Sayang, Ku Antar Kau ke Surga

0
585
Ilustrasi

BarisanBerita.com,- Dua orang hebat ini mengungkap kasus pembunuhan yang lebih dari delapan belas tahun tak terpecahkan. Richard Walter, seorang ahli Psikologi Forensic (ahli kepribadian pelaku kejahatan), lalu Frank Bender ahli pembuat patung yang memiliki panca indra keenam dan terkenal karena berhasil merekontruksi dan mengungkap sejumlah tengkorak korban pembunuhan yang awalnya tak bisa dikenali identitasnya.

John List dan keluarga

Mereka berdua tergabung dalam keanggotaan Vidocq Society, sebuah organisasi yang membantu memecahkan kasus-kasus pembunuhan tak terungkap.

Sayangnya peran dua orang ini tak diungkap secara fair oleh oleh polisi maupun pers. Namun beruntung selalu ada kebenaran dan bukti tentang sumbangsih mereka yang kemudian diakui dalam pemecahan kasus ini. Semua termuat di buku The Murder Room.

Ahli-Rapi-Teliti

November 1971, John Emil List, seorang akuntan berdiri tenang di depan jendela di lantai dua rumahnya di Breezy Knoll, New Jersey. Dia melihat Herbert Arbast sedang mengantar enam botol susu ke depan pintu rumahnya. List sebelumnya mengatakan pada tukang susu itu, untuk berhenti mengantar hingga pemberitahuan lebih lanjut. List beralasan dia dan keluarganya akan pergi berlibur ke luar kota.

Sebagai seorang wakil presiden di sebuah bank, List terbilang mapan. Dia punya rumah besar berlantai tiga, mobil, dan tiga orang anak yang manis. Dua bocah laki-laki dan seorang gadis remaja mengisi hidup List dan sang istri Helen.

Penampilan List, seperti orang keuangan pada umumnya, rapi dan teliti dalam melakukan apapun, termasuk menulis, yang kemudian menjadi bagian dari skenario kejahatan yang akan dilakukannya.

Di pagi yang dingin itu, List menunggu dengan sabar saat istrinya turun dari kamar tidur di lantai dua. Setiap pagi Helen akan mengambil segelas kopi lalu duduk di kursi dekat meja makan. Helen lalu menatap pemandangan di luar jendela. Itu menjadi ritual Helen setiap pagi.

Perlahan List mendekat ke belakang tubuh istrinya. Helen tak tahu siapa yang menghampirinya karena peluru dengan cepat menembus tengkoraknya. Tubuh sang istri langsung terjerembab ke lantai. List baru saja menembak mati istrinya sendiri. Tak ada yang mendengar suara tembakan karena tiga anak mereka sedang bersekolah.

Namun, suara menggelegar dari peluru yang ditembakan List membuat ibu kandungnya, Alma kaget. Ibu kandung List yang berumur delapan puluh lima tahu berusaha mencari tahu asal suara itu. Tapi itu akan pernah terjadi…List mendekati ibunya lalu menembakan senjatanya ke bagian atas mata Alma. Tubuh wanita renta itu terjengkang ke bawah. List dengan tenang membungkus tubuh ibunya dengan karpet yang ada di ruangan kamar itu.

Selama lebih dari delapan belas tahun kasus itu tak terpecahkan. Polisi sempat menyebut si pembunuh merencanakan kejahatannya dengan hampir sempurna.

Usai menghabisi Alma, List masuk ke ruangan istrinya. Dia mencuci darah yang menyiprati tangannya, kemudian mandi. Dia melakukannya dengan tenang.
List mengganti baju dan dasi dengan yang baru. Masih ada pekerjaan yang akan dilakukannya.

Dia lalu menelepon perusahaan asuransi Mutual Life dan bilang bahwa dirinya membatalkan pertemuan karena akan membawa keluarganya membesuk ibu mertua yang sakit keras.
List lalu menulis surat untuk Kepala Sekolah bagi tiga anaknya dan menerangkan bahwa mereka tidak masuk sekolah karena masalah darurat dan terpaksa harus pergi ke luar kota.

Roti dan kopi
Selesai berganti baju, List menuju meja dapur dan mengambil roti yang awalnya akan dimakan istrinya. Dia mengunyah roti sambil menyeruput kopi…sekali lagi dengan tenang meski ada bercak darah istrinya yang belum selesai dia bersihkan. List kemudian mengendarai mobilnya untuk menjemput putrinya Patricia yang kerap dipanggil Patty. Anak perempuannya itu memang kebetulan ingin pulang lebih awal karena tak enak badan. Sesampai di halaman belakang, List mendahului putrinya masuk ke dapur, dan dia lalu bergegas bersembunyi di balik pintu. Saat Patty masuk, List menembak belakang kepala putrinya. Patty tewas.

Sebelum aksi sadisnya itu, List sehari sebelumnya mengambil tabungan ibunya sebanyak 2,000 dollar. Itu simpanan terakhir sang ibu yang sebelumnya berjumlah 200,000 dolar. Kini semua habis dikuras List.

Di benak List, tinggal dua anak lakil-lakinya yang akan segera meninggalkan dunia ini. Pukul tiga sore, List menjemput anak laki-lakinya, Fred yang berusia tiga belas tahun. Fred sempat menanyakan kenapa Patty pulang lebih awal. List tak menjawab.
Sampai di rumah, List masuk ke rumah lebih dulu untuk mengambil pistolnya. Dia lalu menembak putranya dari belakang. Fred merenggang nyawa lalu terdiam selamanya.

Satu jam kemudian, tepatnya pukul empat sore, putranya, John Junior (Jr) pulang lebih cepat. Lagi, List bersembunyi di belakang pintu dapur. Namun, kali ini ada perlawanan. John jr meringkus tangan ayahnya. Dia melawan dan tak ingin tertembak. List tahu anaknya yang satu ini memang narsis dan berani melawan. Tapi List memang harus menghabisi nyawa putranya tanpa ampun. Lima mayat dengan mata dibungkus kain dan handuk menjadi saksi yang tak lagi bisa berkata-kata. List senang semua berjalan sesuai rencana.
Empat mayat kemudian diseret ke ruang tamu. “Ya Tuhanku yang Maha Pengasih, berilah ampun pada jiwa-jiwa ini. Biarlah mereka pergi jauh dari dunia yang penuh dosa ini dan dari kematian menuju kehidupan yang abadi di sana. Tolong kami…” kata List ke dirinya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here