Mossad The Killing Machine

0
1717
Gelang Mossad

BarisanBerita.com,- 800 kali misi operasi pembunuhan dilakukan Badan Intelijen Israel, Mossad, selama satu dekade lalu, dan ribuan nyawa melayang.

Pasta gigi beracun, dan menghinoptis tahanan untuk disuruh membunuh adalah sebagian dari cara Mossad menghabisi musuhnya, yang kemudian menjadikannya sebagai Mesin Pembunuh di muka bumi ini.

Wadie Haddad

Empat puluh tahun lalu, Wadie Haddad adalah sosok menakutkan dan sosok paling dicari. Pria yang dianggap berani, dan kejam ini merupakan pendiri organisasi sayap kanan radikal dari PLO, Palestina.

Wadie pernah melatih salah satu pelaku teror paling sadis di dunia, Carlos The Jackal, yang menjadi dalang dari pembajakan pesawat Air France, dengan mayoritas penumpang berwarga negara Israel. Pasukan negara Yahudi pun dikerahkan untuk menyelamatkan warga mereka.

Akibat kejadian itu, Mossad benar-benar bernafsu untuk melenyapkan Wadie Haddad selamanya.

Namun enam tahun setelah menandai manusia paling berbahaya itu sebagai orang “paling dicari”, Wadie Haddad masih bebas menghirup udara segar. Dia terlihat nyaman di negara pelindungnya, Baghdad, Irak.

Namun, Mossad yang dikenal sebagai badan intelijen paling kejam dan paling sabar menunggu musuhnya lengah, akhirnya punya kesempatan mencabut nyawa Wadie Haddad. Itu terjadi pada 10 Januari 1978. Seorang kaki tangan Mossad yang dijuluki si pemurung (orang dekat Wadie Haddad) berhasil menukar pasta gigi tokoh Palestina itu dengan pasta gigi beracun yang dibuat di sebuah laboratorium rahasia di Tel Aviv, Israel.

Cara kerja racun itu berproses secara perlahan. Setiap hari Wadie Haddad menggosok giginya dengan benda beracun tersebut, dan setiap hari pula dikit demi sedikit racun itu menumpuk di pembuluh darahnya.

Parade atelt Israel, yang 11 diantaranya tewas dibunuh kelompok PLO

Dan perlahan tokoh paling ditakuti Israel ini mulai sekarat. Kondisi ini membuat rekannya curiga, lalu menghubungi polisi rahasia Jerman Timur, Stasi, dan membawanya ke negara komunis itu. Namun, sepuluh hari kemudian nyawa Wadie Haddad melayang.

Apa yang dilakukan Mossad, menurut Jurnalis Israel, Ronen Bergman dalam bukunya, Rise and Kill First, merupakan bagian dari upaya pembalasan dendam.

Dan negara Israel yang didirikan dengan berlumuran darah itu, kemudian menjadi pemimpin dalam segala operasi pembunuhan bersifat rahasia.

Fatkhi

Nama pria ini hanya disebut Fatkhi, seorang lelaki Palestina yang menjadi tahanan Israel. Dia menjadi salah satu bagian dari operasi untuk membunuh pemimpin Palestina, Yasser Arafat.

Diilhami dari film Hollywood, The Manchurian Candidate, Mossad berusaha mencuci pikiran orang untuk menuruti kemauan mereka, itulah yang terjadi pada Fatkhi.

Mossad melakukan operasi ini pada tahun 1968 dengan memanfaatkan jasa seorang  psikolog asal Swedia. Tugasnya mencuci otak Fatkhi agar mau menjalankan misi melenyapkan nyawa pemimpin PLO itu.

Awalnya si psikolog memilih tahanan yang cocok, dan berujung pada Fatkhi. Mereka menghabiskan waktu tiga bulan menghinoptisnya. Mantra-mantra yang dibisikan ke pikiran Fatkhi adalah “Arafat jahat, dia harus dilenyapkan”.

Pada 19 Desemeber 1968, Mossad menyelusupkan Fatkhi ke Sungai Jordan dan kemudian memasuki jantung markas Arafat.

Lima jam Mossad menunggu hasil kerja keras mereka, namun apa yang terjadi? Misi gagal karena Fatkhi entah kenapa jadi sadar dan keluar dari alam pikiran hipnotisnya. Dia lalu melapor ke polisi dan menyatakan dirinya diperintah Mossad untuk membunuh Arafat.

Ali Hassan Salameh

Satu operasi rahasia Mossad yang bisa dianggap seperti adegan dalam film James Bond adalah misi melenyapkan Ali Hasan Salameh, otak dari pembunuhan 11 atlet Israel dalam Olimpiade Munich, Jerman, pada tahun 1972.

Mossad menggelar operasi itu pada tahun 1973 di musim panas, dengan target Salameh harus mati. Namun, pengejaran terhadap pria yang berjuluk “The Red Prince” itu terhenti. Tak ada kabar tentang keberadaan pria Palestina tersebut. Lenyap bak ditiup angin.

Salameh memang belajar dari kematian-kematian rekannya oleh Mossad, dan dia menghindari keramaian. Namun kesukaannya akan hidup mewah mengantar dirinya ke posisi yang diincar badan intelijen Israel itu.

Salameh menikahi wanita cantik asal Libanon, yang pernah menjadi ratu kecantikan di negara tersebut. Usai menikah, mereka berbulan madu ke Amerika. Banyak pihak bertanya bagaimana seorang tokoh teroris bisa berlibur ke negara Paman Sam yang anti teroris? Ternyata dari banyak informasi, Salameh memiliki “kartu turf” badan intelijen Amerika, CIA.

Amerika terpaksa melunak terhadap pria ini karena mendapat jaminan jika negara Adidaya itu menjauh dari urusan Palestina, maka diplomat mereka tak akan diserang.

Namun Israel tak gentar dengan “perjanjian” tersebut, dan tetap akan menghabisi Salameh.

Penantian lama mereka terbayar. Mossad mendapat informasi keberadaan Salameh di Libanon.

Pasukan pembunuh dikerahkan guna mengejar dan membunuh orang dekat Arafat tersebut.

Butuh beberapa hari mengikuti jadwal Salameh yang tak beraturan, hingga Mossad tahu jam berapa dia berangkat pergi dengan mercy-nya.

Sebuah mobil yang disewa Mossad kemudian dipasang bom diparkir tepat di belakang mobil Salameh, dan meledak sesaat mobil The Red Prince itu menyalakan mesinnya. Mossad dengan tepat menekan remotenya. Buum…tubuh Salameh hancur bersama sejumlah pengawalnya.

Ahli nuklir Iran

Bukan baru kali ini Israel berusaha menghentikan proyek nuklir negara Mullah tersebut. Di tahun 2002, Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, memerintahkan Kepala Mossad, Meir Dagan untuk mencari cara menghentikan ancaman Iran tersebut.

Sanksi ekonomi baik dari Amerika dan Eropa ternyata tak berdampak besar buat Iran. Negara itu masih tetap bertahan lewat jaringan gelap di pasar ilegal dunia, khususnya dalam hal penjualan minyak bumi.

Tekanan dan ancaman menjadi beban Meir Dagan untuk mencari langkah dramatis melenyapkan ambisi Iran memiliki senjata nuklir.

Puncaknya di tahun 2007 hingga 2015, lima tenaga ahli nuklir Iran dibunuh lewat jaringan Mossad di Iran. Tujuannya membuat teror dan rasa takut bagi ahli nuklir Iran lainnya yang bergabung dalam proses senjata berbahaya tersebut.

(Daily Mail, Dinns)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here