Kisah Spionase: Seorang Wanita Pemikat untuk Sang Pengkhianat

0
89 views
Honey Trap, cara intelijen menggunakan wanita untuk menjebak target

BarisanBerita.com,- Pemerintah Israel tak pernah mau mengaku telah memiliki senjata nuklir. Negara Yahudi dengan musuh di sekelilingnya itu, berusaha menutup semua rahasia tentang kekuatan nuklirnya.

Namun, Mordechai Vanunu, menjadi orang pertama yang membocorkan rahasia paling vital itu. Dan, hal tersebut tak boleh dibiarkan…

Mordecai Vanunu

Seperti diungkap dalam buku karya Michael Bar-Zohar dan Nissim Mishal, “The Greatest Mission of The Israeli Secret Service”, pemburuan terhadap Mordecai Vanunu pun digelar

MOSSAD, Badan Intelijen Israel, segera bertindak “membungkam” Mordechai Vanunu, dengan mengirim Tim untuk mengejarnya. Mereka lalu  menjebaknya dengan menggunakan seorang perempuan cantik… dan Honey Trap pun digelar.

DIMONA, tempat paling rahasia di Israel. Sebuah lokasi yang disebut-sebut sebagai pusat reaktor nuklir. Dan tak mudah bagi siapapun untuk mendapat akses ke lokasi tersebut. Mereka yang ingin masuk harus melewati pemeriksaan ketat dan berlapis.

Banyak negara asing curiga bahwa Israel sudah memiliki senjata nuklir yang berlokasi di wilayah paling rahasia itu.

Bagi orang yang ingin melamar kerja di Dimona, mereka harus mengisi sejumlah formulir, menjalani interogasi, dan bersedia diperiksa latar belakang kehidupannya.

Pembual

Mordechai Vanunu, seorang teknisi di reaktor nuklir Demona, berpenampilan biasa, dan tak seorang pun bakal mencurigai pria Israel kelahiran Maroko ini. Dia tak memiliki perangai seperti seorang mata-mata yang berniat mengkhianati negaranya.

Vanunu diterima bekerja di Dimona setelah melamar dari sebuah iklan lowongan kerja di surat kabar.

Buku yang mengungkap operasi rahasia Mossad

Lulusan Universitas Ben Gurion ini, dalam catatan MOSSAD, memiliki kecendrungan politik garis keras. Dia bersimpati pada partai kiri Israel dan pro perjuangan Palestina, lalu berakhir dengan bergabung ke Partai Hatechiya yang bersekutu dengan Partai Likud.

Saat kuliah, Vanunu selalu membual ke teman-temannya, bahwa dia tak perlu bekerja untuk mendapat uang. Dia bilang dirinya cukup bermain saham saja untuk menghidupi dirinya.

Suatu hari, tanpa alasan jelas, Vanunu membawa sebuah kamera yang disimpan di dalam tasnya. Jika ada penjaga di Dimona yang menanyakan mengapa dirinya membawa alat tersebut, Vanunu akan menjawab dia lupa meninggalkannya di rumah karena baru saja berlibur ke pantai. Namun pada hari itu, tak ada seorang penjaga pun yang memeriksa tasnya.

Vanunu memotret bagian demi bagian dalam gedung tempat dia bekerja. Dia melakukannya saat jam makan siang, dan sore hari, di mana tak ada orang di dalam Gedung Unit 2, tempatnya berdinas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here