Tergoda Cinta Casanova

0
235 views
Banyak wanita cantik tak mampu menolak rayuan Casanova

“I gave you my heart, I just didn’t expect to get it back in pieces.” — Unknown

BarisanBerita.com,- Tak ada yang bisa menandingi kehebatan si Petualang Cinta Casanova dalam merayu hati wanita. Memiliki “rahasia” paling hebat di dirinya, Casanova membuat banyak wanita jatuh cinta padanya.

Casanova, punya cara yang tak semua pria bisa; memahami keinginan wanita. Dan kisah tentang sang penakluk wanita itu pun berulang kali diceritakan dan dinikmati banyak orang hingga hari ini.

Di hari yang cerah dengan sinar matahari perlahan menghangatkan Kota Cologne, Jerman, seorang wanita cantik duduk di kursi di sebuah ruang teater, di tempat yang hanya diperuntukan bagi orang-orang kaya. Di sampingnya, duduk sang suami, seorang pengusaha kaya, namun sangat membosankan baginya. Mereka sedang menikmati pertunjukan opera.
Jenuh dengan pertunjukan yang disajikan, sang wanita lalu mengambil alat teropong opera. Dia mengarahkan matanya ke banyak tempat di gedung itu, hingga pandangannya berhenti di sebuah titik. Seorang pria tampan sedang duduk di kursi untuk kalangan biasa.

Buku The Story of My Life karya Casanova

Pria itu tahu dirinya sedang diperhatikan oleh sang wanita. Ketika pertunjukan usai, pria itu menghampiri sang wanita dan memperkenalkan dirinya, “Perkenalkan, nama saya Giovanni Giacomo Casanova,” katanya dengan lembut dan hampir terdengar berbisik.

Pria asing itu lalu mengecup lengan sang wanita dengan sopan. Wajah wanita itu tersipu lalu berkata, besok malam dirinya akan datang lagi ke tempat pertunjukan itu. “Jika kau tak berkeberatan, maukah kau datang menemaniku?” undangnya.
Casanova mengangguk, “Jika Nyonya berkenan mengundang saya. Kiranya Nyonya juga nanti bersedia berdansa, tapi hanya denganku,” bisiknya dengan sopan.

Di hari yang dijanjikan, sang wanita menunggu dengan tak sabar. Jantungnya berdegub keras karena baru kali ini dirinya terpesona pada pria tampan yang bertingkah sopan tersebut. Si pria akhirnya tiba dengan senyum yang menawan.

Pertemuan itu bukan yang terakhir. Sang wanita terhormat itu mengajak Casanova ke rumahnya. Mereka berkeliling di dalam rumah saat sang suami tertidur lelap. Dengan tergesa sang wanita menuju ke satu jendela, “Kau lihat gereja kecil itu? Malam besok kau tunggu aku di situ,” katanya.

Casanova dengan senyum mengiyakan permintaan sang wanita. Di malam hari, dia menunggu dengan sabar, padahal di ruang gereja itu tak cukup laik untuk dirinya menunggu. Tikus-tikus berkeliaran dan barang-barang berserakan di ruang ibadah itu. Bagi Casanaova sebenarnya dia tak ingin bertemu di tempat ibadah yang suci tersebut, namun dia tahu sang wanita tak punya pilihan lain. Kesabaran Casanova terbayar setelah wanita itu datang. Mereka memadu cinta.

Malam-malam berikutnya pertemuan terus berlangsung. Mereka melakukannya ketika semua orang di rumah itu terlelap. Sang wanita pun semakin sayang pada Casanova, dia membawakan makanan dan minuman yang lezat. Hingga semuanya itu kemudian berakhir saat sang wanita berkata pada Casanova. “Besok aku dan suamiku akan pergi ke luar kota. Kau akan menungguk, kan?” tanyanya. Pria tampan ini hanya tersenyum, namun tak mengucap sepatah katapun.

Ketika pulang dari perjalanan, sang wanita bergegas ke gereja kecil itu. Dia ingin segera melihat pria pujaannya. Namun, ruangan itu sepi dan tak ada Casanova yang setia menunggunya. Casanova telah pergi dan tak akan kembali. Air mata membasahi mata sang wanita terhormat ini.

Setahun setelah peristiwa itu, di London, sebuah surat kabar terdampar di tangan seorang perempuan muda bernama Nona Pauline. Perempuan cantik asal Purtugis ini mencari tempat yang disewa dengan harga murah.

Perempuan cantik ini awalnya bersama sang kekasih, namun dia tinggal sendiri di London setelah si pria dipanggil pulang oleh orang tuanya. Pauline tak mau ikut kekasihnya pulang, dia masih ingin menjelajahi kota yang cantik ini. Namun, uang di sakunya makin tipis, dan dia butuh tempat tinggal sementara yang layak. Meski dari keluarga terhormat, namun Pauline tak ingin terus meminta pada orang tuanya.

Perempuan ini pun kemudian menghampiri rumah yang disewakan. Pintu dibuka dan keluarlah seorang pria tampan dan mempersilahkan Pauline masuk.

Pria yang ramah itu adalah Casanova. Pauline diantar masuk untuk melihat suasana dalam rumah yang disewakan, dan dia pun tertarik karena kondisinya bagus dan suasananya nyaman. Pauline setuju untuk menyewa kamar di rumah itu.
Casanova mengatakan hanya separuh rumah ini yang disewakan dan itu pun hanya untuk mencari teman saja.

Hubungan antara Casanova dan Pauline terjalin sebatas sebagai teman saja. Pauline mampu bercengkarama dengan pria tampan itu sepanjang mata belum terkantuk-kantuk. Casanova senang dengan perempuan cantik ini dan belum tersirat keinginan lebih jauh selain bersahabat.

Mereka bisa berjam-jam bermain catur sambil menikmati kue keju. Pauline juga mengajak Casanova berkuda berkeliling halaman rumah itu. Casanova merasa nyaman dan cocok bersama Pauline yang cerdas dan terbuka ini. Namun, lama kelamaan, Casanova mulai jatuh cinta pada perempuan yang menawan itu.

Baru kali, kata Casanova, dirinya jatuh cinta pada perempuan yang baru dikenalnya. Pria tampan ini tak mudah menaruh hati pada perempuan. Kali ini dia menyerah dan harus mengungkapkan isi hatinya. Casanova dengan terus terang mengungkapkan perasaannya bahwa dia jatuh cinta pada Pauline. Pria asal Venice ini berharap akan mendapat jawaban “Ya” dari Pauline, tapi itu tak terjadi. Pauline tak bisa membalas cinta Casanova. Perempuan cantik itu dengan berat hati mengaku dirinya sudah bertunangan.

Casanova tertunduk sedih. Suasana suram di dirinya makin bertambah ketika Pauline mengatakan dirinya akan ke kembali ke Portugis untuk bersama kekasihnya. Pauline tahu perasaan Casanova dan menyarakan agar pria tampan itu melepas rasa kecewanya dengan berkuda.

Di pagi hari sebelum dirinya bergegas pulang ke Portugis, perempuan nan cantik ini dikagetkan dengan berita buruk. Casanova jatuh dari kuda yang ditungganginya. Dengan terburu-buru Pauline menghampiri Casanova. Pria itu terlihat lemah tak berdaya dan terbaring di tempat tidurnya.

Pauline memeluk Casanova dengan erat. Sementara, dalam hati Casanova, dia tak ingin perempuan cantik itu meninggalkannya. Tanpa sadar Pauline membalas pelukan Casanova. Mereka terbawa perasaan yang begitu romantis hingga keduanya memadu cinta. Pauline  jatuh cinta pada pria tampan itu.

Kala Pauline pulang ke negerinya, Casanova tak meminta perempuan itu tetap dengannya. Dia merelakan Pauline kembali ke kekasihnya. Hubungan mereka berlanjut dan menjadi pertemanan seumur hidup—selamanya.

Tahun demi tahun berlalu, dan Casanova masih dengan kesendiriannya. Dia tetap ingin bebas meski dia kerap dihantui rasa jatuh cinta pada wanita yang dikasihinya.

Si petualang cinta kali ini tiba di Spanyol. Saat dirinya masuk ke sebuah gereja, dia melihat seorang perempuan keluar tempat ibadah setelah usai melakukan pengakuan dosa. Perempuan sangat cantik itu bernama Ignazia.

Casanova mendekati perempuan itu dengan sopan. Dia mengajak Ignazia ikut pesta dansa di tengah kota. Awalnya perempuan cantik menolak karena baru kenal dengan pria bernama Casanova tersebut. Namun matanya tak bisa berdusta bawa dirinya terpesona pada keramahan dan ketampanan Casanova. namun Ignazia segera menepis godaan itu, dia takut Tuhan menghukumnya.

Namun ajakan sopan itu sulit ditepis oleh Ignazia. Dia lalu meminta izin pada orang tuanya untuk menuruti ajakan Casanova, namun ibunya melarang. Tak mau menyerah, Ignazia terus merajuk dan membujuk ibunya. Tak tahan dengan rengekan putrinya, sang ibu akhirnya mengijinkan.

Ignazia pun berdansa Fandango bersama Casanova. Berdua mereka menikmati musik yang romantis hingga satu kalimat keluar dari Casanova. Dia mencinta Ignazia. Terkejut dengan kata-kata Casanova, perempuan cantik ini dengan berat hati mengaku dia telah memiliki tunangan.

Lagi-lagi Casanova mendapat jawaban yang menyakitkan hatinya. Namun dia harus mendapat perempuan cantik ini. Dia harus membuat Ignazia jatuh hati padanya. Tapi, Casanova tak ingin menyakiti Ignazia dan membiarkan perempuan itu tetap mengasihi kekasihnya.

Casanova lalu mengajak Ignazia menonton pertandingan adu banteng dan setelah itu dia membawanya berdansa. Namun, Ignazia tetap dengan sikapnya yang setia pada kekasihnya. Hingga suatu hari Casanova mengajak Ignazia bertemua untuk berdansa, namun kali ini dia tak sendirian. Casanova mengajak seorang wanita yang juga cantik dan memperkenalkannya pada Ignazia.

Casanova sudah tahu apa yang akan terjadi ketika dia membawa wanita itu dan memperkenalkannya pada Ignazia. Perempuan Spanyol yang sangat cantik itu marah dan memelototi dirinya.

Ignazia lalu berlari sambil menangis meninggalkan Casanova. Ignazia tak terima bahwa ada perempuan lain yang bisa merebut hati Casanova. Ignazia cemburu. Air matanya tak terbendung lagi. Ignazia sadar dirinya sudah jatuh cinta pada Casanova.

Besoknya, Ignazia tak tahan lagi dengan perasaan yang menyiksa dirinya. Dia mencari Casanova, dan ketika pria itu nampak sedang duduk di luar gereja, Ignazia menghampirinya.

“Pendetaku berkata agar aku berjanji untuk tak lagi membuatmu kesepian,” kata Ignazia.

“Dan memang aku tak mampu sendiri tanpamu. Namun pendeta menolak memaafkan kelakuanku. Kau tahu, ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini, jatuh cinta. Aku serahkan diriku pada Tuhan, dan aku rela melakukan apapun yang kau inginkan. Dan saat kesedihan tiba ketika kau meninggalkan diriku, maka aku akan mencari pendeta yang dapat mengobati hatiku. Aku tergila-gila padamu, Casanova,” bisik Ignazia pada pria yang duduk di sampimgnya itu.

Casanova bisa disebut petualang cinta yang sukses luar biasa. Dia mahir membuat wanita jatuh hati padanya, dan tak bisa menolak kehadirannya.

Cara rahasia yang dilakukan pria asal Venesia pada perempuan-perempuan itu adalah…

Ah…sayangnya Casanova menceritakan rahasia dan kisah petualangannya lainnya hanya di buku biografinya—Story of My Life.

(Diazz/Bob)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here