Wanita Berpengaruh di Balik Suksesnya Film Korea

0
198 views
Miky Lee

Industri perfilman Korea tengah jadi sorotan dunia, apalagi usai ‘Parasite’ memboyong 4 piala Oscar sekaligus beberapa hari lalu.

Industri film Korea tidak serta merta muncul di permukaaan begitu saja, ada peran banyak pemangku kepentingan untuk memajukan industri kreatif ini. Tidak cuma dari kalangan pegiat perfilman, tapi juga pemerintah, dan pengusaha.

Bicara soal pengusaha, salah satu pengusaha yang punya punya peran kunci dalam memajukan industri layar lebar di Korea adalah Miky Lee atau Mie Kyung Lee. Pemilik jaringan bioskop pertama dan terbesar di Korea, yang kini tengah menyasar pasar global.

Miky Lee merupakan wakil direktur dari grup konglomerat CJ Group, yang membawahi bisnis hiburan di Korea Selatan mulai dari studio film, layar sinema, produksi film dan drama layar kaca, industri musik, sampai kuliner pun ada di bawahnya.

Di Indonesia, bisnis CJ Group bisa dilihat di toko roti Tous Le Jours dan juga rantai bioskop CGV.

CJ Group bahkan terlibat dalam produksi, pembiayaan, perizinan, distribusi, dan bahkan pameran serta penayangan. Upaya Miky ini menciptakan infrastruktur untuk industri hiburan Korea secara keseluruhan, sambil memberikan fondasi bagi para seniman lokal untuk berkembang dan memperlihatkan karya di kancah internasional. Bisa dibilang, Miky merupakan pengusaha dan juru lobi yang andal, bisa mempengaruhi Hollywood untuk menerima film Korea.

“Vice Chairman Miky Lee sendiri adalah penggemar berat film, TV, dan musik. Dia benar-benar seorang penggemar hiburan sejati yang telah menonton begitu banyak film dan berhasil membawa gairah fanatik itu ke dunia bisnis,” ujar Bong Joon-Ho, seperti dikutip dari The Hollywood Reporter.

ika Anda melihat gelaran Oscar beberapa hari lalu, Miky tampil di akhir untuk mengucapkan terima kasih kepada para penonton Korea Selatan. “Ini untuk Anda, penonton Korea Selatan yang selalu memberikan masukan berarti buat kami,” kata Miky.

CJ Corp adalah konglomerasi di bidang ritel dan hiburan yang masih memiliki hubungan darah dengan Grup Samsung meskipun berbeda entitas.

Dream Works pun Utang Budi dengan CJ Group
CJ didirikan pada tahun 1953 oleh kakek Miky, Lee Byung-Chul sebagai anak perusahaan Samsung yang memproduksi gula dan tepung. Selama 40 tahun, CJ mengembangkan bisnis makanan dan minuman yang kemudian berevolusi menjadi perusahaan bioteknologi dan farmasi yang tidak ada hubungannya dengan media.

Berbeda dengan keluarganya, Miky tertarik pada humaniora, belajar bahasa dan linguistik di universitas terkemuka di Korea, Taiwan dan Jepang. Lancar berbahasa Korea, Inggris, Mandarin dan Jepang, ia kemudian mendapatkan gelar master dalam studi Asia di Harvard.

Dari sana, Miky menemukan bakat untuk mengajar dan minat memperkenalkan budaya Korea kepada siswa Korea-Amerika, yang saat itu hidup kebarat-baratan.

Pada tahun 1987, Lee Byung-Chul meninggal dan membagi warisan kepada para ahli warisnya, dengan CJ Group diberikan kepada saudara lelakinya Miky, Lee Jay-Hyun.

Miky yang baru saja lulus dari Harvard, langsung bergabung dengan kantor Samsung America di Fort Lee, New Jersey. Pada akhir 1994, saat ia bekerja di divisi bisnis baru, seorang pengacara yang sering bekerja dengan perusahaan itu menelepon dengan mengajukan proposal investasi.

“Steven Spielberg, David Geffen, dan Jeffrey Katzenberg akan membangun sebuah studio. Apakah Samsung tertarik?” tanya pengacara itu kepada Miky.

Miky langsung membawa proposal DreamWorks kepada pamannya, ketua Samsung Group Lee Kun-Hee. Nyatanya Kun-Hee tertarik, setelah melihat perusahaan raksasa elektronik Asia mengakuisisi perusahaan di Hollywood; Sony membeli Columbia Pictures dan Matsushita divestasi dari MCA/Universal.

Sayang, kesepakatan tidak pernah terwujud,  sebab Samsung lebih memilih untuk fokus pada produksi dan penjualan perangkat keras.

Miky tak patah semangat. Pada tahun 1995, ia berhasil membuat DreamWorks menawarkan kembali kesepakatan tersebut. Miky dikabarkan langsung membawa proposal tersebut ke Lee Jay-Hyun. Jay-Hyun setuju menginvestasikan US$ 300 juta untuk membantu meluncurkan DreamWorks, mengambil 10,8 persen saham dan hak distribusi untuk film-filmnya di Asia (tidak termasuk Jepang).

“Ada dua orang yang berjasa untuk DreamWorks. Yang pertama Paul Allen (investor pertama, dengan US$ 500 juta) dan Miky Lee,” ujar produser film Jeffrey Katzenberg.

Kesepakatan dengan DreamWorks membawa CJ, yang saat itu yang sedang dalam proses berpisah dengan Samsung sebagai entitas independen, sebagai pemain baru dalam industri hiburan.

Lee yang memang penggemar hiburan sejati, serius membawa hobinya tersebut ke dunia bisnis dengan mulai mempromosikan film Korea ke beberapa perusahaan produksi film di Amerika Serikat.

“Saya dulu membawa DVD dan pergi ke Warners, Universal, Fox, siapa pun yang saya punya kesempatan, dan mempromosikan film Korea, film Korea, film Korea. Tidak ada yang mengira film Korea cukup baik,” kata Lee, beberapa tahun sebelum film besutan Park Chan-Wook, Oldboy memenangkan Grand Prix di Cannes 2004, “Sejak saat itu, saya tidak perlu lagi melakukan pembenaran panjang ini.”

Maka ketika Parasite masuk ke industri film di Perancis 15 tahun kemudian, kerja keras Lee bertahun-tahun lalu tentu membuahkan hasil, dan memperlihatkan jika dunia film internasional tidak asing dengan Korea.

Sebelumnya Bong Joon-Ho sempat berada di Cannes pada tahun 2006 ketika ia pertama kali menjalin hubungan dengan distributor Tom Quinn, kemudian dengan Magnolia Pictures. Tahun lalu, Neon Quinn memilih Parasite sebagai salah satu film Cannes yang akan tayang di AS.

(CNBC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here