Masih Mega

0
1144
Kapal melawan badai

BarisanBerita.com,- Konflik Ganjar dan kubu Puan Maharani untuk sementara berada di status quo, dan menunggu arahan selanjutnya dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berupaya meredam potensi munculnya persaingan antara kader yang mendukung Puan Maharani dan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden.

Menurutnya, itu terlihat dari instruksi yang dikeluarkan Megawati pada 11 Agustus lalu. Dalam instruksinya, Megawati meminta kader untuk tidak bicara soal calon presiden.

“Intinya meredam potensi faksionalisasi dan ‘persaingan’ kader di level bawah antara kader ‘pendukung’ Puan dan Ganjar,” kata Wasisto seperti dirilis CNNIndonesia.com, Selasa (24/8/2021).

Ia mengatakan hal itu bisa saja terjadi karena kemungkinan kader PDIP di level bawah mulai terbelah soal dukungan capres. Di satu sisi hendak mendukung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, di sisi lain ada pula kader yang inisiatif memasang baliho Ketua DPR Puan Maharani di banyak lokasi.

Wasis berpendapat kemunculan nama Puan dan Ganjar belakangan ini secara tidak langsung berdampak dilematis bagi DPP PDIP.

Kondisi itu terjadi lantaran PDIP harus menjaga aspirasi masyarakat dari ‘kandang banteng’ Jawa Tengah. Namun, di sisi lain juga dihadapkan pada tradisi suksesi berdasar narasi ‘ideologis-biologis’ yang mana Puan Maharani adalah cucu Bung Karno.

Wasis menilai upaya Mega mengeluarkan instruksi agar kader tak berbicara capres ada aspek positif dan negatifnya. Dari sisi positif, lanjut dia, suara dan kader-kader partai kembali bersatu dan solid.

“Sehingga persoalan kandidasi di tahun 2024 itu murni keputusan kolektif dan bukan manuver individu,” kata Wasis.

Sementara sisi negatifnya, kata Wasis, instruksi Mega itu sama saja mengabaikan ekspektasi kader dan publik terhadap tokoh dari partainya sendiri.

“Jika ditinjau secara elektoral, langkah itu justru berdampak 50:50 bagi PDIP sendiri karena putusan Ketum itu untuk menghindarkan potensi perpecahan, namun di satu sisi nama-nama potensial dalam partai menjadi tertutup peluangnya untuk menarik simpati massa,” kata Wasis.

Sebelumnya, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengeluarkan instruksi agar para kader-kadernya tak membicarakan capres dan cawapres 2024 di tengah masa pandemi.

Instruksi itu tertuang dalam Surat bernomor 3134/IN/DPP/VIII/2021 dan dikeluarkan pada 11 Agustus 2021 perihal penegasan komunikasi politik.

Sekretaris Jendral PDIP, Hasto Kristiyanto sempat mengatakan bahwa amanat Kongres V memberikan mandat kepada Megawati untuk memutuskan kandidat Capres dan Cawapres 2024. Instruksi itu, kata dia, juga dibuat semata-mata agar kader-kader PDIP berfokus pada penanganan pandemi virus corona.

Peran Megawati memang belum terganti, dan ini menjadi kelemahan dan kekuatan partai berkuasa tersebut.

Ketergantungan pada Mega menjadi kelemahan yang paling esential dan harus menjadi pekerjaan rumah PDIP untuk pelan-pelan melepasnya. Di sisi lain, peran putri Bung Karno ini memang menjadi kelebihan di tengah kondisi sejumlah partai yang retak akibat tak ada peran sentral.

Melihat dinamika PDIP yang sempat ramai karena persaingan ganjar dan Puan, menjadi perhatian banyak pihak tentang arah politik pada 2024 mendatang. Posisi Ganjar yang menang di sejumlah survei menjadi catatan tersendiri bagi PDIP, mengusung Gubernur Jawa Tengah itu atau Puan Maharani yang merupakan cucu Soekarno.

Lagi-lagi, semua ada di tangan Mega. Wanita yang “kenyang” pengalaman dihantam intimidasi di jaman Soeharto dan rival politiknya ini dianggap punya insting politik yang cukup kuat dalam mengarahkan PDIP.

Publik masih akan menunggu kemana telunjuk Megawati diarahkan, ke Ganjar atau bukan sama sekali.

(BBS/wo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here