenal sebagai Kamerad Duch, algojo utama Pol Pot dan kepala keamanan yang mengawasi pembunuhan massal 14.000 orang Kamboja di penjara Tuol Sleng, meninggal pada Rabu di usia 77 tahun.

Komandan Khmer Merah Kaing Guek Eav, juga dikenal sebagai Kamerad Duch

Kamerad Duch yang bernama asli Kaing Guek Eav, adalah anggota pertama kepemimpinan Khmer Merah yang diadili atas perannya dalam rezim Pol Pot yang bertanggungjawab atas kematian 1,7 juta kematian warga Kamboja dari 1975 hingga 1979.

Dikutip dari Reuters, 2 September 2020, Duch meninggal pada pukul 00:52 di Rumah Sakit Persahabatan Soviet Khmer di Phnom Penh, kata juru bicara pengadilan Khmer Merah Neth Pheaktra. Dia tidak memberikan rincian penyebabnya, tetapi Duch sakit dalam beberapa tahun terakhir.

Korban kekejaman Khmer Merah

Pada 2010, pengadilan PBB memutuskan dia bersalah atas pembunuhan massal, penyiksaan dan kejahatan terhadap kemanusiaan di penjara Tuol Sleng, gedung bekas sekolah menengah atas di Phnom Penh yang masih berdiri sebagai peringatan atas kekejaman yang dilakukan di dalamnya.

Duch dijatuhi hukuman seumur hidup dua tahun kemudian setelah mengajukan bandingnya ditolak dengan klaim bahwa dia hanya seorang pejabat junior.
Duch, yang pada saat persidangannya telah memeluk agama Kristen, menyatakan penyesalan atas kejahatannya.

Di bawah kepemimpinan Duch, para tahanan di penjara Tuol Sleng, dengan nama sandi “S-21”, disiksa oleh sipir Khmer Merah, banyak di antaranya adalah remaja, untuk mengaku bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dilakukan.

Para penjaga diperintahkan untuk menghancurkan pengkhianat dan kontra-revolusioner Kamboja.

Duch, yang merupakan mantan guru matematika, mengubah sekolahnya menjadi penjara.

“Tidak ada apa pun di bekas gedung sekolah itu yang terjadi tanpa persetujuan Duch. Kekuasaannya di sana mutlak,” tulis fotografer dan penulis Nic Dunlop, yang menemukan Duch pada 1999 bersembunyi di dekat perbatasan Thailand, dua dekade setelah Khmer Merah jatuh.

Nic Dunlop menulis “The Lost Executioner” tentang kekejaman Kamerad Duch di penjara Tuol Sleng.

Norng Chan Phal, salah satu dari sedikit orang yang selamat dari S-21, masih kecil ketika dia dan orang tuanya dikirim ke penjara Duch dan diinterogasi karena dicurigai memiliki hubungan dengan musuh bebuyutan Khmer Merah, Vietnam.

Orang tuanya disiksa dan dibunuh tetapi Chan Phal selamat dan memberikan kesaksian di persidangan Duch pada tahun 2010.

“Dia kooperatif, dia berbicara di pengadilan dengan terus terang. Dia meminta maaf kepada semua korban S-21 dan meminta mereka untuk membuka hati. Dia juga meminta maaf kepada saya,” kata Chan Phal.

“Dia meminta maaf. Tapi keadilan belum terpenuhi,” katanya.

Di S-21, narapidana baru yang tiba difoto dan kini ratusan foto mereka dipajang di dalam tembok yang runtuh.

Korban Khmer Merah sendiri terdiri dari berbagai kalangan mulai dari guru sekolah, anak-anak, hingga perempuan hamil dan cendekiawan.

(Tmp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here