Kasih, Kuharap Kau Tak Membaca Surat ini

0
505 views
Missing you

BarisanBerita.com,- Mereka tak sempat, bahkan tak bisa lagi menemui orang terkasih. Tulisan tangan di surat yang mereka kirim menjadi pesan terakhir tentang perasaan sayang kepada orang tercinta.

Satu surat berisi ungkapan hati pada sang kekasih, seolah dunia hanya milik mereka berdua, dengan harapan jika kembali nanti, jalinan cinta mereka akan berlanjut di kehidupan baru nan indah.

Juga sepucuk surat terakhir dari sang ibu untuk anak tersayang karena dia tak pernah bisa mendampingi mereka tumbuh hingga dewasa.

Sedihnya, jika surat ini sampai dan kemudian dibaca, itu berarti sang penulis surat telah tiada untuk selamanya.

I will always be looking over you

Gunner Lee Thornton, 22, dari Blackpool, Inggris, tertembak parah saat bertugas di Basra, Irak, pada 7 September 2006.

Lee akhirnya meninggal dunia. Dia sempat menulis surat untuk tunangannya, Helen O’Pray, 21 tahun, dengan harapan dia masih bisa kembali pulang.

Hai sayang, aku tidak tahu kenapa menulis surat ini, karena aku berharap kau tak pernah membacanya, sebab jika kau baca, itu artinya aku sudah tiada. Dan itu juga berarti aku tak punya kesempatan lagi untuk memberitahu betapa aku sangat mencintaimu.

Kau telah menunjukan padaku apa itu cinta dan rasanya dicintai. Setiap kali kau menciumku, bibirmu begitu lembut. Aku bisa merasakannya. Pertama kali aku menciummu rasanya begitu ajaib, dan detak jantungku berdegup keras sama sepertimu.

Kau detak jantungku, jiwa ragaku, kau adalah aku. Tanpamu aku bukan siapa-siapa. Aku mencintaimu.

Helen, kau kekasihku, tunanganku dan teman baikku.

Kau ada di saat aku butuh pertolonganmu—kau adalah orang yang kucari saat ingin melihat senyummu, dan membutuhkan pelukanmu. Saat jauh, aku merasa jiwaku ada di sisimu.

Helen, kau tunjukan padaku bagaimana menjalani kehidupan dan bagaimana rasanya bahagia. Asal kau tahu, saat aku tersenyum, kebahagiaan ikut menyertaimu. Kau membuatku hangat.

Kau sangat berarti untukku. Kau segalanya untukku, dan segenap hatiku mencintaimu. Kau adalah kebahagianku.

Setiap malam aku pandang fotomu. Dan di saat akan terlelap, aku mencium jariku seakan mencium keningmu.

Helen, aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih berarti dari sebelumnya. Kau adalah cintaku, gadis impianku. Jika nanti aku tiada, jangan kau anggap aku tak bersamamu. Aku akan selalu menjagamu, menjagamu agar selalu aman.

Saat kau kesepian, pejamkan matamu dan aku akan ada di sampingmu.

Aku selalu mencintaimu, selalu.

Lee.

I only discovered what living was about when I had you two babies

Anne Reid, 33, wanita asal London Timur, pada tahun 1992, dinyatakan terkena kanker tulang leher belakang. Anaknya, Kandy dan Karl, berusia satu dan dua tahun. Mereka tak punya ayah karena Anne bercerai. Dua tahun kemudian, Anne menyerah dengan penyakitnya—dia meninggal.

Sedih karena dia tak bisa mendampingi putra dan putrinya, Anne menulis surat dengan harapan mereka akan mengenangnya dan bisa terus tumbuh dengan baik.

Anakku sayang, Karl dan Kandy,

Saat kalian membaca surat ini, kalian pasti tahu kotak di laci, di situ ibu simpan banyak kenangan untuk kalian dan kalian pasti tahu kenapa.

Ketika ibu menoleh ke belakang, ibu sadar betapa hidup begitu indah dengan kehadiran kalian berdua.

Dulu, saat ibu masih muda, ibu kesulitan untuk memiliki anak. Beberapa dokter ibu datangi untuk berobat agar ibu bisa mengandung, dan keajaiban akhirnya datang. Kalian lahir.

Sedihnya, saat kebahagiaan datang, di saat itu juga penyakit kanker menghinggapi tubuh ibu.

Yang pertama melintas di pikiran ibu, bagaimana dengan anak-anaku nanti, mereka tumbuh tanpa kehadiranku. Siapa yang akan menasihati kalian jika ibu telah tiada?

Ibu sayang kalian berdua, sayaang sekali. Namun, saat menulis surat ini, ibu tak bisa lari dari kenyataan bahwa kalian masih begitu belia. Saat kalian remaja nanti, ingatan kalian tentang ibu pasti samar-samar. Kalian pasti akan bertanya seperti apa ibu. Apakah ibu galak? baik? Lembut? Adil? Atau sangat disiplin?

Pasti kalian penasaran dan ingin terus mencari tahu tentang ibu.

Kotak yang ibu simpan berisi foto-foto dan video berisi kalian dan ibu, dan ada juga rekaman suara ibu yang berisi nasihat untuk kalian berdua. Di situ juga ada surat-surat dan minyak wangi yang ibu suka, sehingga kalian bisa mengingat bau parfum ibu seperti apa.

Ibu juga menyimpan nama-nama orang yang kenal ibu semasa hidup.

Ibu menyimpan dua sapu tangan dari katun untuk kalian berdua, untuk menyeka air mata kalian.

Nak, hidup itu tak pernah berhenti dari kegagalan dan keberhasilan. Kau bisa terjatuh karena berbuat kesalahan, namun semua itu adalah bagian dari jalan menuju dewasa.

Banyak orang tua akan mencegah anak-anak mereka berbuat kesalahan yang sama, dan dari pengalaman ibu, kadang anak tak mengiraukan nasihat ayah atau ibunya.

Mungkin kalaupun ibu masih hidup, kalian pastinya tak selalu mendengar nasihat ibu. Namun memang ibu tak mau menjadi penentu cara kalian mengarungi kehidupan.

Kalian harus punya keputusan sendiri dalam menghadapi tantangan hidup. Ibu hanya ingin kalian bisa melihat bagaimana cara ibu mengatasi masalah, dan kemudian kalian punya pilihan sendiri. Ibu harap kalian bisa mendapat cara terbaik dan membuat keputusan yang tepat.

Kalai harus tahu, ibu sangat-sangat menyayangi kalian. Kalian harus tahu, ibu sayanggggg kalian.

Jika mungkin, ibu masih ingin membagi perasaan ini pada kalian, meski ibu sudah berada di kehidupan yang abadi di atas sana. Kalian permata hati ibu, dan ibu akan selalu bahagia untuk kalian selamanya.

Segenap cinta,

Ibu.

What dreams I had for our boy

Penjelajah Antartika, Kapten Robert Scott di tahun 1912 menulis surat terakhir untuk istrinya, Kathleen, dan putra mereka, Peter, yang berusia tiga tahun. Robert tak mampu lagi bertahan di tengah cuaca dingin luar biasa, di bawah nol derajat. Dia kedinginan dan kelaparan—Scott meninggal.

Untuk istriku, sayangku. Sebenarnya tak mudah menulis surat ini di tengah cuaca dingin, tujuh puluh derajat di bawah nol, dan di dalam tenda yang tersisa…

Kami berkumpul di sudut dalam tenda dan aku ragu bisa terus menghangatkan tubuhku. Namun aku curi-curi kesempatan untuk menulis surat ini.

Jika sesuatu terjadi pada diriku nanti, aku ingin kau tahu betapa berartinya dirimu untukku.

Istriku, aku tak keberatan jika kau nanti mencari penggantiku. Jika ada pria tepat yang datang untuk menolong hidupmu, kau berhak atas itu, kau berhak bahagia.

Dan anak kita, ajaklah dia untuk tertarik pada sejarah alam. Itu lebih baik dari pada permainan. Cobalah buat dia percaya pada Tuhan.

Sayangku, aku tak tahu apa yang aku punya untuk anak kita. Istriku, aku tahu kau akan tenang menghadapi keadaan ini—kau dan foto anakmu selalu ada di pelukakku selamanya.

Begitu banyak kisah yang akan kuceritakan tentang perjalanan ini, cerita yang akan kukisahkan pada anak lelaki kita, tapi, oh betapa kejamnya kenyataan.

An imprint on my heart for ever

Melissa Nathan, seorang penulis, didiagnosa terkena kanker payudara pada 2001 ketika usianya 33 tahun. Dua tahun kemudian dirinya dikarunia anak laki-laki dari suaminya, Andrew Saffron. Itu seminggu sebelum kankernya menyebar ke dalam hati dan tulangnya. Melissa wafat di usia ke-37, setelah merayakan ulang tahun ketiga untuk putranya. Dia menulis surat terakhir untuk keluarganya.

Aku tahu, aku tidak dalam kondisi sehat, tulisan ini nantinya akan terbit saat aku telah tiada, jadi tolong baca ungkapan hatiku.

Yang pertama, untuk orang tuaku terkasih, ayah dan ibu yang telah membalut hidupku dengan rasa sayang, dukungan dan persahabatan. Aku merasa beruntung melihat kalian berdua.

Ayah dan Ibu, jangan pernah berpikir kalau aku begitu sulit dalam menjalani hidup ini. Sepanjang umurku, aku berterima kasih telah memiliki kalian berdua. Aku bahagia dalam kedamaian.

Untuk suamiku, Andrew, aku sangat menghormatimu dan mencintaimu. Suamiku, aku yakin kau dan yang lain pasti mampu melewati ini semua. Namun, aku tahu selama dua belas pernikahan kita, tak mudah bagimu menjalaninya. Aku senang dan beruntung bisa mengenalmu.

Kau lelaki tangguh, namun berhati lembut, teman baikku, kau segalanya bagiku. Aku ingin kau nanti bahagia, menjalani semuanya dengan cinta dan kegembiraan.

Dan untukmu anak lelakiku, Sammy, Ibu ingin bersamamu selama mungkin, sayangku, namun ibu tak bisa seperti itu. Sedih karena harus meninggalkanmu di saat usiamu baru tiga tahun, nak. Tapi, dirimu sudah terpatri di hati ibu. Menjadi ibu untukmu, begitu berharga, nak.

Apa yang ibu inginkan untuk anak lelaki tersayangnya ini? Ibu ingin kau bahagia. Kau punya ayah yang hebat, serta keluarga yang menjagamu.

Jika kau besar nanti, pergilah ke tempat yang kau tahu karena kau segalanya untuk ibu. Dan, jangan nakal ya, jangan ciuman lama-lama dengan gadis yang sayang padamu. Ibu ada di atas awan,  menciummu dari jauh.

Time is so precious

Lance Corporal Ben Hyde, 23, asal Northallerton, North Yorkshire, Inggris, seorang polisi militer, tewas akibat bom bunuh diri di Majar al-Kabir, dekat Kota Basra, Irak, pada Juli 2003. Surat terakhir yang ditulis Lance untuk orang tuanya, dibacakan pada saat pemakamannya.

Papi, Mami, jika membaca surat ini, kalian pasti paham, aku tak akan pulang. Aku ada di atas langit bersama bintang sambil memandang kalian dan memastikan papi dan Mami selamat.

Aku minta maaf kalau pernah membuat kalian kecewa. Terima kasih karena menjadi orang tua terbaik untukku. Kalian memberi apapun yang aku inginkan.

Aku berdoa agar Papi dan Mami panjang umur, dan jangan pernah sia-siakan waktu yang ada karena saat duduk di sini sambil menulis surat, aku jadi sadar betapa berharganya setiap detik yang berjalan.

Tolong sampaikan pada anggota keluarga bahwa aku mememikirkan mereka dan yakinkan aku kalau mereka peduli pada kalian berdua.

Memaafkan pantas diterima setiap orang karena suatu hari hal itu akan menjadi terlambat untuk selamanya.

Papi dan Mami, kalau kalian memikirkan aku, aku juga memikirkan kalian. Jaga diri ya, Papi dan Mami.

Dari Ben dengan seluruh kasih sayang.

I am safe now

Anthony Butterfield, 19 tahun, kelahiran California, Amerika, menjadi salah satu marinir yang terbunuh oleh serangan bom bunuh diri, bom menghancurkan truk yang ditumpanginya, pada Juli 2006. Anthony menulis surat untuk orang tua, saudara laki dan perempuannya.

Hai Mam, dan Dad, Jeremy dan Bailey, jika kamu menerima surat ini, pasti kamu sudah paham. Aku minta maaf . Tapi kini aku aman. Aku bersama Tuhan sedang melihat kalian. Aku akan selalu bersama kalian. Aku mau cerita tentang kenangan yang selalu aku simpan.

Saat malam hari beersama Mam, nonton acara masak-masak di tv, sambil tangan ibu mengusap punggungku, dan aku ingat waktu kecil ibu selalu memberiku segelas susu coklat.

Bersamamu Dad, diantar ke pertandingan voli. cuma aku dan Dad.

Adik perempuanku, Britney, saat kau mengantarku ke sekolah, aku merasa keren karena murid yang lain diantar oleh orang tuanya.

Bailey, ingat gak saat kau datang ke kamarku, kita ngobrol, dan bersama Britney, kita jalan-jalan.

Kalian sangat berarti untukku. Aku berharap kalian bangga. Dari dalam hatiku yang paling dalam, aku mencintai kalian. Sekarang aku di surga lebih dulu, dan pasti akan melihat kalian lagi.

Dari anakmu tercinta/kakak dan adik.

Anthony.

(Sumber: Daily Mail)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here