China Larang Gaya “Bences” dalam Acara Hiburan

0
562
Poster film di Cina

BarisanBerita.com,- Pemerintah Cina melarang pelaku industri hiburan menggayakan banyak peran yang mengarah keperempuan-perempuanan, atau bahasa gaulnya Bences (bencong) dalam setiap hiburan yang mereka sajikan.

Langkah ini merupakan bagian dari pengetatan aturan atas apa yang disebut sebagai “konten tidak sehat” dalam program televisi.

Administrasi Radio dan Televisi Nasional (NRTA) mengatakan perilaku moral dan politik harus disertakan sebagai kriteria dalam pemilihan aktor.

Beberapa format acara ajang pencarian bakat juga telah dihentikan.

Lembaga regulator televisi itu juga memerintahkan para pemilik saluran televisi untuk mengurangi gaji tinggi yang dibayarkan kepada para bintang dan menerapkan pengawasan ketat demi mencegah penghindaran pajak.

NRTA berjanji untuk mempromosikan hal yang didefinisikan sebagai citra laki-laki yang lebih maskulin dan mengkritik selebritas pria yang menggunakan banyak make-up.

Namun, mereka berkata bahwa acara yang mempromosikan budaya tradisional, budaya sosialis revolusioner atau “sosialis maju”, atau menumbuhkan suasana patriotik, harus didorong.

Acara reality show juga tidak lagi diizinkan untuk mengadakan pemungutan suara massal kecuali dilakukan oleh penonton di studio.

Presiden China Xi Jinping menegaskan kembali komitmen untuk “kemakmuran bersama” dan dalam memenuhi janjinya untuk mendistribusikan kekayaan, konglomerat teknologi berpenghasilan tinggi dan bintang hiburan baru-baru ini menjadi sasaran. Pekan lalu, aktris China Zheng Shuang didenda $46 juta (Rp655 miliar) karena penggelapan pajak.

Rana Mitter, profesor sejarah dan politik China modern di Universitas Oxford, mengatakan bahwa gagasan “kemakmuran bersama” adalah cara untuk “mengkritik kesenjangan lebar yang sekarang meresahkan masyarakat”.

“Orang-orang terkenal dan kaya-raya menjadi target yang jelas karena kritik terhadap mereka bergema di media sosial,” katanya.

“Setelah mulai dengan para konglomerat teknologi, Partai menunjukkan bahwa para bintang showbiz sekarang menjadi target berikutnya.”

Awal bulan ini, pada pertemuan Komisi Urusan Keuangan dan Ekonomi Pusat Partai Komunis China, media pemerintah melaporkan bahwa meskipun pada tahun-tahun awal reformasi China beberapa orang dimungkinkan untuk “menjadi kaya terlebih dahulu”, sekarang pemerintah ingin mengusahakan kemakmuran “untuk semua”.

Komite berjanji untuk meregulasi pendapatan tinggi dengan cara yang lebih baik dan untuk “menyesuaikan pendapatan berlebihan secara wajar”.

China punya populasi sekitar 1,4 miliar orang. Kesenjangan pendapatan meningkat dalam beberapa dekade terakhir, dengan 10% dari populasi meraup 41% dari pendapatan nasional pada tahun 2015, naik dari 27% pada tahun 1978, seperti yang diperkirakan oleh London School of Economics.

Disesuaikan dengan inflasi, pendapatan nasional setiap orang dewasa tumbuh lebih dari delapan kali lipat antara tahun 1978 dan 2015, menurut statistik resmi.

Lynette Ong, profesor ilmu politik di Universitas Toronto, mengatakan bahwa “ini adalah bagian dari upaya terbaru Xi untuk ‘membersihkan’ apa yang dia atau Partai Komunis pandang sebagai budaya sosial yang tidak diinginkan, seperti kebiasaan main video game yang berlebihan pada remaja”.

Budaya penggemar ‘Kaotis’

Pekan lalu, regulator internet negara itu mengatakan akan mengambil tindakan terhadap apa yang disebutnya budaya penggemar yang “kacau” dan melarang beberapa situs klub penggemar.

Prof. Ong mengatakan kepada BBC bahwa pengumuman terbaru ini adalah “bukti bahwa peran Partai semakin merasuk ke dalam kehidupan orang-orang biasa.”

Di Beijing bulan lalu, bintang film Zhou Dongyu dan Du Jiang memperingatkan rekan-rekan mereka agar jangan sampai menjadi “budak pasar” dan meminta para aktor untuk “dengan berani mengukur ketinggian artistik di bawah kepemimpinan Partai”.

Industri hiburan adalah salah satu industri paling ‘basah’ di negara itu, dan pada tahun 2021 diperkirakan akan menghasilkan pendapatan sekitar $358,6 miliar (Rp5.122 triliun), menurut laporan terbaru oleh konsultan PwC.

Pada 2019, sebagai bentuk sensor, China mengaburkan telinga beberapa bintang pop pria dalam penampilan di televisi dan internet untuk menyembunyikan tindikan mereka. Tato dan gaya rambut kepang pada pria sudah lebih dahulu menghilang dari layar.

Kantor berita pemerintah Xinhua mengkritik hal yang disebutnya selebritas laki-laki yang keperempuan-perempuanan di masyarakat pada tahun 2018. Agensi itu menambahkan: “Untuk menumbuhkan generasi baru yang akan memikul tanggung jawab peremajaan nasional, kita perlu menahan erosi dari budaya yang tidak senonoh.”

Di China, homoseksualitas tidak ilegal tetapi pihak berwenang melakukan penyensoran ketat dan menghapus referensi gay dalam film biografi Freddie Mercury yang memenangkan piala Oscar “Bohemian Rhapsody”. Ketelanjangan dan adegan seks juga diedit dari serial televisi yang ditonton secara luas seperti “Game of Thrones” dan film “The Shape of Water”.

(BBC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here