Killing Hitler

0
1800
Adolf Hitler

I might be killed by a criminal. Or by an idiot, at any time—Adolf Hitler

BarisanBerita.com,- Sang Diktator terlihat pucat, resah dan tangannya gemetar. Sebuah bom meledak dan hampir membunuhnya, namun dia selamat. Hitler berhasil memperdaya kematian.

Sang Fuhrer berhasil lolos dari sejumlah percobaan pembunuhan.

Lalu, apakah dia beruntung atau memang mampu mencurangi maut.

Sejarah menulis, pria Jerman ini memang bukan orang biasa.

Tahun 1933 menjadi tahun pertama upaya pembunuhan Hitler. Di tahun itu mantan prajurit perang Dunia Pertama tersebut menang pemilihan umum, dan sejumlah musuh berusaha menghabisi nyawanya. Berkat pengawalan ketat, hidup Hitler berhasil diselamatkan.

Sistem pengawalan

Sejak percobaan pembunuhan itu, Hitler selalu membekali dirinya dengan pistol, meski sistem pengawalan kala itu sudah sangat ketat dan rapi.

Karena sudah merengkuh kekuasaan yang begitu besar, Hitler lewat Heinrich Himmler kemudian membentuk pasukan pengawal yang dapat dipercaya.

Mereka yang ingin mendaftar menjadi pengawal harus lulus sejumlah syarat; berpenampilan Nordic (Eropa), tinggi badan 1.80 meter, tidak pernah terlibat tindak kejahatan, berambut pirang dan bertubuh atletis.

Sistem keamanan juga diterapkan di kantor Hitler. Siapapun yang akan bertemu Pemimpin Nazi itu harus melewati beberapa meja pemeriksaan. Tamu harus meninggalkan tanda pengenal, hingga akhirnya diterima di ruangan sang Pemimpin.

Soal keamanan transportasi juga jadi perhatian tim pengawal. Hitler yang menyukai mobil, dibekali kendaraan antipeluru, ban dan bodi mobil juga dilapisi bahan antipeluru.

Untuk urusan transportasi udara, Hitler pun hanya percaya pada satu pilot bernama Hans Baur. Tak ada pilot lain selain pria tersebut.

Maurice Bavaund

Percobaan pembunuhan terjadi lagi. Pada Desember  1938, seorang lelaki asal Swiss, Maurice Bavaund, ditangkap pasukan khusus Jerman, Gestapo, karena memalsukan tiket kereta dan membawa pistol. Lewat introgasi yang keras dan brutal, akhirnya Bavaund mengaku berniat menghabisi nyawa Hitler.

“Aku hampir saja memuntahkan peluru ke arah Hitler, tapi kerumunan orang dan dua teman dekatnya berhasil menghalangi niatku,” demikian pengakuan Bavaund.

Lewat pengadilan, hakim memutuskan memvonis mati dengan pisau Gioulatine kepada pria asal Swiss tersebut.

Operasi Foxley

Inggris juga berkeinginan untuk melenyapkan Hitler. Dinas Rahasia Inggris sebelum MI6, yaitu Special Operation Executive (SOE) pada tahun 1944 berencana mengirim sniper untuk menewaskan sang Fuhrer di tempat peristirahatannya di daerah Berghop, area perbatasan Austria dan Jerman.

Tempat Hitler ini dibeli sejak tahun 1933, merupakan wilayah yang sulit dijangkau oleh musuh karena dikelilingi hutan liar, dan selalu dijaga ketat dengan patroli rutin oleh pasukan Jerman, ditambah dengan lilitan kabel kawat di seluruh area.

SOE mengumpulkan info tentang kebiasaan Hitler; Pemimpin Nazi ini pada sore hari suka berjalan di luar kediamannya. Dia suka menyusuri bukit bersama sejumlah tamu, lalu balik lagi ke rumahnya, minum teh dan makan sepotong kue apel.

Kebiasaan Hitler ke luar rumah dan berjalan-jalan, membuka kesempatan bagi penembak jitu (sniper) untuk menembak pemimpin Nazi ini.

Namun operasi rahasia itu hingga akhir perang tak terwujud karena sejumlah alasan, diantaranya kekhawatiran bahwa penduduk Jerman akan lebih fanatik memerangi pasukan sekutu karena kehilangan pemimpin pujaan mereka.

Kolonel Thornley dari Seksi X mengatakan, mengganti posisi Hitler malah akan membuat Dia kuat, dan jika Hitler gagal dibunuh, bakal timbul mitos bahwa Jerman akan selamat jika Hitler tetap hidup.

Hingga November 1944 Operasi Foxley tak jadi dilaksanakan karena tak mendapat lampu hijau dari petinggi militer Inggris.

“Operasi ikan sarden”

Banyak tentara dan perwira militer Jerman tak setuju dengan cara Hitler melakukan aksinya, termasuk pembunuhan besar-besaran kepada kaum Yahudi. Metode kejam dan sangat tidak berperikemanusiaan membuat mereka yang beragama Katolik dan menyaksikan pembantaian oleh pasukan SS Nazi, merasa muak, serta ingin mengakhiri kekejaman tersebut.

Dan mencabut nyawa Hitler dianggap satu-satunya cara mengakhiri catatan gelap militer Jerman. Sejumlah perwira pembangkang berkumpul dan merencanakan strategis mengakhiri dominasi Hitler.

Berawal dari pembantaian kaum Yahudi pada tahun 1942 di Kota Dubno, Polandia. Seribuan kaum terpinggirkan itu dikumpulkan di sebuah lapangan di tengah hutan.

Mereka, para calon korban, diperintahkan untuk melepas  pakaian, sepatu dan apapun benda yang melekat pada tubuh mereka. Lantas digiring ke sebuah lubang yang telah dipersiapkan, kemudian kepala belakang mereka ditembak peluru. Lubang kuburan ditutup ketika telah penuh. “Mirip bungkus ikan sarden” begitu julukan serdadu SS Nazi saat mengubur tubuh para korban yang bertumpuk-tumpuk.

Beberapa perwira Jerman tak tahan dengan aksi kejam dan brutal tersebut. Salah satunya bernama Axel von

dem Bussche Streithorst, berpangkat Letnan.

Perasaannya makin teriris ketika seorang wanita berumur dua puluh tiga tahun, menangis dan memegang kakinya sambil memohon, ”tolong aku tuan, tolong…,” isaknya.

Axel hanya bisa termangu, dia tak bisa berbuat apa-apa,  hingga seorang prajurit SS menarik perempuan itu, dan menembaknya.

Hampir Menculik Hitler

Ada niat untuk membawa para prajurit SS itu ke Mahkamah Militer, tapi Axel sadar dia tak cukup power untuk melakukan itu.

Setelah kasus pembantaian itu, Axel pelan-pelan berusaha mencari perwira yang juga memiliki perasaan sama—anti Hitler.

Upaya melenyapkan Hitler juga sempat dilakukan dengan cara menculik.

Komandan pasukan bernama Kurt von Hammerstein Equord berusaha mengundang Hitler datang ke markasnya, namun di saat bersamaan Hitler tidak bisa karena dia sedang berkunjung ke Paris.

Padahal jika sukses menculik Hitler, Kurt von Hammerstein Equord akan menahan pimpinan Jerman itu dan dibawa ke Mahkamah Militer untuk dihukum berat hingga hukuman mati.

Pemerkosaan

Senin, 30 April 1945, wajah Berlin tak lagi cerah, udara diliputi asap tebal arteleri milik pasukan Rusia. Para tahanan Jerman kabur dari selnya, dan penjaga lebih dulu menghilang. Mereka, para penduduk Jerman yang mencoba menyerah, berakhir pada kematian oleh peluru tentara Merah Rusia yang datang mengepung Ibu Kota Jerman tersebut.

Sementara kaum perempuan begitu takut pada nasib mereka, yang berujung pada pemerkosaan.

Untruk menghindari “balas dendam” pasukan antiJerman itu, kaum perempuan melakukan  berbagai cara agar tak diperkosa. Sebagian menghitamkan wajah mereka, mengikat erat kaki mereka, dan yang paling favorit adalah menyuntikan tubuh mereka dengan virus flu, lalu ada juga yang berpura-pura gila.

Perempuan berambut pirang adalah kaum yang paling beresiko karena paling diincar tentara Rusia.

Sementara perwira Rusia masih memiliki perilaku baik dan masih fokus dalam upaya mengusai Jerman, namun hal itu berbeda jauh dengan para prajurit mereka, yang menjadi “wabah” berbahaya bagi penduduk Jerman.

Menjelang malam hari, para prajurit Rusia dengan kondisi mabuk minuman keras, mencari kaum perempuan lalu memperkosanya.

Di Berlin saja ada lebih dari seratus ribu perempuan mengalami perkosaan saat Rusia mengepung kota itu. Dan ada sekitar sepuluh ribu perempuan mati oleh tangan mereka sendiri alias bunuh diri daripada mengalami pelecehan seksual alias diperkosa.

Satu per Satu

Entah “dilindungi” oleh alam semesta atau memang mampu menghindari kematian, Hitler selalu lolos dari incaran rivalnya. Sang Fuhrer nyatanya tewas bukan oleh musuh, melainkan tangannya sendiri.

Tanpa diketahui tentara Rusia, Hitler masih bersembunyi di Bunkernya. Di dalam sana, suasana tenang tapi diselimuti putus asa. Hitler bersama dua puluh lima orang di akhir April 1945, termasuk tunangannya Eva Braun, serta Gobbel bersama istri dan enam anaknya.

Rata-rata kurang tidur, itu yang dialami penghuni bunker. Mereka takut bom Rusia bakal jatuh dan menghancurkan tempat persembunyian di bunker itu.

Akhir April, menjadi hari terakhir untuk semuanya. Hitler menggandeng Eva Braun yang baru dinikahinya, ke sebuah kamar. Sebelumnya, sang Fuhrer dan istrinya bersalaman dengan anak buah untuk terakhir kali.

Tubuh Hitler terlihat lemah, dan tak ada lagi semangat dalam hidupnya.

Dalam kesaksian salah satu anak buahnya, Eva Braun yang pertama mati dengan menggigit kapsul sianida, disusul Hitler yang kemudian menembak kepalanya.

Sebelumnya, anjing peliharaan Hitler dibunuh dengan racun dan ditembak.

Sementara, Menteri Propaganda Nazi, Gobbel bersama istri dan enam anak mereka setia menemani Hitler, hingga kematiannya. Enam anak Gobbel dirayu untuk mau disuntik. Suntikan tersebut berisi cairan yang dicampur sianida. Gobbel dan istrinya juga mati dengan racun sianida.

“Aku tak mau tertangkap dalam keadaan hidup atau mati,” demikian kata-kata terakhir Hitler.

(Sumber: Killing Hitler by Roger Moorhouse)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here