Ketika Soekarno Bokek dan Ingin Makan Sate Ayam

0
1739
Bung Karno dan pedagang rokok

BarisanBerita.com,- Tak ada sosok seunik Bung Karno, yang begitu berwarna dalam hidupnya. Meski menjadi Presiden, siapa sangka, orang nomor satu di republik ini seringkali tak punya uang alias bokek.

Satu kisah pun tersembut saat sang Presiden mengajak keluarganya berjalan-jalan, sambil menikmati jajanan pinggir jalan.dan makanan favorit si Bung ini adalah sate ayam.

Terkait jajanan kesukaan Bung Karno itu, dikonfirmasi oleh putera sulungnya Guntur Sukarnoputra. Menurut Guntur, untuk sate ayam, di Jakarta Bung Karno memiliki langganan khusus yakni sebuah restoran sate ayam Madura bernama Layar Terkembang. Letaknya berada di kawasan Cilincing, perbatasan antara Bekasi dengan Jakarta.

“Bapak sering mengajak saya mampir di restoran itu…” ungkap Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku.

Soal berburu sate ayam itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh Bung Karno di Jakarta saja. Saat dia tengah berkunjung ke luar kota pun, sang presiden kerap melakukan kebiasaannya itu. Priyatna Abdurrasyid (eks Jaksa Agung) masih ingat, bagaimana setiap ke Bandung, Bung Karno selalu singgah di tukang sate ayam favoritnya yang terletak di ujung Jalan Asia Afrika.

“Dengan menumpang jip dan memakai kaos putih oblong, celana pendek dan sandal, Bung Karno didampingi (Brigjen) Sabur (komandan Resimen Tjakarabirawa) keluar untuk makan sate,” kenang Priyatna dalam otobiografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani (disusun oleh Ramadhan K.H.)

Uniknya, Bung Karno sama sekali tak memegang uang untuk membeli makanan kesukaannya itu. Sebelum pergi, kata Priyatna, selalu dia akan menemui terlebih dahulu Mayor Jenderal Ibrahim Adjie (Panglima Kodam Siliwangi saat itu) di Pakuan. Begitu bertemu perwira tinggi yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu, Bung Karno tanpa ragu-ragu akan meminta uang.

“Djie coba beri aku uang seribu rupiah! Aku mau makan sate nih…”

Tanpa banyak bicara, Adjie pun akan merogoh saku celananya dan langsung memberikan uang ribuan kepada Bung Karno.

Jauh sebelumnya, Bung Karno memang sudah menggandrungi sejenis daging ayam bakar tersebut. Bahkan ketika  usai pengangkatannya sebagai presiden pertama RI pada 18 Agustus 1945, dia “merayakannya” dengan jajan 50 tusuk sate ayam di pinggiran jalan Jakarta.

“Aku jongkok di sana dekat selokan dan kotoran. Kumakan sateku dengan lahap dan inilah seluruh pesta atas pengangkatanku sebagai kepala negara,” ungkap Sukarno seperti dikisahkannya kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia.

(Hstr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here