Hitler-Misteri Obat-Obat Rahasia NAZI

0
190 views
Surat kabar berisi kebencian pada Hitler

BarisanBerita.com,- Mereka berperang tanpa jeda, dan tetap segar walau tak tidur selama berhari-hari. Para tentara Nazi Jerman ini tak punya rasa takut dan lelah karena mengonsumsi obat yang membuat mereka terus bugar meski dengan risiko mati ketagihan.

Perang membuat para Jenderal Hitler mencari obat paling kuat untuk menciptakan tentara-tentara super yang ditakuti lawan.

Hitler juga menggunakan obat khusus untuk membuat dirinya selalu nampak segar, dan siap berperang.

Hitler dan obat di Begrhof

Sejak upaya pembunuhan dengan pemboman yang dikenal dengan peristiwa Valkyrie, kesehatan Hitler terus menurun.

Sekretaris pribadi Hitler,  Christa Schroeder dalam bukunya He was My Chief, memberi kesaksian bahwa di bawah pengawasan Dokter Morell (dokter pribadi Hitler), sang pemimpin Nazi Jerman itu kerap kali disuntik cairan yang disebut “vitamultin atau obat ajaib”.

Morell bertanggung jawab setiap saat Hitler mulai merasa sakit. Dia menyuntikan cairan vitamultin yang diraciknya sendiri. Saat itu Schroeder menyebut istilah “Hitler tak boleh sakit”, sehingga dokter pribadi pemimpin Jerman itu terus menyuntikan cairan yang membuatnya segar bugar.

Schroeder mengatakan, suatu saat di tahun 1944, dia dan rekan kerjanya Dara, bercengkrama dengan Hitler. Kami melihat Hitler nampak santai. Pelayan menaruh kaki Hitler yang terluka di sofa. Sang pemimpin Nazi itu nampak nyaman. Saat bincang-bincang, tiba-tiba Hitler membuka lengannya dan berkata,”Betapa indahnya ketika dua orang saling jatuh cinta.”

Schroeder dan Dara terheran heran dengan tingkah Hitler tersebut. Mereka berdua tak pernah melihat Hitler seperti itu. Sang Pemimpin bersikap misterius.

Setelah kejadian itu, Schroeder dan Dara menghampiri dokter Morrel dan bertanya kenapa bos mereka bertingkah aneh seperti itu.

“Wah kalian memperhatikan, ya?” kata Morrel.

“Saya memberi Hitler suntikan berisi hormon dari buah zakar banteng,” lanjutnya.

Perawatan Morrel memang mendapat kritikan dan sempat menjadi pembicaraan di antara dokter-doker lainnya karena membuat Hitler makin ketagihan obat-obatan yang diresepkannya.

Pada 20 Juli 1944, dokter Erwin Giesing yang dipanggil untuk mengobati kerusakan gendang telinga Hitler, menjadi saksi bagaimana Morrel memberi obat yang begitu banyak untuk Hitler.

Sebagian obat tersebut mengandung racun yang sangat kuat, yang mengakibatkan tangan kiri Hitler terus bergetar dan pengelihatannya makin memburuk.

Sinus Hitler

Dokter Theodor Morell, dokter pribadi Hitler menjadi orang yang bertanggung jawab untuk membuat sang Fuhrer selalu kelihatan prima. Dia menyuntikan obat-obat yang hingga kini tak diketahui jenisnya. Hanya keduanya yang tahu sampai maut mengambil nyawa mereka.

Namun, jawaban atas semua misteri itu adalah Methamphetamine, obat yang sekarang lebih dikenal dengan sabu-sabu. Obat yang memengaruhi aktivitas otak dan tubuh.

Dokter-dokter Jerman pada Perang Dunia kedua meresepkan Methamphetamine untuk para tentara yang kelelahan hebat, depresi, sekaligus juga bisa mengembalikan tenaga.

Untuk Hitler, dokter memberi obat ini agar dia bisa mengatasi masalah sinusnya.

“Namun, kami tidak tahu berapa banyak obat-obatan ini diberikan pada masa itu,” kata Stephen Snelders ahli sejarah Utrecht University Belanda yang mempelajari mempelajari penggunaan obat-obatan pada masa Nazi Jerman.

Amerika juga memakai obat ini

Profesor Kristen Keefe ahli farmasi dan racun dari Universitas Utah mengatakan, sabu-sabu dan kokain meningkatkan pelepasan dopamine dan serotine di dalam otak, yang berakibat munculnya rasa segar dan gembira.

Keefe juga menyebut Opioid yang disebabkan obat itu menyembuhkan rasa sakit, membuat santai dan gembira yang berlebihan.

“Pastinya jika anda punya tentara, maka anda tak ingin mereka kesakitan,” kata Keefe. Namun efek negatif dari obat ini menyebabkan kematian jika diberikan secara berlebihan.”

Keefe menambahkan, pada Perang Dunia Kedua Methamphetamine digunakan juga di Amerika, Inggris, dan Jepang, untuk tantara mereka agar tetap tersadar dan kuat dari tekanan serta tidak kelelahan.

Amerika belakangan pernah menyebut bahwa  pasukan jihad dari Suriah kemungkinan menggunakan narkoba jenis Captagon yang dapat membangkitkan semangat dan perasaan gembira.

Pada tahun 2002, dua pilot Amerika menghadapi tuntutan hukum karena tidak sengaja membunuh empat pasukan Kanada saat perang di Afganistan Selatan. Namun, pengacara dua pilot tersebut mengatakan klien mereka dipaksa untuk mengonsumsi amphetamine yang berakibat pada kemampuan mereka untuk mengambil keputusan.

“Pilot-pilot itu menelan Dexedrine, atau dextroamphetamine, yang lebih dikenal dengan istilah ‘go pills’ untuk membuat mereka sadar dan waspada,” kata Keefe.

(Diazz/BBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here