Tiket Sobek untuk Anies

0
476 views

Jakarta, BarisanBerita.com,- NasDem dianggap terlalu tergesa mengusung Anies sebagai Capres. Pasalnya, dua partai calon ”sejalan” tak jua memberi dukungan. Salah kaprah?

Euphoria kelompok pendukung Anies menyeruak kencang ketika sosok yang mereka puja itu mendapat tiket pencalonan presiden dari NasDem. Namun, sayangnya tiket yang diperoleh Anies masih setengah sobek alias belum dapat dukungan utuh.

PKS dan Demokrat yang dianggap bakal segera mendukung dan bersatu dalam poros yang diinisiasi Nasdem, ternyata masih belum berani bersikap.

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan pihaknya tak ingin buru-buru mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden untuk Pilpres 2024 meski mayoritas kader mendukungnya.

Mardani mengatakan PKS tak ingin mendeklarasikan calon presiden yang diusungnya sendirian. Ia khawatir parpol lain yang diproyeksikan akan berkoalisi jadi takut bergabung bila terburu-buru mendeklarasikan capres.

“Kalau kita deklarasi sendirian tiba-tiba yang lain takut enggak mau ikut deklarasi kasihan Mas Anies,” kata dia.

Mardani mahfum bila setiap partai politik memiliki pendukung dan pembencinya masing-masing. Karenanya, parpol pasti mempertimbangkan faktor tersebut ketika melangkah untuk memutuskan sesuatu.

Di sisi lain, dampak dari pencalonan Anies ternyata mulai menggerus suara Nasdem di Indonesia Timur.

Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkap temuan terkait suara Partai Nasdem setelah partai yang dipimpin Surya Paloh itu mendeklarasikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) 2024.

Hasilnya, berdasarkan survei, Partai Nasdem kehilangan banyak suara di Indonesia bagian Timur.

“Keputusan Partai Nasdem untuk mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden berdampak menurunnya suara partai ini dari Indonesia Timur. Sementara dukungan pemilih dari Indonesia Barat belum mengalami penguatan berarti,” demikian tulis SMRC dalam keterangannya, Jumat (7/10/2022).

Melalui akun YouTube SMRC, Direktur Riset SMRC Deni Irvani memberi paparan mengenai penurunan tajam suara Nasdem di Indonesia bagian Timur.

Awalnya, Deni membeberkan bahwa Nasdem selalu memiliki suara yang kuat di luar Jawa, yakni di Indonesia bagian Timur pada Pemilu 2014 dan Pemilu 2019.

Dia menyebut, Nasdem lemah di wilayah DKI Jakarta dan Banten.

“Pada 2019 hanya dapat 5,1 persen suara (di Jakarta dan Banten), tidak jauh berbeda dengan 2014, (yaitu) 5,6 persen. Kemudian di wilayah Jawa Barat juga wilayah yang lemah bagi Nasdem, bahkan wilayah yang paling lemah dukungan kepada Nasdem, hanya 5 persen di 2019 dan 4,9 persen di 2014,” ujar Deni.

Deni menyampaikan, dukungan kepada Nasdem di Indonesia bagian Timur dari tahun 2014 ke 2019 naik signifikan, dari 7,5 persen menjadi 13,2 persen.

Menurut dia, kenaikan suara Nasdem di Indonesia bagian Timur menjadi kenaikan yang paling tinggi dibandingkan wilayah lain. Deni mengatakan, dalam setahun terakhir, Nasdem tampak dekat dengan Anies.

Dia menduga Nasdem ingin memperkuat suara di wilayah yang selama ini lemah dengan cara mencalonkan Anies Baswedan sebagai capres. “Pencalonan Anies oleh Nasdem saya kira diharapkan bisa memperkuat Nasdem di wilayah yang selama ini mereka lemah,” kata dia.

Deni pun mencoba melihat tren dukungan terhadap Nasdem untuk Pemilu 2024 dalam satu tahun terakhir. SMRC membagi tren kenaikan suara Nasdem di dua wilayah, yakni di Jawa Barat dan Indonesia bagian timur (wilayah selain Jawa dan Sumatera). Pada Mei 2021 lalu, ada 10,8 persen warga di Indonesia bagian Timur yang mendukung Nasdem jika pemilu diadakan saat itu. Satu tahun kemudian, atau lebih tepatnya pada Agustus 2022, suara Nasdem turun tajam di Indonesia bagian timur. “Kemudian dukungan itu menurun menjadi tinggal hanya 3,9 persen pada survei terakhir di Agustus 2022,” ucap Deni.

Sementara itu, dukungan untuk Nasdem di Jawa Barat yang memiliki sangat banyak pemilih tidak naik signifikan. Sejak Mei 2021 sampai Agustus 2022, suara Nasdem hanya naik dari 0,4 persen ke 1,7 persen di wilayah Jawa Barat. “Jadi, kalau selama ini diharapkan ada kenaikan dukungan yang signifikan dari pemilih di Jabar kepada Nasdem, kita belum melihat indikasi yang kuat itu terjadi pada Nasdem, setidaknya sampai survei di Agustus 2022,” kata dia. “Yang kelihatan lebih jelas adalah merosotnya dukungan dari pemilih di Indonesia bagian Timur kepada Nasdem secara signifikan,” ucap Deni.

Pada akhir pemaparan, Manajer Program SMRC Saidiman Ahmad menyampaikan bahwa suara dukungan untuk Nasdem yang diharapkan naik di Jabar tidak meningkat signifikan. Mereka justru kehilangan banyak suara dari pendukung di Indonesia bagian Timur.

“Ini adalah efek dari pencalonan Anies Baswedan oleh Partai Nasdem sebagai capres pada Pemilu 2024,” kata Ahmad.

(BBS, Kom, Bobby/wo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here